Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 50



Sejak awal pengenalan kampus sampai dua hari aktif kuliah, Ferdi masih saja sering menertawakan nasib Sky.


"Sekelas sama calon kakak ipar dan mantan. Gimana rasanya?" Ya, seperti itulah yang dikatakan Ferdi berulang kali sampai Sky merasa kesal.


Rasanya Sky ingin menjitak kepala Ferdi yang terus menggodanya itu. Mengapa juga bisa kebetulan seperti ini mereka berada dalam satu fakultas yang sama. Ruang geraknya benar-benar terbatas. Dia harus berpura-pura baik di depan calon kakak ipar itu. Rasanya ini sangat menyebalkan. Kalau tidak demi Shena, dia tidak akan mau menghormati Arnav yang masih saja angkuh padanya.


Tapi kini dia bisa melihat hubungan Gita dan Arnav, yang saling diam tapi sebenarnya ingin mendekat.


Sky kini berjalan di koridor kelas sambil menatap layar ponselnya. Tak jauh darinya ada Gita yang sedang membawa setumpuk buku lalu terjatuh dan berserakan di lantai.


Sky menyimpan ponsel di sakunya lalu dia berjongkok dan membantu Gita mengambil buku-buku itu. "Lo pucat banget, lo sakit?" tanya Sky. Gita sekarang juga lebih kurus daripada saat bersamanya dulu. Apa mungkin batin Gita tersiksa karena terus memendam perasaan pada Arnav.


Gita hanya menggelengkan kepalanya. "Makasih." Setelah itu dia berdiri tapi Sky meraih buku-buku itu dan membantu Gita membawa ke ruang dosen.


"Lo kenapa gak balikan aja sama Arnav?" tanya Sky.


Gita menggelengkan kepalanya. "Udah gak ada kesempatan lagi."


"Gue akan coba bantu lo. Gue tahu, kalian masih saling mencintai. Gue tahu persis sifat Arnav yang keras dan gengsinya besar itu. Pasti dia..."


"Gak perlu!" Gita mengambil kembali buku-buku itu dari tangan Sky lalu masuk ke ruang dosen.


"Ya udahlah, yang penting gue udah ada niat baik." Sky memutar langkahnya dan berjalan menuju kantin sambil menunggu kelasnya dimulai.


...***...


Pagi hari itu di sekolah, Shena sangat malas mengikuti gerakan pemanasan yang dilakukan sebelum pelajaran olahraga dimulai. Setelah itu, mereka juga berputar lapangan basket sebanyak lima kali. Rasanya sangat lelah sekali.


Lari Shena semakin pelan. Dia berada di dekat Arion yang sedang membungkukkan badannya.


"Lo kenapa?" tanya Shena. Dia melihat wajah pucat Arion dan keringat dingin membasahi pelipisnya.


Tiba-tiba tubuh Arion ambruk menimpanya. "Rion! Pak, Arion pingsan!" Shena tidak bisa menahan tubuh Arion yang berat hingga membuatnya terjatuh.


"Pingsan?" Pak Sakti segera membopong Arion bersama teman yang lainnya ke UKS. Shena juga mengikutinya.


Setelah membaringkan Arion di atas brankar UKS, Arion sadar dengan sendirinya. Dia memegang kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Kamu kenapa? Belum sarapan?" tanya Pak Sakti sambil membantu mengoles minyak di pelipis Arion.


Arion hanya mengangguk pelan. Sebenarnya bukan hanya itu yang membuatnya pingsan. Tubuhnya semakin lemah dari hari ke hari.


"Shena, kamu belikan sarapan buat Rion. Rion, kamu istirahat saja di UKS, tidak usah ikut pelajaran olahraga dulu."


Arion menganggukkan kepalanya. Setelah Pak Sakti keluar, Arion memanggil Shena agar dia tidak membelikan sarapan untuknya. "Shena, gak usah lo belikan. Lo kembali saja ke lapangan."


Tapi Shena tetap ke kantin dan membelikan sesuatu untuk Arion. Setelah itu, dia kembali ke UKS. Dia berikan sebungkus kantong plastik yang berisi roti dan susu pada Arion.


"Gue kan udah bilang, lo gak perlu beliin gue." Arion masih saja memegang kepalanya sambil duduk di tepi brankar. Meski tubuhnya terasa sangat lemas, dia masih saja menolak pemberian Shena.


"Tapi badan lo lemes, lo harus makan dulu."


"Lo gak perlu kasihan sama gue."


Shena membuang napas kasar. Arion sangat keras kepala. "Sebenarnya lo sakit apa?"


"Bukan urusan lo."


"Iya, memang bukan urusan gue. Tapi manusia itu makhluk sosial dan lo membutuhkan orang lain untuk meringankan beban lo."


"Lo anak orang kaya, gak mungkin merasakan hidup kayak gue." Arion menundukkan pandangannya dan memejamkan matanya. Tubuhnya terasa sangat lemah tapi dia berusaha untuk kuat.


Shena mengambil satu roti dan membukanya. Dia suapi Arion dengan tangannya. "Lo makan. Lo keras kepala kan? Gue juga bisa keras kepala dan paksa lo makan."


"Dihabisin semua." Kemudian Shena keluar dari UKS.


Arion hanya menatap Shena yang keluar dari UKS lalu dia memakan pemberian dari Shena. Dia memang tidak sarapan. Hanya mengandalkan makanan dari kafe di kesehariannya.


"Gue harus kuat. Gak boleh lemah," gumam Arion. Bukan hanya dirinya sendiri yang dia pikirkan tapi juga neneknya yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.


...***...


Sepulang sekolah, Arion mendapat panggilan dari rumah sakit. Seketika wajahnya menegang. Dadanya terasa sesak saat mendengar kabar bahwa kesadaran neneknya semakin menurun. Arion segera berlari ke tempat parkir.


Shena yang melihat Arion berlari segera mengikutinya.


"Shena, lo mau kemana sih buru-buru banget?" tanya Mila.


"Gue penasaran sama Rion. Gue kasihan sama dia."


"Astaga, ngapain lo kepo hidup orang."


Shena tak menimpali kalimat Mila. Dia justru mengambil ponselnya dan menghubungi Sky tapi tidak terjawab. "Mungkin Kak Sky masih ada kelas. Gue sendiri ajalah."


Arion segera menghidupkan motornya lalu melajukan motornya dengan kencang keluar dari sekolah.


Shena masih saja mengikutinya. Dia bisa menangkap kekhawatiran di wajah Arion.


Saat setengah perjalanan, motor Arion berhenti dan mogok. Arion memukul stang motornya karena di saat genting seperti ini motornya justru mogok. Kemudian dia turun dan mencoba memeriksa mesin motornya.


"Kenapa?" Shena berhenti di dekat Arion.


Arion tak menjawabnya, dia mencoba menghidupkan lagi motornya.


"Ayo, gue antar."


Arion menatap Shena. Jika bukan dalam kondisi gawat, dia pasti akan menolak tawaran Shena. Dia menitipkan motornya dahulu di toko kelontong lalu dia menggantikan posisi Shena. "Biar gue saja yang nyetir."


Shena hanya menganggukkan kepalanya lalu memundurkan dirinya. Beberapa saat kemudian motornya segera melaju menuju rumah sakit.


"Memang siapa yang sakit?" tanya Shena tapi tidak dijawab oleh Arion.


Arion fokus dengan jalanan yang dia lalui dan ingin segera sampai di rumah sakit.


Setelah berhenti di rumah sakit, Arion turun dari motor Shena. "Lo pulang aja. Makasih." Kemudian Arion berlari masuk ke dalam rumah sakit.


Shena menjagrak motornya. Dia mengikuti Arion masuk ke dalam rumah sakit.


"Lo kenapa ikut?" tanya Arion saat mereka berada dalam satu lift menuju lantai tiga dimana ruang ICU berada, karena nenek Arion dipindahkan ke ruang ICU setelah kondisinya menurun drastis.


"Ya, gue..." Shena tidak tahu harus berkata apa.


Pintu lift terbuka, Arion segera mempercepat langkah kakinya menuju ruang ICU.


"Nenek..." Arion masuk ke dalam ruangan itu untuk melihat kondisi neneknya.


Shena menghentikan langkahnya di depan ruang itu karena hanya siperbolehkan satu orang untuk masuk ke dalam. "Nenek?"


💕💕💕


.


Like dan komen ya ..