Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 44



"Jadi lo mau belajar renang di rumah Kak Sky?!"


Shena menjauhkan ponselnya mendengar pekikan dari Mila di ujung sana. "Iya. Besok aja kalau mau ke bookstore. Gue antar."


"Iya, bukan masalah itu. Kalau itu sih gampang. Gue gak bisa bayangin lo renang sama Kak Sky. Di kolam renang pribadi lebih leluasa. Ih, mana tubuh Kak Sky menggoda banget. Lo udah siapin baju renang yang sexsoy belum?"


"Otak lo ngeres aja. Di rumahnya juga ada Mamanya."


"Alasan aja lo. Kalau lo mau belajar renang, tuh sama Kak Arnav bisa. Sama Vicky juga bisa."


"Kak Arnav itu bawel banget kalau ajarin, yang ada trauma gue malah nambah. Kalau sama Kak Vicky, gue malu ih. Gue juga jaga jarak sama Kak Vicky sejak dia bilang cinta."


"Oo, jadi kalau sama Kak Sky gak malu? Iya sih, kalau dibandingin sama Vicky sih mending Kak Sky kemana-mana."


"Eh, bukannya gitu. Ya, gak tahulah sekarang gue merasa nyaman aja sama Kak Sky. Kayak ada jaminannya gitu."


"Kalau terjadi apa-apa ada asuransinya ya. Udah diikat sama keluarganya juga." Mila semakin tertawa.


Shena juga tertawa kemudian dia berkaca di cermin sambil memoles wajahnya karena Mila belum juga selesai dengan obrolannya.


"Shena, lo gak mau tes Kak Sky gitu?"


"Tes apaan?"


"Ya, lo bawa aja baju renang yang sexy. Lo pakai kalau orang tuanya gak ada. Lo pancing tuh reaksi Sky."


"Ih, gue takut. Jangan mancing-mancing deh."


"Buat buktiin, benar gak dia udah berubah dan gak turuti hawa nafsunya."


Shena berpikir sejenak. "Tapi kalau Sky kepancing terus lakuin gimana? Gue takut."


"Kali ini lo harus ada persiapan. Kan dulu lo gak ada persiapan apa-apa, makanya lo kalah."


"Maksudnya bawa senjata gitu."


Terdengar tawa keras Mila di ujung sana. "Terserah lo lah. Kalau Kak Sky beneran udah berubah, yakin deh kamu pasti tambah bucin parah. Lo serahin deh tuh semua cinta lo, atau langsung nikah aja biar seru."


"Udah ah. Gue dari tadi dandan gak kelar-kelar dengerin ocehan lo." Shena mematikan panggilan Mila. Kemudian dia melanjutkan memoles wajahnya. Setelah selesai memakai lipglos dan menyisir rambutnya, dia berdiri lalu mencari sesuatu di almarinya.


"Gue kan gak pernah renang, gue jelas gak punya baju renang. Kemarin aja gue pakai celana pendek dan kaos." Shena tersenyum saat menemukan sesuatu di dalam almarinya. "Ini suit underwear yang pemah gue beli online. Belum pernah dipakai. Bawa ajalah, sekalian buat ngerjain Kak Sky." Shena tersenyum kecil lalu dia memasukkan dua baju ganti itu ke dalam tasnya.


Setelah itu dia keluar dari kamar dan berpamitan pada Ibunya. "Ibu, Shena mau ke rumah Kak Sky. Boleh ya? Mau belajar renang, biar trauma Shena bisa hilang."


"Kamu makin dekat sama Sky." Naya mengantar Shena sampai depan pintu. "Tapi ingat satu pesan Ibu, kalau memang kamu sudah merasa cocok sama Sky, langsung disahkan saja. Ibu gak mau hubungan kamu dan Sky nanti jadi diluar batas."


"Iya Ibu. Shena ngerti. Nanti kalau hati Shena udah yakin sama Kak Sky, pasti Shena akan putuskan."


Beberapa saat kemudian, Sky sudah datang menjemput Shena. Dia turun dari motor lalu bersalaman dengan Naya.


"Mau langsung berangkat?" tanya Naya


"Iya, Tante."


"Ya sudah, jangan sampai malam ya."


"Iya."


Setelah sampai di depan rumah Sky, mereka masuk ke dalam rumah secara bersamaan. Bu Ida menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang merekah.


"Shena, akhirnya kamu ke rumah Mama." Dia memeluk Shena lalu mencium kedua pipinya. "Makan dulu yuk. Mama sudah siapkan makanan spesial buat kamu."


"Mama, Shena sudah makan."


Bu Ida tetap menggandeng tangan Shena menuju ruang makan. "Makan siang. Dimajukan gak papa. Mama mau makan siang sama kamu, soalnya satu jam lagi Mama ada arisan sebentar di rumah tetangga."


Shena akhirnya menuruti keinginan Bu Ida. Mereka bertiga kini duduk di meja makan. "Papa masih di kantor. Nanti sore baru pulang." kaya Bu Ida lalu dia mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauk untuk Shena.


"Mama, ini kebanyakan," kata Shena.


"Gak papa kalau gak habis. Tapi kalau habis Mama senang banget." Lalu Bu Ida mengambil nasi juga untuk Sky.


Bu Ida terus mengajak Shena mengobrol. Bahkan tawanya terlihat lepas.


Sky ikut bahagia melihat Mamanya. Sudah lama sejak kepergian Gala, baru kali ini Mamanya bisa tertawa lepas.


Tak terasa makanan di piring Shena telah kosong. Perutnya terasa sangat kenyang dan sekarang rasanya dia malas untuk berenang.


"Perut aku kenyang banget. Sebentar aku mau duduk santai dulu," kata Shena pada Sky.


"Iya, gak papa. Anggap saja ini rumah kamu sendiri."


Kemudian Shena duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Setelah perutnya kenyang, rasa kantuk itu menyerang.


"Padahal aku mau hilangin trauma, tapi kenapa ngantuk gini?"


"Ya udah tidur aja, gak papa." Sky kini duduk di samping Shena. Dia tersenyum menatap Shena yang menguap berulang kali.


"Shena, Mama tinggal dulu ya. Sebentar saja. Jangan pulang dulu, Mama masih mau mengobrol sama kamu."


"Iya, Ma."


Kemudian Bu Ida keluar dari rumah.


Shena berusaha membuka kedua matanya. Ini saatnya dia menjalankan misi. "Kita berenang sekarang aja, Kak. Biar gak sampai sore." Kemudian Shena mengambil tasnya.


"Oke. Kamu ganti baju di toilet dekat kolam renang saja."


Shena menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam toilet. Sedangkan Sky hanya melepas kaosnya lalu menyiapkan handuk untuknya dan Shena. Kemudian dia duduk di pinggir kolam menunggu Shena.


Sky masih tersenyum kecil. Dia tidak menyangka hubungannya dan Shena bisa berjalan sampai sejauh ini.


Beberapa saat kemudian Shena membuka pintu toilet itu. Seketika Sky menatapnya. Dia melebarkan kedua matanya melihat Shena yang berjalan ke arahnya.


"Shena..."


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...