
Pria itu kini menatap Sky. "Nggak perlu. Ini kesalahan gue. Lo gak usah ganti rugi." Sky dan pria itu saling bertatap tajam. Sepertinya mereka pernah bertemu sebelumnya.
Meski demikian Sky tetap mengeluarkan uang dari dompetnya. "Maaf Pak, tidak perlu diperpanjang lagi."
"Kamu kerja yang bener. Udah untung kamu bisa kerja freelance di sini." Setelah menerima uang dari Sky, manager kafe itu masuk ke dalam kafe.
Pria itu hanya bisa mengepalkan tangannya. Iya, sekarang dia baru ingat dengan Sky. "Lo yang menabrak motor gue malam itu kan?"
Sky berusaha mengingat kejadian itu. Jelas saja, dia tidak ingat wajah pengendara motor itu. "Jadi itu lo? Biaya perbaikan motor lo udah cukup atau masih kurang?"
"Arion! Cepat antar ini!"
Arion tak menjawab pertanyaan Sky. Dia kembali masuk ke dalam kafe karena leadernya sudah berteriak memanggilnya.
"Kak Sky pernah nabrak dia?" tanya Shena.
Sky menganggukkan kepalanya. "Waktu aku mabuk, setelah ulang tahun kamu. Waktu itu udah dikasih uang sama Rey. Aku juga gak begitu ingat wajah dia. Untungnya dia gak kenapa-napa. Cuma motornya yang rusaknya lumayan parah."
"Oo, begitu. Aku mau beli minum dulu. Haus." Shena memesan minuman jeruk dingin, kebetulan Arion yang mengantar minuman mereka.
Sky memberinya tips tapi lagi-lagi dia tolak. Kemudian Sky dan Shena duduk di kursi yang berada di pinggir kolam sambil menghabiskan minuman mereka.
Beberapa kali Sky mengamati Arion yang sedang bekerja. Dia bisa menebak jika Arion seumuran dengannya, tapi kehidupannya tidak seberuntung dirinya. Arion harus bekerja di musim liburan seperti ini.
Setelah minuman mereka habis, Sky menggandeng tangan Shena ke pinggir kolam. Sky turun ke dalam kolam terlebih dahulu lalu membantu Shena.
"Kak Sky, aku takut."
"Gak papa. Aku pegangi." Sky menahan pinggang Shena saat Shena sudah masuk ke dalam air.
Shena memejamkan matanya karena kakinya sudah tidak menyentuh lantai. Bahkan kedua tangannya menecengkeram bahu Sky.
"Shena jangan takut. Kamu buka mata kamu. Kamu gak akan tenggelam."
Akhirnya Shena membuka matanya. Kedua tangan Sky melingkar di pinggangnya dan menahan tubuhnya.
"Tangan kamu jangan dilepas." Shena masih berpegangan pada bahu Sky.
"Iya. Kamu ikuti gerakan aku. Pelan-pelan." Sky menggerakkan kakinya dan semakin membawa Shena ke tengah kolam.
"Kak Sky banyak yang lihat. Ih, aku malu." Shena menyembunyikan wajahnya yang memerah karena beberapa orang menatap mereka sambil tersenyum.
"Ya udah, besok kita latihan di rumah aku saja ya."
"Di rumah Kak Sky ada kolam renang?"
"Ada tapi gak begitu luas." Sky kembali mengajak Shena menepi lalu duduk di pinggir kolam.
"Kalau di rumah aku gak ada kolam remang, adanya taman bunga kesukaan Ibu."
"Kalau mau, besok aku jemput. Mumpung masih libur." Ya, dengan begitu ada satu kesempatan lagi untuk mendekati Shena.
Shena mengangguk cepat. "Iya, nanti kalau sudah hari aktif pasti aku gak sempat. Pokoknya aku harus bisa segera hilangkan rasa trauma ini."
Satu tangan Sky kini kembali menggenggam tangan Shena. "Kalau sama aku, apa masih trauma?"
Shena hanya tersenyum lalu menggeleng kecil.
Arion berhenti sesaat melihat Sky dan Shena. Dia tidak mungkin bisa seperti mereka. Menikmati masa remaja yang indah dengan seseorang yang dia cintai. Dia harus bekerja di setiap harinya, bahkan di saat tubuhnya terasa lemah, dia harus kuat.
Kemudian Arion kembali ke kafe. Pekerjaannya masih banyak. Tidak perlu memikirkan kebahagiaan semu yang tidak mungkin dia dapatkan.
...***...
"Iya, Kak." Mila bisa menebak apa yang akan dikatakan Ferdi kali ini. Setelah beberapa bulan menjadikannya teman berbagi cerita dan bercanda, pasti Ferdi akan meminta kejelasan hubungan mereka berdua.
"Udah beberapa bulan ini kita dekat. Rasanya aku nyaman banget sama kamu. Gimana kalau kita pacaran saja?"
"Hmm, Kak, aku..." Mila menghentikan perkataannya sesaat. "Aku kan pernah cerita sama Kak Ferdi kalau aku suka sama Vicky."
"Tapi Vicky suka sama Shena. Iya kan?"
Mila menganggukkan kepalanya. "Iya, dan sampai sekarang aku belum bisa melupakan perasaan aku. Aku beneran ingin lupakan perasaan aku ini, tapi belum bisa juga."
"Gak papa." Satu tangan Ferdi menggenggam tangan Mila. "Kita coba jalani saja dulu, siapa tahu kamu bisa lupakan perasaan kamu. Kamu tenang aja, aku orangnya sesabar ini."
Seketika Mila tertawa. Ferdi memang selalu bisa membuatnya bahagia. "Penilaian sabar dinilai diri sendiri ya. Tapi benar juga sih, apa yang Kak Ferdi bilang. Ngapain aku perjuangin orang yang gak pernah berjuang buat aku. Jadi aku coba berjuang saja untuk bisa terima Kak Ferdi masuk ke dalam hati aku."
Senyum di bibir Ferdi semakin mengembang. Dia tidak pernah sebahagia ini. Akhirnya status jomblonya telah berakhir sejak saat itu.
"Makasih..." Ferdi mencubit kedua pipi Shena.
Setelah bianglala itu berhenti, mereka berdua turun dan berjalan menuju kolam renang untuk mencari Sky dan Shena.
"Nah, itu mereka." Setelah puas mengobrol dan berganti pakaian, Shena dan Sky memang menunggu Ferdi di kawasan kolam renang agar mereka tidak saling mencari.
"Darimana aja? Lama banget?" tanya Sky. Dia kini membawa tas Shena di tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menggandeng tangan Shena.
"Kita ya berduaanlah. Gue kan juga gak mau kalah kayak kalian berdua. Kita udah jadian nih sekarang," pamer Ferdi. Dia kini menggandeng tangan Mila.
"Akhirnya kalian jadian juga. Selamat ya," kata Shena memberi selamat pada mereka berdua.
"Ini baru uji coba."
"Bisa aja pakai uji coba segala."
Kemudian mereka berempat berjalan menuju pintu keluar karena hari sudah sore.
"Shena, beli oleh-oleh buat Ibu kamu dulu yuk!" Sky mampir dulu di tempat penjualan oleh-oleh bersama Shena.
Mereka berdua membeli beberapa oleh-oleh. Setelah itu mereka berjalan menuju tempat parkir.
"Kita langsung pulang saja ya. Besok aku jemput kamu kalau kamu mau belajar renang."
Shena menganggukkan kepalanya. "Nanti aku chat."
"Oke." Sky memasangkan helm di kepala Shena. Setelah itu dia memakai helmnya dan meletakkan tas Shena di dekat jok depannya.
Beberapa saat kemudian motor Sky pergi meninggalkan tempat parkir taman hiburan itu. Kedua tangan Shena sudah memeluk pinggang Sky dari belakang.
"Makasih ya, hari ini aku seneng banget."
"Sama-sama." Kemudian satu tangan Sky mengusap tangan Shena yang ada di perutnya. "Shena, aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Aku akan selalu berusaha untuk membahagiakan kamu."
Senyum di bibir Shena semakin mengembang. Dia kini menempelkan dagunya di bahu Sky. Apakah suatu saat nanti dia dan Sky akan segera menyatu dalam suatu ikatan yang resmi?
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...