
"Mengapa selalu Shena yang jadi korban karena masalah gue." Arnav menghisap rokoknya hingga asap rokok itu mengebul. Hari itu dia membolos di jam pelajaran yang pertama. Dia kecewa dengan dirinya sendiri. Seorang kakak yang harusnya bisa menjaga adiknya tapi dia justru membuat adiknya masuk dalam semua masalahnya.
"Gue merasa gagal jadi kakak."
"Apa yang kamu lakukan!"
Mendengar suara keras itu, seketika Arnav mematikan rokoknya. "Tidak, Pak. Saya..."
"Kamu merokok?" Pak Budi selaku guru BK menjewer telinga Arnav. "Kamu sudah kelas dua belas tapi masih bandel. Ikut Bapak!" Pak Budi menarik Arnav ke lapangan upacara dan menyuruhnya berdiri di depan tiang bendera.
"Kamu berdiri di sini sambil hormat pada bendera sampai jam istirahat!"
Arnav melakukan apa yang diperintahkan Pak Budi. Dia kini mendongak sambil hormat pada bendera yang berkibar walau terik matahari semakin terasa panas.
Hingga bel istirahat akhirnya berbunyi dan beberapa temannya sudah keluar dari kelas.
Gita berlari menghampiri Arnav yang masih berdiri di lapangan upacara. "Kenapa kamu dihukum? Ini minuman buat kamu?"
Arnav hanya menatap Gita tanpa mengambil sebotol air mineral yang terulur di depannya. Meskipun tenggorokannya terasa sangat kering dan sepertinya dia sudah dehidrasi.
"Lo ngapain ngerokok sendiri di gudang." Rendi datang dan mengambil minuman dari tangan Gita. "Udah lo minum aja. Gak usah gengsi. Ntar lo pingsan karena dehidrasi."
Arnav akhirnya membuka tutup botol itu lalu segera meminumnya sampai habis.
Gita hanya bisa tersenyum menatap Arnav. Jujur saja dia masih belum bisa move on dari Arnav.
"Kak, kenapa bisa dihukum?" Shena juga menghampiri kakaknya dan bergelayut di lengannya. "Kak Arnav ngerokok dan bolos ya. Nanti aku kasih tahu Ayah kalau Kak Arnav di sekolah masih bandel."
Arnav mengusap puncak kepala Shena lalu dia mengajaknya ke ruang BK. Ada sesuatu yang ingin Arnav bicarakan dengan Bu Ratna, salah satu guru BK juga.
"Pak, hukuman saya sudah selesai," kata Arnav.
"Lain kali jangan diulangi lagi." Kemudian Pak Budi keluar dari ruang BK.
"Kak mau ngapain?" tanya Shena sambil berbisik.
Tapi Arnav menyuruh Shena duduk di sampingnya di hadapan Bu Ratna.
"Arnav, Shena, ada apa?"
"Bu Nurul pasti sudah tahu tentang masalah yang menimpa Shena. Minggu lalu Ayah juga sudah ke sekolah membicarakan masalah ini."
"Iya, saya sudah tahu dan kami tidak mempermasalahkan karena kami tahu Shena korban."
Shena hanya terdiam sambil menundukkan pandangannya.
"Tapi teman-teman Shena sudah tahu masalah ini dan mereka terus membully Shena. Saya takut ini akan berpengaruh pada psikis Shena karena saat ini Shena sangat butuh support."
"Iya, saya mengerti. Saya akan mengedukasi anak-anak agar tidak memberi sanksi sosial pada korban. Seharusnya kita mensuport agar korban tidak berbuat nekad." Kemudian Bu Ratna menggenggam tangan Shena. "Shena, saya yakin kamu bisa melalui ini semua."
Shena hanya menganggukkan kepalanya. Dia sekarang mengerti, harusnya dia berani speak up sejak awal bukan menyembunyikannya.
...***...
Sepulang sekolah hari itu, Shena sengaja menunggu Mila di depan kelas. "Mila." Dia kini berjalan di samping Mila. "Mila, maafin gue." Shena menahan tangan Mila agar berhenti.
Seketika Mila memeluk tubuh Shena. "Gue yang harusnya minta maaf sama lo. Tapi gue tetap kesal lo gak pernah cerita apapun sama gue, bahkan lo gak percaya sama gue."
"Iya. Gue benar-benar terpuruk dan gak bisa cerita sama siapapun. Mulai sekarang kita temenan lagi ya?"
Mila melepas pelukannya sambil menganggukkan kepalanya. Semua temannya juga sudah tidak ada yang membicarakan Shena. Mereka kini bisa melangkah bebas menuju tempat parkir.
"Shena!" panggil Arnav sambil berlari menghampiri Shena.
"Iya, Kak."
"Aku ada bimbel hari ini. Kamu pulang sama Vicky ya."
"Yah, Kak Vicky udah pulang."
"Pulang sama gue aja yuk. Gue juga mau ke rumah lo. Kita ngobrol banyak," kata Mila.
Shena menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Iya, boleh ya Kak?"
"Iya, hati-hati di jalan. Jangan ngebut."
"Siap, Kak."
"Kok berhenti?"
"Waduh, kayaknya mogok nih."
Shena turun dari motor, begitu juga dengan Mila. Mila berusaha menghidupkan motornya lagi tapi tidak bisa.
"Kenapa motornya?" Ada dua pria yang berseragam putih abu-abu berhenti di dekat motor Mila. Seketika Shena mengalihkan pandangannya saat melihat Sky yang berhenti.
"Eh, loh, kok kakak ini." Mila masih ingat jika dia adalah Ferdi yang tanpa sengaja bertemu di rumah sakit lalu satunya adalah Sky yang punya masalah dengan Shena.
Ferdi kini berjongkok dan mengecek mesin motor Mila dengan Sky.
Sedangkan Mila dan Shena hanya bisik-bisik. "Itu Sky kan?"
"Iya, kok lo kenal sama temannya?"
"Gue pernah bertemu di rumah sakit. Temannya Kak Rey juga."
"Ooo..."
"Bensinnya masih penuh," kata Ferdi setelah mengecek tanki bensin. Lalu dia kembali berjongkok dan melihat oli mesin. "Astaga, olinya kering. Nih tinggal setetes. Pantes mati. Bisa kena mesin ini."
Mila hanya tertawa. "Iya kah?"
"Emang udah berapa bulan gak ganti oli?" tanya Ferdi.
"Gak tahu, lupa. Bulan kemarin mau ganti oli tapi uangnya gue buat beli mie gacoan sama mixue."
Ferdi semakin tertawa mendengar pernyataan Mila. "Aduh, parah. Ayo, gue isiin biar lo bisa beli mie sama es krim lagi. Lo naik aja. Gue dorong dari belakang. Soalnya bengkel masih ada di depan sana."
Mila akhirnya naik ke atas motornya. "Shena ayo."
Shena menggelengkan kepalanya. "Gue jalan aja. Lo duluan, gak papa."
Kemudian motor Mila didorong Ferdi dengan kakinya. Sedangkan Shena berjalan pelan di belakang mereka.
Sky kini menuntun motornya di samping Shena. "Aku bonceng yuk."
Shena menggelengkan kepalanya.
"Ya udah naik sini."
Shena menggelengkan kepalanya lagi. Dia hanya mendekap dirinya sendiri saat angin kencang tiba-tiba menerpanya. Langit juga mulai gelap. Selalu saja hujan turun di saat yang tidak tepat.
"Shena, hujan. Ayo naik!"
Hujan sudah turun dengan deras. Mau tidak mau dia naik ke boncengan Sky. Beberapa saat kemudian mereka sampai di bengkel. Mereka berdua segera turun dari motor dan berteduh di bengkel.
"Seragam kamu basah. Pakai jaket aku, biar gak dingin." Sky akan melepas jaketnya yang tidak terlalu basah tapi Shena menolaknya.
"Gak perlu!" Kemudian Shena duduk di sebelah Mila dan masih mendekap dirinya sendiri karena hujan semakin deras.
"Ini kena mesinnya karena sampai kehabisan oli," kata karyawan bengkel itu. "Kalau ditunggu bisa lama."
"Ya udah, saya tinggal saja, Pak. Biar dirawat inap. Besok biar diambil Ayah sekalian bayar," kata Mila seolah dia tidak bersalah sama sekali.
Ferdi hanya tertawa mendengar Mila. "Gak dimarahin sama Ayah?"
"Ya dikit." Mila masih saja tertawa.
"Ya udah kalau gitu gue antar ke rumah. Nunggu ujan agak reda ya," kata Ferdi pada Mila.
Sedangkan Shena kini menatap ponselnya yang justru lowbath.
"Aku antar pulang..."
.
💕💕💕
.
Like dan komen ya...