
Shena tersenyum saat menatap chat di ponsel Sky dari Vicky. Dia tidak mengira, sebentar lagi Vicky akan menikah dan mempunyai anak. Semua kejadian begitu cepat dan singkat.
"Jadi nanti sore akan ke rumah Mila. Semoga semua lancar."
Sky mengangguk sambil tersenyum. Dia sendiri juga tidak menyangka kisah Vicky akan berakhir seperti ini.
"Jadi Vicky udah berhasil bujuk Tante Nike?" tanya Mila. Dia ikut duduk di samping Shena.
"Iya, barusan chat. Bu Nike ada di rumah Vicky dan sore ke rumah lo."
"Kalau gitu gue mau bilang sama Papa dulu. Biar Papa gak jantungan dan tahan emosi." Mila kini berdiri lalu menghubungi Ferdi.
"Mila, apa gak lebih baik nunggu Kak Vicky dan kedua orang tuanya saja."
"Shena, gue putri kesayangannya. Tenang aja, Papa gak mungkin marah kalau gue kasih tahu, justru kalau tiba-tiba Vicky dan kedua orang tuanya datang, Papa pasti marah." Setelah berhasil menghubungi Ferdi, Mila pergi dari tempat itu.
"Ya udah, terserah Mila saja. Yang terpenting Bu Nike sudah mau menerima Vicky. Siap-siap aja besok kita datang ke acara nikahan Vicky." Sky menggandeng tangan Shena dan mengajaknya berjalan menuju tempat parkir. Karena acara ospek hari itu telah usai, dan Shena sudah resmi menjadi mahasiswa di kampus itu.
"Enaknya dibeliin kado apa ya?" tanya Shena. Dia kini mulai berpikir kado apa yang cocok untuk Vicky dan Nike.
"Do'a aja. Mereka kan udah aku kasih paket bulan madu."
Seketika Shena tertawa. "Bulan madu dulu, nikahnya belakangan."
"Sayang, sebentar ya aku ambil mobil dulu, kamu tunggu di sini saja. Parkirnya masih penuh soalnya."
Shena menganggukkan kepalanya lalu dia berdiri di depan pos satpam.
"Shena."
Shena menoleh sumber suara itu. Ada Ervin yang kini mendekatinya. Shena hanya terdiam dan membuang pandangannya.
"Selamat ya, aku gak nyangka ternyata kamu sudah menikah dan akan punya anak."
"Iya." Shena hanya menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi perutnya terasa mual saat berada di dekat Ervin. Entah kenapa bisa seperti itu? Apa karena Ervin membawa aura negatif? Shena menutup mulutnya dan menjauh dari Ervin.
"Shena, kenapa?" Sky turun dari mobil dan merengkuh bahu Shena.
"Mual." Kemudian Shena berjalan cepat menuju toilet.
"Ervin, jangan pernah dekati Shena."
"Gue cuma mau kasih selamat. Lo tenang saja."
Sky berdengus kesal lalu dia berjalan jenjang masuk ke dalam toilet. Dia tidak peduli jika itu toilet perempuan. Sekarang dia tahan rambut Shena sambil mengusap punggung Shena.
Setelah selesai, Shena membersih bibirnya lalu keluar dari toilet. "Kamu jadi pucat gini. Sekarang kita pulang saja, lalu makan dulu dan istirahat."
"Gak ikut ke rumah Mila?" tanya Shena sambil masuk ke dalam mobil.
"Nanti kita video call saja. Yang terpenting sekarang kesehatan kamu. Kamu istirahat saja di rumah." Sebelum menjalankan mobilnya, Sky mengusap perut Shena sesaat kemudian dia melajukan mobilnya menuju rumahnya.
...***...
Setelah sampai di rumahnya, Mila segera menemui Papanya yang baru saja pulang.
"Papa, Mila mau bicara sesuatu." Mila menarik tangan Papanya agar duduk sampingnya.
"Apa?" Pak Nantok kini duduk di sebelah putrinya.
"Nanti kedua orang tua Vicky mau ke rumah ini."
"Mau melamar kamu? Bukannya kamu sama Ferdi?" tanya Mamanya Mila yang terkejut mendengar perkataan Mila.
"Bukan, Mila. Tapi Tante Nike."
Kedua orang tuanya semakin terkejut. Mereka semakin mendekatkan dirinya pada Mila. "Kok bisa Nike?"
"Terus?"
"Ternyata Tante Nike sudah diberi obat dan terjadilah hal yang tidak diinginkan lalu Tante Nike hamil."
"Hamil? Anak Vicky?"
"Iya, Papa jangan marah ya. Kasihan Tante Nike. Dia sampai punya pikiran buat aborsi. Untung Vicky bisa gagalin. Vicky mau bertanggung jawab."
Pak Nantok menghela napas panjang lalu duduk bersandar. "Vicky baru jadi mahasiswa. Papa ragu dia bisa bertanggung jawab."
"Papa, meskipun baru maba tapi Vicky itu orangnya dewasa banget kok, pasti dia bisa tanggung jawab. Pokoknya Papa jangan marahi mereka berdua. Ini yang dinamakan jodoh. Mereka sudah ditakdirkan bersama."
"Papa akan tetap marah sama Nike karena Nike udah sembunyiin masalah ini dari Papa sampai mau aborsi. Aborsi itu bahaya."
"Iya, gak papa kalau Papa marah soal itu, yang penting Papa merestui mereka," kata Mila. Dia kini bediri dan akan berjalan tapi berhenti karena panggilan Mamanya.
"Mila, kalau gitu kamu bantu Mama masak buat makan malam sama keluarga baru."
"Iya, Ma."
...***...
Malam hari itu, kedua orang tua Vicky akan berangkat ke rumah Mila. Nike masih saja merasa takut, pasti kakaknya akan marah padanya.
"Kamu takut? Kamu pucat gini." Vicky mengambilkan air minum untuk Nike karena wajah Nike terlihat tegang dan pucat. "Kamu minum dulu, kamu jangan takut. Nanti biar aku saja yang dimarahi Kakak kamu."
Kemudian Nike meminum air putih itu hingga habis.
"Berangkat sekarang, biar masalahnya cepat selesai." Vicky menggandeng tangan Nike dan mengajaknya berjalan menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Papanya.
Vicky dan Nike kini duduk di jok belakang. Beberapa saat kemudian mobil itu melaju menuju rumah Mila.
Nike masih saja cemas. Tanpa sadar dia terus menggenggam tangan Vicky.
Vicky tersenyum melihat genggaman tangan Nike. Ada rasa bahagia yang muncul di hatinya. Sepertinya dia memang sudah jatuh cinta dengan Nike. Dia semakin mengeratkan genggaman tangannya.
Seketika Nike menatap Vicky. Pandangan mereka terpaut beberapa saat. Lalu mereka sama-sama tersenyum kecil. Perlahan hati Nike mulai terbuka untuk Vicky.
Beberapa saat kemudian mobil keluarga Vicky sudah berhenti di depan rumah Mila. Mereka turun dari mobil dan berjalan menuju pintu yang sudah terbuka itu.
Nike hanya menundukkan pandangannya saat Kakaknya menyambut kedatangannya.
"Silakan masuk."
Kedua orang tua Vicky masuk dan duduk di sofa ruang tamu dengan Vicky dan Nike juga.
"Maaf, kedatangan kami sangat mendadak," kata Virza.
"Iya, tidak apa-apa. Sebentar saya panggil istri saya dulu." Nantok memanggil istrinya kemudian mereka keluar sambil membawa minuman dan jamuan lainnya.
"Wah, sepertinya sudah disiapkan. Tidak perlu repot-repot seperti ini."
Mila juga meletakkan beberapa jamuan di atas meja. "Selamat ya Tante Nike." Mila justru memeluk tantenya beberapa saat.
"Kamu tahu darimana? Jangan-jangan kamu udah bilang sama Papa kamu."
Mila hanya tersenyum lalu dia masuk ke dalam rumah.
"Maaf, Kak. Aku..."
"Biar kita saja yang berbicara," kata Laras.
"Kami ke sini ingin meminta maaf atas perbuatan putra kami pada Nike dan putra kami akan bertanggung jawab atas perbuatannya," kata Virza.
Nike menatap kedua orang tua Vicky lalu beralih menatap Kakaknya. "Kak, sebenarnya ini kesalahan aku. Aku yang menggoda Vicky terlebih dahulu. Kalau mau marah, marah saja sama aku. Jangan marah sama Vicky."