
"Tapi anak kami kembar, Dok." Mendengar hal itu Sky semakin khawatir. Dia takut terjadi apa-apa pada Shena.
"Tidak apa-apa, pasti bisa melahirkan secara normal karena sudah pembukaan lima dan kepala bayi sudah masuk panggul, kita tidak bisa melakukan operasi. Suster segera pindahkan ke ruang bersalin."
"Baik, Dok."
Sky terus menggenggam tangan Shena saat Shena dipindahkan ke ruang bersalin.
"Kak Sky, aku takut."
"Jangan takut, ada aku. Kamu pasti bisa." Satu tangan Sky terus memeluk bahu Shena. Dia mengusap rambut Shena yang sudah basah karena keringat. "Maafkan aku udah buat kamu khawatir dan buat kamu kayak gini."
"Yang penting Kak Sky gak kenapa-napa."
Seketika Sky menciumi pipi Shena. Untunglah dia bertemu Shena di IGD, dia pasti akan semakin menyesal jika tidak menemani Shena berjuang.
"Shena." Naya masuk ke dalam ruang bersalin dan langsung memeluk putrinya.
"Ibu, maafin Shena kalau ada salah."
"Iya, sayang. Ibu yakin kamu bisa. Ibu selalu berdo'a buat kamu. Jangan takut, Sky akan selalu menemani kamu."
Shena menganggukkan kepalanya. Perutnya kembali mulas dan sakit. Dia semakin mencengkeram lengan Sky.
"Sakit lagi? Sebentar aku lepas jaket dulu." Sky melepas jaket yang terkena darah Ferdi. Sebenarnya dia ingin memastikan kondisi Ferdi tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan Shena.
"Kamu darimana Sky? Shena sudah hamil tua harusnya kamu jangan kemana-mana dan buat dia khawatir kayak gini," kata Arsen. Dia sangat takut kejadian yang menimpa Naya dulu terulang lagi pada Shena.
"Iya, maaf Ayah. Tadi aku kejar Rafka dan Ferdi kecelakaan juga."
"Ayah, udah. Memang sudah jalannya kayak gini. Shena, kamu pasti bisa sayang." Naya memeluk Shena lagi dan mengusap punggungnya.
"Sakit, Bu. Apa sakitnya memang seperti ini?"
"Iya, tapi prosesnya pasti cepat karena persalinan spontan seperti Ibu dulu. Sebentar lagi pasti sudah pembukaan sempurna."
Rasa mulas itu semakin menjadi. Rasanya Shena sudah tidak tahan lagi. Dia semakin mencakar lengan Sky, bahkan rasanya bayi yang ada di dalam kandungan terasa terdorong secara otomatis dari dalam.
"Kak Sky, sakit."
"Pembukaan sudah sempurna." Dokter mulai memberi aba-aba pada Shena. Kini hanya Sky yang menemani Shena di dalam ruangan bersalin itu.
Sky terus menggenggam tangan Shena. Dia tidak peduli dengan gigitan Shena berulang kali di tangannya saat Shena berusaha mendorong anak pertamanya.
"Kak Sky, sulit." Shena menarik napas dalam, dia sudah berusaha mengerahkan tenaganya tapi yang terlihat baru rambutnya saja.
"Sedikit lagi sayang. Ayo, kamu pasti bisa. Sudah terlihat rambutnya." Hati Sky bagai terhimpit sesuatu, terasa sesak saat melihat perjuangan Shena. Baru satu dan itu sangat sulit, bagaimana dengan bayi yang kedua dengan sisa tenaga Shena yang semakin menipis.
Sky kini mengusap rambut Shena yang semakin basah karena keringat. "Sayang, ayo sekali lagi." Mata Sky sudah memerah, harusnya Shena tidak merasakan ini.
Shena berusaha sekuat tenaga dan akhirnya anak pertama mereka lahir dengan tangis yang menggema.
"Sayang, kamu berhasil. Kamu berjuang lagi ya. Tinggal satu lagi."
Shena seperti tidak mendengar kalimat Sky. Dia kini melihat Antares yang ada di dadanya.
"Ares, selamat datang sayang." Mata Sky mengembun melihat anak pertamanya yang sekarang sudah ada dalam dekapan Shena.
Beberapa saat kemudian rasa mulas itu kembali muncul. Suster segera mengambil bayi pertama agar Shena kembali fokus dengan perjuangannya.
"Kak Sky, sakit."
Kali ini Sky tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat wajah Shena yang sangat pucat. Dia masih berusaha mengerahkan sisa tenaganya untuk melahirkan Adara ke dunia ini.
"Kak Sky, aku gak sanggup lagi." Kedua mata Shena semakin sayu.
"Sayang, kamu pasti bisa. Tinggal sedikit lagi."
"Suster, bantu dorong dari perut!" Perintah Dokter karena Shena berhenti mengejan setelah kehabisan tenaga.
Shena semakin melemah. Dia sudah tidak ada tenaga lagi untuk mengejan.
"Shena, ayo kamu pasti bisa. Shena..." Air mata telah berurai di pipi Sky saat Shena sudah merespon lagi ucapannya. "Sayang, ayo." Sky menepuk pipi Shena agat Shena tetap sadar.
Kini dua suster berusaha mendorong bayi itu dari perut.
"Sayang, ayo. Sedikit lagi Adara akan lahir." Sky mendekatkan bibirnya di telinga Shena agat Shena bisa mendengar ucapannya.
"Aku gak bisa," kata Shena dengan lirih. Bahkan kedua mata itu semakin terpejam.
"Bisa! Kamu pasti bisa!" Sky semakin menggenggam tangan Shena. "Nanti kita berempat berkumpul bersama. Ayo sayang, kasihan Adara terlalu lama di dalam."
Shena kini membuka kedua matanya. Di sisa tenaganya yang terakhir, Shena berusaha mendorong Adara agar terlahir ke dunia ini.
Sky semakin mengeratkan genggaman tangannya. Dia semakin mengerti perjuangan seorang ibu melahirkan sangat besar dan bertaruh nyawa. Selama ini dia belum bisa membahagiakan mamanya. Dia berharap semoga anak-anaknya kelak, tidak seperti dirinya yang hanya merepotkan orang tuanya.
Air mata itu semakin deras mengalir saat Shena akhirnya berhasil melahirkan Adara. Tangis Adara pecah dan menggema di ruang bersalin itu.
Seketika Sky memeluk tubuh Shena yang lemah. "Terima kasih sayang. Perjuangan kamu sangat luar biasa."
Shena tak menyahutinya bahkan tidak ada senyum maupun tangis di wajahnya.
"Shena..." Sky menggoyang tubuh Shena agar Shena bisa meresponnya. "Shena bangun sayang."
"Dokter, pasien pendarahan." Dokter dan suster dalam ruangan itu semakin panik. Mereka segera melakukan tindakan.
"Maaf, Anda tunggu diluar dulu selama kita melakukan tindakan."
"Tapi saya mau menemani istri saya."
"Maaf Pak, silakan tunggu diluar."
Sky menciumi pipi Shena yang sudah tidak sadarkan diri. "Cepat sadar sayang. Kamu belum melihat wajah Ares sama Ara." Kemudian Sky keluar dari ruangan itu dengan lemas.
Dia duduk bersama kedua orang tuanya dan juga kedua orang tua Shena. Air matanya masih saja tak bisa berhenti mengalir di pipinya.
"Shena kenapa?"
"Shena pendarahan, dia tidak sadarkan diri."
"Ya ampun Shena."
"Shena pasti gak papa. Tenangkan diri kamu." Ida memeluk Sky yang sedang kalut.
"Ma, ini salah aku yang gak bisa jaga Shena. Seandainya tadi aku di rumah saja, pasti gak akan seperti ini."
"Jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Ini sudah takdir."
"Kenapa harus Shena yang merasakan ini semua, kenapa gak aku saja. Shena berjuang mati-matian melahirkan si kembar. Sedangkan aku gak bisa berbuat apa-apa." Sky mengusap air matanya asal. Dia sangat takut kehilangan Shena.
"Sky, jangan sedih. Kedua anak kamu juga butuh kasih sayang kamu. Kamu sudah cium mereka? Kamu sudah peluk mereka?"
Sky menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa tanpa Shena."
"Sssttt, Shena pasti gak papa."
Beberapa saat kemudian Dokter yang menangani Shena keluar.
Seketika Sky berdiri dan mendekati Dokter itu. "Bagaimana kondisi istri saya?"
Dokter itu terlihat sedih dan terdiam beberapa saat menatap Sky.
💞💞💞
Like dan komen ya...