Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 75



"Shena, aku butuh pelukan kamu..."


Shena tersenyum menatap Sky. Kemudian dia naik ke atas brankar di sisi kanan Sky agar tidak menyenggol bekas operasi Sky di bahu sebelah kiri. "Kak Sky sekarang punya aku. Aku mengerti apa yang Kak Sky rasakan saat ini." Satu tangannya kini memeluk Sky.


"Semua harapan aku hancur dalam sekejap. Pertandingan itu sudah bertahun-tahun aku nantikan tapi..." Sky menghentikan kalimatnya. Dadanya semakin terasa sesak. Kebahagiaan yang sudah dia nantikan hancur dalam sekejap.


"Kak Sky kalau ingin menangis, gak papa. Semua ini pasti berat untuk Kak Sky."


Air mata itu akhirnya lolos di pipi Sky. Bukan hanya raganya yang terasa sangat sakit tapi juga hatinya. "Aku sangat bahagia saat aku lolos dan berhasil terpilih mengikuti pertandingan di Jepang. Kebahagiaan aku semakin lengkap saat kamu mau menikah denganku dan kita akan ke Jepang sama-sama. Aku sudah berandai, setelah pertandingan selesai, aku ingin menghabiskan waktu bersama kamu di Jepang, jalan-jalan sekaligus bulan madu. Tiket sudah aku beli, hotel sudah aku pesan, tapi ternyata semua gagal."


"Nanti pasti ada kesempatan lagi, Kak. Kak Sky masih bisa bertanding."


Sky menggelengkan kepalanya. "Aku sudah berjanji ini pertandingan terakhir aku, karena aku ingin fokus dengan keluarga kecil kita." Sky menarik napas panjang lalu menghembuskannya. "Aku harus mengikhlaskan ini. Tapi kamu gak kecewa kan sama aku? Kamu mau menikah dengan aku karena ingin ikut ke Jepang dan ternyata gagal."


Shena memegang pipi Sky lalu menghapus air matanya. "Kak Sky, yang terpenting sekarang kita sudah bersama. Kita masih punya banyak waktu untuk bulan madu. Sekarang Kak Sky harus fokus dengan kesembuhan Kak Sky."


"Shena, tangan kiri aku masih gak bisa gerak dan mungkin masa penyembuhannya akan lama. Baru beberapa hari menikah saja aku sudah merepotkan kamu. Harusnya aku bahagiakan kamu tapi aku justru membuat kamu sedih."


"Kak Sky jangan bilang seperti itu. Saat aku memutuskan untuk menikah dengan Kak Sky itu berarti aku siap menemani dalam kondisi seperti apapun. Ya, aku memang belum dewasa banget. Sebenarnya aku juga bingung cara merawat Kak Sky kayak gimana."


Akhirnya senyum kecil mengembang di bibir Sky. "Tangan kanan aku gak papa. Aku masih bisa ngapa-ngapain. Kamu cukup bantu aku ganti baju saja." Sky menggoda Shena dengan kedipan matanya.


"Ih, Kak Sky dalam kondisi kayak gini masih aja godain."


Sky mencium singkat bibir Shena. "Baru juga malam pertama, udah gak ada malam kedua."


"Nanti aja nunggu sembuh."


"Yang sakit itu bahu dan tangan. Itunya masih normal."


"Ih, Kak Sky gak boleh banyak gerak."


"Yang gerak itu pinggulnya."


Shena semakin tertawa. Lalu dia mencubit pipi Sky. "Kak Sky jangan sedih lagi ya. Meskipun satu impian Kak Sku gagal, tapi impian Kak Sky yang lain pasti akan terwujud."


Sky menganggukkan kepalanya. "Iya, salah satunya yang sudah terwujud adalah menikah dengan kamu. Tapi masih ada satu yang aku sesali, harusnya Vicky yang menggantikan aku."


"Kak Vicky?" Shena kini menatap serius Sky.


"Iya, awalnya Vicky menjadi pemain cadangan di tim aku dan akan ikut ke Jepang, tapi tiba-tiba dia diganti sama Vino yang tidak bisa apa-apa. Otomatis sekarang yang menggantikan posisi aku pasti Vino."


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Karena uang. Pemilik klub yang baru menerima uang suap. Aku sempat marah sama Pak Remon, tapi Pak Remon juga tidak punya kuasa."


"Jadi seperti itu? Apa mungkin yang mencelakai Kak Sky adalah Vino?" tanya Shena. Sepertinya masalah ini sudah bisa terbaca.


Sky terdiam beberapa saat. "Iya, sepertinya. Tapi kita tidak bisa asal tuduh. Ya, namanya hidup pasti ada saja orang yang tidak suka. Meskipun aku juga sangat kecewa dengan semua ini."


"Jangan tatap aku kayak gini, nanti aku jadi ingin makan kamu."


"Ih, emang aku makanan. Ya udah Kak Sky sekarang tidur saja ya. Aku tidur di sofa saja, biar gak ganggu." Shena akan turun tapi tangan Sky masih saja menahan Shena.


"Tidur di sini saja."


"Sempit, Kak."


"Iya, aku belum bisa tidur miring. Maaf ya, kamu jadi tidur di sofa."


"Gak papa, Kak." Shena mendekatkan dirinya lalu mencium bibir Sky. "Cepat membaik ya."


"Kok cuma bentar. Kurang lama."


Shena kembali mendekatkan dirinya. Kali ini tangan kanan Sky menahan tengkuk leher Shena. Hingga ciuman bergelora itu terpaut cukup lama.


...***...


Malam hari itu, Arnav dan teman-temannya mencegat Vino. Mereka menghadang laju motor Vino saat akan pulang ke rumah.


Vino membuka penutup helmnya dan mengedarkan pandangannya pada Arnav serta anak buahnya. "Apa mau kalian? Gue gak ada urusan sama kalian!"


Arnav turun dari motornya lalu menarik paksa Vino hingga terjatuh dari motor. "Lo pikir, lo akan lolos dan bisa ikut pertandingan itu?! Lo ngaku gak! Kalau lo yang buat Sky celaka!" bentak Arnav dengan keras di depan wajah Vino.


Vino menggelengkan kepalanya. "Bukan! Kalau lo gak punya bukti, lo jangan asal tuduh gue!"


Arnav semakin mencengkeram krah jaket Vino. "Jangan beraninya main belakang! Kalau berani lo lawan gue sekarang juga! Satu lawan satu!"


"Lo akan menyesal lakuin ini sama gue!"


Arnav tertawa dengan keras di depan wajah Vino. "Menyesal? Lo tahu lawan lo siapa?! Lo gak akan bisa sembunyikan kesalahan lo!"


Vino berusaha melepas tangan Arnav tapi tidak bisa. Arnav semakin menarik Vino ke tengah jalan. "Lo ngaku gak! Kalau lo gak mau ngaku, lo akan merasakan apa yang dirasakan Sky!"


Di ujung jalan ada mobil yang melaju dengan kencang ke arah Vino.


"Bukan gue pelakunya!"


"Lo masih gak mau mengaku!"


Mobil itu semakin dekat. Vino berusaha melepas sergapan Arnav tapi tidak bisa. Saat mobil itu tinggal beberapa centi lagi Arnav mendorong Vino hingga terjatuh.


"Iya, gue yang lakuin itu!"


💞💞💞


Like dan komen yg banyak dong... 😪