Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 64



"Shena, gimana? Kalau aku sih yes." Sky menatap Shena sambil tersenyum. Tentu saja dia tidak akan melewatkan kesempatan yang ada.


Shena memutar bola matanya. Dia sendiri bingung harus mengambil keputusan seperti apa. "Aku bingung. Ya, aku memang ingin ikut Kak Sky tapi kalau harus menikah..."


"Kamu masih ragu sama aku?"


Shena menggelengkan kepalanya. "Bukannya aku ragu, tapi aku masih mau kuliah dan aku juga masih belum siap jadi ibu rumah tangga. Aku gak bisa apa-apa. Terus gimana kalau nanti aku hamil dan punya anak. Aku benar-benar belum siap."


Sky semakin tersenyum. Dia usap puncak kepala Shena. "Semua itu memang butuh proses. Aku sendiri juga belum tentu bisa jadi suami yang sempurna buat kamu. Tapi kalau kamu belum siap gak papa, gak usah dipaksa. Kamu bisa lihat aku secara live di tv."


Shena semakin dilema. Dia ingin ikut ke Jepang, tapi jika harus menikah secepat ini dia belum siap. "Aku pikirin lagi deh."


"Oke, aku juga gak akan maksa kamu tapi yang jelas aku pasti akan bahagia jika segera menikah dengan kamu. Ya udah, aku pulang dulu ya. Aku langsung pamitan dulu sama orang tua kamu." Sky berdiri dan menuju ruang tengah untuk berpamitan pada kedua orang tua Shena.


Shena masih tak bersemangat. Dia harus segera menentukan pilihan.


"Udah, jangan terlalu dipikirkan," kata Sky lagi.


Shena mengantar Sky sampai di teras rumahnya. "Hati-hati."


"Iya." Kemudian Sky memutar motornya lalu pergi dari rumah Shena.


Shena menghela napas panjang lalu masuk ke dalam rumahnya. Dia berjalan dengan lemas menuju kamarnya.


"Jangan sampai salah ambil keputusan nanti menyesal," kata Arsen yang sedang duduk sambil menonton televisi.


Shena tak menyahuti perkataan Ayahnya.


"Enak dong Shena, sekalian bulan madu ke Jepang. Kapan lagi?" Naya juga semakin mengompori putrinya.


Shena tak menyahuti, dia kini masuk ke dalam kamar dan merebahkan dirinya. "Aku bingung!"


...***...


Malam itu, Shena benar-benar tak bisa tidur. Dia sudah berusaha memejamkan matanya tapi dia masih saja kepikiran dengan keputusannya. Kemudian Shena bangun dan duduk di dekat meja belajarnya. Dia meraih buku harian yang dulu sempat dia robek.


"Sky..."


Aku pasti bahagia jika segera menikah dengan kamu...


Shena menghela napas panjang lalu memejamkan matanya beberapa saat. Dia dalami semua perasaan dan keinginannya. Dia buang jauh-jauh rasa takut dan keraguannya. Lalu dia membuka kedua matanya dan menghubungi Sky.


"Shena, belum tidur?" Sky mengalihkan panggilan itu menjadi panggilan video.


Shena menerima panggilan itu dan menatap Sky lewat layar ponselnya. "Aku gak bisa tidur."


"Udah, gak usah dipikirin. Nanti aku pasti ajak kamu ke Jepang setelah menikah."


"Hmm," Shena kembali berdiri lalu merebahkan dirinya di ranjang. "Iya, aku mau menikah."


"Hem? Serius?"


Shena menganggukkan kepalanya. "Kalau kita memang udah cocok dan saling mencintai ya buat apa ditunda lagi. Kedua orang tua kita juga sudah merestui dan ingin kita segera menikah. Tapi Kak Sky jangan marah kalau aku gak bisa apa-apa."


"Tentu saja. Nanti kita sama-sama belajar. Jadi kapan? Besok?"


"Ih, gak besok juga. Nunggu aku selesai ujian ya."


"Yah, masih lama sekitar tujuh minggu lagi. Benar kamu bisa konsen ujian? Kalau menurut aku sih, sekarang aja jadi kamu bisa fokus ujian."


"Ih, itu maunya Kak Sky."


"Memang kamu gak mau?"


Shena hanya tersenyum. "Ya mau. Tuh kan aku jadi mikir lagi."


Sky masih saja tertawa. "Lucu ya kamu. Ya udah nanti saja selesai ujian. Sekarang kamu fokus dengan ujian kamu. Semoga kamu dapat nilai yang bagus."


"Enam minggu ini kamu berhenti dulu mikirin aku. Gak papa. Aku mau bantu kamu belajar tapi nilai akademik aku kacau. Aku juga mau fokus dengan latihan."


"Hmm, Kak Sky memang beneran udah siap jadi suami?"


"Iya, antara siap dan nggak. Kalau kita sudah sah itu berarti hidup kamu sudah menjadi tanggung jawab aku. Setelah menikah sama kamu, aku akan bekerja. Gak main-main lagi."


Shena hanya tersenyum menatap Sky lewat layar ponsel itu. Kemudian dia memiringkan dirinya dan meletakkan ponselnya.


"Udah malam, sekarang kamu tidur."


Shena menganggukkan kepalanya. Dia mulai memejamkan matanya dan akhirnya tertidur.


...***...


Hari-hari berlalu dengan cepat, Shena telah belajar dengan maksimal untuk menghadapi ujian akhir nasionalnya tanpa gangguan dari Sky, karena Sky juga tengah sibuk mempersiapkan pertandingannya.


Semangat ujiannya.


Shena tersenyum menatap pesan dari calon suaminya itu. Iya, calon suami. Tidak pernah terbayangkan dia akan menikah secepat itu. Itulah definisi tutup buku buka terop yang sebenarnya, tapi baik Shena maupun Sky tidak ingin merayakan pesta pernikahan karena setelah itu Shena masih ingin kuliah. Dia hanya ingin teman dekatnya saja yang mengetahui pernikahan itu.


Setelah hari terakhir ujian telah selesai, Shena merasa lega, satu beban akhirnya telah terlewati.


"Shena, aku duluan ya. Hari ini aku mau jalan sama Kak Ferdi," kata Mila yang buru-buru meninggalkan Shena.


"Shena, katanya ditunggu Kak Sky di rumah," kata Arion. "Tadi Kak Sky WA kamu tapi centang satu."


"Iya, hp aku lowbat. Ditunggu di rumah siapa?"


"Rumah Kak Shena. Aku duluan ya, nanti aku menyusul ke sana." Arion segera melangkahkan kakinya mendahului Shena.


"Shena..."


Langkah kaki Shena berhenti mendengar panggilan itu. "Kak Vicky."


"Aku dengar kamu mau menikah. Selamat ya." Vicky mengulurkan tangannya memberi selamat pada Shena.


Shena membalas uluran tangan itu dan bersalaman dengan Vicky. "Makasih."


Kemudian mereka berdua duduk sebentar di samping sekolah.


"Rencana Kak Vicky mau lanjut kuliah dimana?" tanya Shena.


"Ya dimana lagi? Jelas satu kampus sama kamu dan Arnav. Gak ada yang mampu menyusul Rey keluar negeri."


Shena tersenyum kecil. "Iya, Kak Rey memang hebat."


"Shena, aku tahu hubungan kita tidak bisa seperti dulu lagi. Tapi kalau kamu butuh bantuan atau sekadar butuh teman curhat, aku masih ada untuk kamu."


Shena menganggukkan kepalanya. "Ya kan kita tetap sepupuan. Semoga Kak Vicky segera menemukan seseorang yang bisa membuat Kak Vicky bahagia."


Tiba-tiba saja Vicky memeluk Shena. Kali ini dia harus melenyapkan semua perasaannya. Meski terkadang rasa sakit itu masih saja menghimpit dadanya. "Semoga kamu selalu bahagia."


"Iya Kak." Shena merasakan pelukan Vicky sesaat. Baginya, pelukan itu adalah pelukan hangat seorang kakak yang akan melepas adiknya menuju kebahagiaan.


Beberapa saat kemudian Vicky melepas pelukannya dan mengusap rambut Shena. "Kamu sekarang pulang ya. Sky nungguin kamu di rumah."


Shena mengangguk lalu dia berdiri dan berjalan pergi.


Vicky menatap nanar punggung Shena yang kian menjauh. Air mata itu sudah berusaha dia tahan tapi tetap saja mengembun di ujung matanya. Vicky berusaha tersenyum palsu sambil menyusut air mata agar tidak sampai lolos. "Semoga kamu selalu bahagia, Shena..."


💞💞💞


Vicky sadboy kayak bapaknya dulu.. 🥲