Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 9



Sky menghentikan motornya di dekat teman-temannya yang sedang berkumpul di depan basecamp. Dia memukul stang berulang kali melampiaskan rasa kesalnya.


"Kenapa lo? Keliatan emosi banget," tanya Ferdi.


"Gita selingkuh sama Arnav."


"Wah, gila! Bisa-bisanya lo diselingkuhin. Pasti ini ulah Arnav," kata Rafka. Dia selalu saja meperkeruh perasaan Sky.


Sky hanya terdiam. Sebenarnya dia masih belum terima jika Gita akhirnya bersama Arnav. "Kalian ikut gue ke basecamp Phoenix. Gue akan buat perhitungan dengan Arnav!" Kemudian Sky melajukan motornya dengan kencang menuju basecamp Phoenix.


Setelah dia sampai di depan basecamp Phoenix, dia menekan klaksonnya dan berteriak. "Mana Arnav! Suruh dia keluar! Gue tantang dia balapan malam ini juga!"


Mendengar suara teriakan Sky, Arnav keluar dari basecamp dan menghampirinya.


"Mau apa lo?" tanya Arnav.


"Lo sengaja rebut Gita dari gue!"


Arnav mengepalkan kedua tangannya. Inilah yang sedari tadi ada dipikirannya. Pasti Sky mengiranya telah merebut Gita. Hancur sudah harga dirinya. "Gue gak pernah rebut Gita dari lo! Gue udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Gita."


"Kenapa lo putusin dia? Ambil aja Gita. Gue juga gak akan pertahanin cewek yang udah lo sentuh."


Arnav menyergap krah jaket Sky lalu memukul pipinya. "Jaga mulut lo! Gue gak pernah sentuh Gita."


"Ck, pelukan, pegangan tangan, ciuman. Apa itu kalau bukan skinship!"


Arnav melepas sergapannya, darimana Sky bisa tahu itu semua? Apa ada mata-mata di sekolahnya?


"Daripada gue hajar lo dan buang tenaga, kita balapan sekarang!" Sky mendorong Arnav agar menjauh lalu dia memutar motornya dan melajukan motornya dengan kencang yang diikuti anak buahnya.


Jiwa muda Arnav jelas tertantang. Dia memakai helmnya lalu naik ke atas motor dan beberapa saat kemudian motor Arnav melaju dengan kencang.


Vicky dan teman lainnya juga mengikuti Arnav.


Mereka kini menghentikan motornya di jalanan sekitar pergudangan yang sering mereka gunakan untuk beradu balap liar.


Sky dan Arnav menghentikan motornya sejajar di garis start.


"Kali ini gue pasti akan kalahin lo!" kata Sky lalu dia menutup kaca helmnya.


Arnav sudah fokus menatap jalanan malam hari itu. Meski sebenarnya dia ragu, haruskah dia memenangkan balapan ini atau mengalah saja, karena dia takut Sky dan anak buahnya akan dendam dengannya. Dia tidak ingin ada korban lagi.


Setelah hitungan ketiga, motor Arnav dan Sky melaju dengan kencang. Mereka saling menyalip. Keduanya memang sang raja jalanan. Meskipun salah satu ada yang menang pasti hanya selisih tipis.


Arnav berhasil mendahului Sky tapi Sky semakin menambah kecepatan motornya, tepat saat berada di samping Arnav, dia menendang body samping motor Arnav hingga Arnav kehilangan kendali dan terjatuh.


"Aww!!!" tangan kirinya terasa sangat sakit karena sikunya terbentur aspal.


"Arnav!" Vicky dan Rendi segera membantu Arnav. Mereka menarik motor Arnav yang menindih kaki Arnav lalu membantu Arnav berdiri.


"Lo gak papa kan?"


"Tangan gue sakit banget."


Sky dan anak buahnya berkumpul dan menertawakan Arnav. "Payah!"


"Lo curang!"


"Yang penting balapan kali ini gue pemenangnya! Lo ingat, masih ada balasan yang lebih besar daripada ini!" Kemudian Sky memutar motornya dan meninggalkan Arnav.


"Shits!" Arnav mengumpat kesal. Dia mencoba menggerakkan tangannya tapi terasa sangat sakit.


"Kayaknya tangan lo terkilir, kita ke rumah sakit aja," kata Vicky. Lalu dia menarik Arnav agar naik ke boncengannya. "Ren, urus motor Arnav sama yang lain. Biar gue antar ke rumah sakit."


"Iya."


Beberapa saat kemudian motor Vicky segera melaju menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan Arnav hanya terdiam. Dia tidak pernah menyangka, hidupnya sekarang akan serumit ini. Masalah silih berganti menghampirinya sejak dia kenal dengan Sky.


Setelah sampai di rumah sakit, Dokter segera memeriksa tangan Sky. "Hanya terkilir. Saya balut selama tiga hari, dan jangan digerakkan sama sekali."


Beberapa saat kemudian, kedua orang tua Arnav menjemputnya. Ayahnya hanya bertanya keadaan Arnav pada Dokter, tapi sangat terlihat dari sorot matanya jika Ayahnya sedang marah.


Setelah selesai mengurus administrasi dan menebus obat, Arnav pulang ke rumah bersama kedua orang tuanya. Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan di antara mereka tapi Arnav sudah punya firasat buruk.


Beberapa saat kemudian mobil Arsen sudah berhenti di depan rumahnya. Mereka turun dan masuk ke dalam rumah.


"Jangan masuk kamar dulu, Ayah mau bicara."


Arnav hanya mengangguk lalu dia duduk di sofa ruang tengah.


"Kamu balapan lagi?" tanya Arsen dengan suara kerasnya.


Arnav menganggukkan kepalanya.


"Mulai sekarang kamu gak boleh bawa motor lagi! Ini baru tangan kamu yang terluka! Bagaimana kalau lebih parah dari ini!"


Emosi Arnav semakin meluap. Seharian ini masalahnya terus berdatangan secara bertubi-tubi. "Ayah dulu juga suka balapan, mengapa aku dilarang?"


"Arnav, Ayah tidak mau kamu mengikuti jejak Ayah karena balapan itu bahaya! Kamu harus berubah, baru kamu boleh pakai motor kamu lagi."


Arnav berdiri lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya tanpa berkata apapun.


Arsen membuang napas kasar lalu duduk sambil memijat pelipisnya. "Ternyata seperti ini rasanya jadi orang tua. Kepala aku sampai pusing merasakan Arnav yang bebal. Sudah dibilang jangan balapan masih aja balapan. Untung gak luka parah."


Naya mengusap punggung suaminya. "Sabar, Mas. Arnav kan sangat persis kayak Ayahnya."


Arsen merengkuh bahu Naya dan mengusap lengannya. "Iya, tapi aku akan tetap beri Arnav hukuman. Biarkan dia tidak pakai motor untuk beberapa minggu sampai dia bisa mengubah kebiasaannya."


Sedangkan di kamar, Arnav kini duduk di dekat jendela sambil menatap gelapnya malam hari itu yang bertabur bintang.


"Kak Arnav katanya kecelakaan." Shena masuk ke dalam kamar kakaknya tanpa mengetuk pintu.


"Iya, cuma terkilir."


"Aduh, pasti sakit. Lagian Kak Arnav kenapa sih balapan terus. Udah jatuh, terus kena marah Ayah." Shena melihat tangan kakaknya yang dibalut perban coklat.


"Ini menyangkut harga diri."


Shena kini duduk di samping kakaknya. "Idih, harga diri. Untuk menebus harga diri gak harus dengan balapan. Eh, Kak, aku tadi lihat sw nya Kak Gita sedang galau. Kak Arnav putus sama Kak Gita?"


Arnav hanya menghela napas panjang lalu dia kembali menatap langit malam itu. "Iya, Gita cuma jadiin aku selingkuhannya."


"Kak Gita selingkuh?"


"Lebih tepatnya aku yang jadi selingkuhannya. Sebelumnya Gita udah punya pacar dan bodohnya aku gak tahu itu semua."


Shena kini menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya yang di sebelah kanan sambil mendengarkan cerita kakaknya.


"Aku selalu nasihati kamu agar cari cowok yang bener dan gak mainin perasaan kamu ternyata aku sendiri yang dipermainkan. Aku ngira cuma cowok yang bisa main api, ternyata cewek lebih ahli."


Tidak ada jawaban dari Shena.


Arnav menatap wajah adiknya yang menempel di dadanya. "Astaga malah tidur. Bangun? Jangan tidur di kamar aku." Arnav menggeser dirinya yang membuat Shena hampir terjatuh.


"Bahu Kak Arnav ada obat tidurnya. Aku jadi ngantuk." Kemudian Shena berdiri dan keluar dari kamar Arnav.


"Baru curhat sedikit aja udah molor."


.


💕💕💕


.


Like dan komen ya...