Love From The Sky

Love From The Sky
BAB 80



"Jadi lo pulang malam ini? Ya udah gak papa, biarkan saja kamarnya gak perlu minta uang kembali. Iya, hati-hati." Kemudian Sky mematikan panggilan dari Vicky yang memberinya kabar bahwa malam itu akan pulang.


"Kak Vicky udah mau pulang? Kok cepat?"


"Iya, katanya gak enak sendirian. Temannya gak ada yang stay di sana."


Shena hanya mengangguk lalu dia merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Sayang, lupa?"


Shena hanya menggeleng lalu memiringkan dirinya membelakangi Sky.


"Ya udah, met tidur ya." Satu usapan mendarat di puncak kepala Shena. Lalu tidak ada suara lagi dari Sky.


Tiba-tiba saja Shena membalikkan badannya dan memeluk lengan kanan Sky. "Kak Sky marah?"


"Aku gak marah. Masih bisa lain waktu."


Shena kini duduk dan melepas piyama dasternya. "Aku cuma godain Kak Sky."


Kedua mata Sky hampir tidak berkedip melihat tubuh Shena yang hanya terbalut lingerie berwarna putih yang sangat transparant itu. "Kamu pintar banget godain aku." Tangan kanan Sky sudah singgah di dada Shena yang terlihat jelas tanpa memakai apapun.


"Iya, aku suka godain Kak Sky." Lalu Shena naik ke atas pinggang Sky. "Kalau aku salah dan gak nurut, Kak Sky gak papa marah sama aku."


Sky hanya tersenyum, satu tangannya sudah tidak lepas dari dada Shena.


"Aku masih bisa tahan marah dan kesal tapi aku akan marah banget kalau kamu dekat sama cowok lain, dekat dalam artian beda. Kalau sekedar mengobrol gak papa."


"Posesif banget."


"Sama, kayak kamu posesif ke aku yang dikit-dikit cemburu gitu."


Shena hanya tersenyum, dia semakin menggoda Sky dengan gerak pinggulnya. Kedua tangannya membuka satu per satu kancing piyama Sky lalu melepas piyama itu. Kemudian dia usap dada bidang itu.


"Bekas operasinya udah kering."


"Iya, lima bulan lagi operasi lagi untuk pengambilan pen."


Shena menautkan alisnya. "Aduh, pasti sakit."


"Iya, pasti sakit setelah dioperasi."


"Semoga gak terjadi lagi kejadian kayak gitu. Cukup satu kali ini saja."


Sky menganggukkan kepalanya lalu dia menarik lengan Shena agar mendekat. Dia cium bibir itu. Awalnya lembut tapi lama kelamaan semakin menuntut. Mereka saling me lu mat dan menghisap. Kedua tangan Sky semakin mengeksplor dada Shena. Dia re mas lalu singgah di kedua puncaknya.


Shena melepas ciumannya. Dia selalu terbuai saat Sky menyentuh tubuhnya. Suaranya sudah tidak bisa dia tahan. Dia semakin membusungkan dadanya agar Sky bisa memainkannya lebih bebas.


Temali lingerie itu sudah terlepas. Sky semakin menyentuh setiap inci tubuh Shena. Dia menarik lengan Shena lagi agar mendekat. Dia telusuri leher Shena yang berada di atasnya dengan bibirnya lalu turun ke bawah dan berhenti di dada Shena. Sky menjelajah buah sintal itu dengan lidahnya lalu berhenti di salah satu puncaknya lalu menghisapnya dengan kuat.


"Ah, Kak." Shena semakin mendekap kepala Sky. Suaranya semakin keras saat tangan Sky membelai intinya yang telah basah.


Sentuhan Sky membuat Shena semakin ingin melakukan lebih. Dia kini membuka celana Sky, dia juga melempar lingerie dari tubuhnya.


Sky tersenyum melihat aksi Shena kali ini. "Come on, baby."


Awalnya Shena bersemangat tapi kemudian berhenti. Padahal tinggal sedikit lagi tubuh mereka akan menyatu. "Kak, aku takut."


"Kamu duduki aja."


"Gimana?" Shena berusaha mengarahkannya tapi masih ragu.


Sky menahan pinggul Shena lalu menghentaknya dari bawah.


"Aw, Kak."


"Udah, tinggal kamu gerakkan saja." Sky kini memegang kedua tangan Shena.


Awalnya gerakan Shena pelan tapi ternyata rasanya berbeda saat dia menguasai gerakan.


"Yang cepat gak papa."


Akhirnya Shena menambah kecepatan gerakannya. Kedua tangannya bertumpu pada pa ha Sky.


"Sayang, ini enak banget." Sky menangkup kedua buah sintal Shena yang ikut bergetar seiring gerakan Shena. Suara mereka saling bersahutan, sudah tidak takut lagi jika Arion mendengarnya karena sudah dipasang alat peredam suara dan beberapa busa peredam di sisi dinding kamar itu.


Keringat sudah membasahi tubuh Shena, rasanya memang melelahkan tapi nikmat. "Kak Sky, aku..." Napas Shena semakin tersenggal. Sky tahu, pasti sebentar lagi Shena akan sampai pada puncaknya. Sky menambah gerakannya dari bawah hingga suara kulit yang saling bertemu itu terdengar keras.


"Kak..." Shena semakin mengapit Sky dan menggoyangkan pinggulnya saat sudah sampai pelepasannya. Lalu dia melemas di dada Sky. "Capek."


Sky mengusap punggung Shena yang basah karena keringat itu. "Punya aku masih lama."


"Capek di atas."


"Ya udah kamu turun. Ganti posisi."


Shena akhirnya turun dari tubuh Sky dan merebahkan dirinya. Sedangkan Sky turun dari ranjang lalu menarik kaki Shena ke tepi ranjang. Dia angkat satu kaki Shena di bahu kanannya yang tidak sakit. Lalu dia kembali memasukinya lagi.


Tenaga Sky masih penuh. Dia memompa Shena dengan cepat, hingga tubuh Shena ikut naik turun seiring gerakan Sky.


Shena hanya bisa merintih mendapat serangan dari Sky. Bahkan dengan cepat dia sudah mencapai pelepasannya yang kedua.


"Kak..."


"Iya, sayang. Sebentar lagi. Kamu nikmati saja." Satu tangan Sky mengusap titik sensitif Shena yang membuat suara Shena semakin keras. Bahkan kedua tangan Shena kini menarik sprei.


"Kak Sky, jarinya jangan disitu. Aku gak tahan."


"Setelah kamu keluar ketiga kalinya, baru aku sudahi."


Shena semakin mencengkeram sprei. Perutnya terasa sangat penuh. Apalagi saat merasakan tangan Sky semakin gencar memancingnya. Akhirnya dia sampai di pelepasannya lagi dan lebih dahsyat dari sebelumnya.


Saat itu juga, Sky menumpahkan semua hasratnya di titik terdalam milik Shena. Setelah itu dia melepas dirinya dan tersenyum melihat pinggir sprei yang basah. Benar-benar pergulatan yang sengit.


"Basah semua."


"Capek. Kak Sky ga nas banget." Shena masih mengatur napasnya yang tersenggal.


Sedangkan Sky kini mengambil handuk yang sudah dia basahi dengan air hangat lalu membersihkan inti Shena. "Iya, puas banget malam ini dengan durasi yang pas."


"Pas? Ih, lama."


"Iya, besok lagi ya." Sky mengembalikan handuk itu ke kamar mandi lalu dia membantu Shena memakai piyamanya. "Sekarang kamu tidur. Capek banget kelihatannya."


"Iya, capek banget." Shena sudah menguap beberapa kali. Kedua matanya sudah sangat berat untuk terbuka.


Setelah memakai piyamanya, Sky juga merebahkan dirinya di samping Shena lalu memiringkan dirinya ke sisi kanan. "Semoga cepat jadi." Satu tangan Sky kini mengusap perut Shena.


Shena hanya tersenyum. "Iya."


"Sayang, kalau kita tinggal di rumah sendiri gimana menurut kamu?"


Mendengarkan pertanyaan itu, Shena membuka kedua matanya lagi. "Rumah sendiri? Ya, gak papa. Aku malah senang."


"Oke, kalau begitu besok aku akan cari rumah buat kita, yang sedang saja. Yang terpenting kita nyaman tinggal di dalamnya."


Shena menganggukkan kepalanya dan semakin mengeratkan pelukannya. "Yang penting kita terus bersama."


"Iya, itu pasti."


💞💞💞


Like dan komen ya...


Masih pada di sini gak? Sampai mereka punya anak ya.. 🤭