JULIA

JULIA
97. mungkin itu karma



Beruntung Brian hari ini tidak sibuk, akhirnya Brian menyetujui ajakan Galang untuk ke markas. Lagi pula, semenjak memegang kendali perusahaan keluarganya di umur yang 21 tahun ini, membuat Brian menjadi jarang berkumpul dan bertemu dengan teman-temannya.


"Ya sudah ayo. Tapi tunggu sebentar ya, gua kasih tahu hal ini dulu kepada asisten gue biar nggak dicari." Akhirnya Brian beranjak dari posisi duduknya kemudian langsung menghubungi asistennya untuk mengabari bahwa dirinya sedang keluar dan butuh waktu untuk istirahat. Setelah mengatakan hal itu Brian dan Galang akhirnya meninggalkan gedung yang menjulang tinggi tersebut.


***


Di posisi lain juga, saat ini nyonya Ratih sedang berada di butiknya, ternyata Meta Putri yang begitu disayanginya pergi ke butik untuk meminta uang ke bagian kasir. Bahkan tak tanggung-tanggung ia meminta uang sebesar 100 juta. Tentu saja, hal ini membuat nyonya Ratih geram terhadap putrinya. 100 juta yang diambil oleh Meta begitu saja, itu adalah tonggak atau pondasi untuk tetap membuat butik itu stabil. Apalagi akhir-akhir ini pelanggan butiknya menjadi sedikit, keuntungan juga menjadi sedikit.


"Kenapa kalian menyerahkan uang itu kepada Meta.!!" Teriak nyonya Ratih kepada para karyawannya.


Karyawan-karyawan itu juga telah mengatakan bahwa Meta, putri dari sang pemilik butik memaksa dan meminta uang sebesar itu. Jika tidak diberikan, meta mengancam akan merusak semua barang-barang yang ada di butik tersebut. Ataupun mungkin, mereka yang akan disiksa oleh Meta karena tidak menuruti keinginannya. Para karyawan yang mengetahui bahwa Meta adalah anak kesayangan dari nyonya Ratih tentu saja tidak bisa menolak.


"Maafkan kami Bu. kami tidak bisa menolak permintaan Nona Meta. Apalagi Nona Meta mengancam akan merusak semua barang-barang yang ada di butik kita. " Ujar Sari selaku asisten dari nyonya Ratih di butik itu. Nyonya Ratih yang memang sudah memahami karakter Sang Putri kesayangan itu, langsung terduduk tak berdaya dan memijit-mijit kepalanya.


(Tuhan kenapa jadi seperti ini sih..!! Aku benar-benar tidak habis pikir. Lihat saja Meta Mama akan memberikan kamu pelajaran.) Batin nyonya Ratih lagi.


Ternyata, nasehat yang diberikan oleh suaminya agar tidak terlalu memanjakan putri-putri kembarnya itu berdampak sangat besar. dan lihatlah, Putri yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang dan harta yang berlimpah, tega membuat butiknya hampir gulung tikar dan bahkan rugi dalam saat ini.


"Ya sudah, dengarkan kalian semua. lain kali kalau meta datang lagi untuk meminta uang ke butik, jangan dikasih tetapi hubungi saya terlebih dahulu." ujar nyonya Ratih kembali mengingatkan.


" dan Sebaiknya kalian semua kembali bekerja dan kerjakan pekerjaan kalian masing-masing paham." Ujar nyonya Ratih lagi kepada karyawan-karyawan butiknya.


Walaupun nyonya Ratih marah saat ini, tetapi yang salah bukanlah para karyawan, melainkan yang salah adalah dirinya yang salah mendidik anak. jadi ia tidak berhak marah-marah dan melimpahkan kesalahan itu kepada para karyawannya, sementara kehadiran mereka hanya sekedar menjalankan tugas saja.


"Baik Bu Kami mengerti." Setelah mengatakan hal tersebut mereka semua pun langsung bubar dari ruangan nyonya Ratih dan kembali ke pekerjaan masing-masing.


Sementara nyonya Ratih, di dalam ruangannya yang sudah menjadi sepi itu, tiba-tiba ia meneteskan air matanya. Ia menangis karena tak kuasa menghadapi permasalahan seperti ini. apalagi butik yang sudah ia bangun dari nol akan terancam bangkrut akibat ulah dari putrinya. Belum lagi pendapatan butik yang menurun dan tidak mampu mengembalikan modal yang dikeluarkan.


"Ya Tuhan, kenapa bisa sesakit ini. Mungkin ini adalah karma untukku karena telah menelantarkan Putri kandungku dan juga membangkang kepada suamiku. Hiks.." ujar nyonya Ratih lagi.


"Di mana Raka, Kenapa anak ini tidak mau menjawab telepon dari mamanya sendiri. Apakah mereka baik-baik saja..?? Atau jangan-jangan mereka masih marah kepadaku. Astaga..!! Aku memang sudah benar-benar kelewatan. Sebaiknya aku segera ke apartemennya saja, mumpung masih jam 09.00 malam pasti mereka sudah berada di apartemen." Ujar nyonya Ratih lagi. Akhirnya nyonya Ratih memutuskan untuk kembali pergi ke apartemen Putra pertamanya.


Sesampainya di apartemen Raka, nyonya Ratih langsung membunyikan bel sebagai penanda bahwa ada orang di luar pintu apartemen.


Ting tong ting tong


Namun berkali-kali nyonya Ratih membunyikan bel itu, Tak ada satupun yang keluar dari apartemen tersebut. Membuat nyonya Ratih kembali bertanya-tanya. Ke mana perginya suami dan anak-anaknya itu.??


"Ke mana mereka..?? Kenapa tak ada satupun orang yang membukakan pintu." Ujar nyonya Ratih lagi.


Nyonya Ratih sebenarnya ingin menerobos masuk kedalam apartemen, tetapi ia sendiri tak mengetahui kunci akses apartemen itu. Nyonya Ratih mencoba untuk bertahan sebentar lagi, berharap kali ini ada yang membuka kan pintu.


Ia juga berkali-kali kembali memencet bel itu, Namun nyatanya tetap nihil. Tak ada satu orang pun yang datang membukakan pintu untuknya. Akhirnya dengan perasaan pasrah dan sedih, nyonya Ratih pun memutuskan untuk kembali ke kediaman Tuan Sanjaya guna mengistirahatkan dirinya. Karena ia juga merasa lelah dengan masalah yang terjadi hari ini terlebih masalah butik nya itu.


***


Esok hari pun menyingsing, Julia seperti biasa selalu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang baik dengan konsekuen. Setelah itu, ia langsung bersih-bersih dan tepat pada pukul 06.00 pagi, Ia turun ke bawah berniat akan pergi ke pasar untuk membeli bahan masak hari ini. Tapi, sesampainya Julia di bawah, Di sana, ia sudah melihat Abi yang sepertinya sedang duduk dan fokus pada handphonenya.


Tak tak tak


Abi yang mendengar langkah kaki turun dari tangga langsung mengedarkan pandangannya lagi. Ternyata itu Julia. Abi tadi pernah melihat kondisi kamar adiknya karena memang Julia tidak mengunci pintu. takut terjadi apa-apa, saat Abi mengintip di dalam, ia melihat adiknya yang sedang melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yang baik. akhirnya Abi tidak jadi masuk dan memilih untuk turun ke bawah.


"Pagi Putri cantik. Mau ke mana nih udah stedi aja..??" Ujar Abi menggoda Julia Yang sepertinya telah bersih-bersih dan juga sudah cantik. Julia pun tersenyum kepada kakak sepupunya itu.


"Pagi juga Abang. Ini Julia mau berangkat ke pasar, mau beli kebutuhan untuk memasak." Ujar Julia lagi kepada Abi. Abi yang mendengar penuturan adiknya itu pun sontak langsung berdiri.


"Ya sudah kalau begitu, ayo Abang temani." Ujar Abi menawarkan diri tanpa embel-embel.