
Rasanya Tuan Sanjaya tidak akan puas, apalagi memikirkan putrinya tinggal sendiri di negeri orang tanpa keluarga.
"Oke papa.. nanti Julia telepon Kak Raka ya untuk jemput papa di bandara.." ujar Julia lagi kepada tuan Sanjaya.
Tuan Sanjaya pun langsung mengangkat tangannya memberi simbol oke. Sementara kakinya sudah melangkah menjauh masuk ke dalam pesawat. Julia yang melihat kepergian Tuan Sanjaya menatap nanar sampai punggung Tuan Sanjaya Tak terlihat Lagi.
Ada rasa sedih dan juga sekaligus lega melihat tuan Sanjaya telah kembali sembuh dalam depresinya, namun juga merasa sedih karena ujung-ujungnya pasti akan ada perpisahan lagi. Tapi untuk menghibur perasaan sedihnya itu, Julia kembali mengambil handphonenya dan menghubungi Kakak pertamanya memberitahu bahwa Tuan Sanjaya telah berangkat kembali ke Jakarta dan sekaligus memberitahu untuk menjemput sang ayah di sana.
Tut
"Halo Kak assalamualaikum..." Ujar Julia.
"Waalaikumsalam dek.. apa kabar sayang kamu sehat kan..??" Tanya Raka dalam telepon itu. Julia tersenyum mendengar penuturan Kakak pertamanya.
"Iya kak Julia sehat dan baik. oh iya, Julia hanya ingin menyampaikan kepada kakak kalau papa hari ini telah berangkat ke Jakarta kembali. Dan mungkin akan sampai Jakarta jam 12.00 atau 12.30 siang. Kakak jangan lupa jemput papa di sana ya." Ujar Julia lagi kepada Raka.
Raka yang sadari awal tidak mengetahui keberangkatan ayahnya tentu saja sedikit terkejut. namun Langsung kembali menormalkan ekspresinya.
"Oh ya sudah.. kamu nggak ikut ke Jakarta dek..??" Tanya Raka sedikit menggoda adiknya itu. Raka sendiri telah mengetahui bahwa Julia masih belum bisa memaksakan diri untuk kembali ke Jakarta.
"Hehehe.. nanti Kak, nanti Julia akan ke Jakarta. tapi tidak sekarang, Julia masih banyak pekerjaan. Ya udah, Julia tutup dulu teleponnya ya Kak. udah kakak assalamualaikum..." Ujar Julia lagi.
Setelah mendapatkan balasan salam dari raka, Julia langsung menutup teleponnya dan kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya. setelah itu, ia pergi dari sana menuju rumah makannya. Karena percuma saja pergi ke rumah, di sana tidak ada siapa-siapa lagi.
***
di bandara Soekarno Hatta. akhirnya Tuan Sanjaya telah sampai tujuan. di sana juga sudah ada Raka yang menunggu kedatangannya.
"papa..!!" teriak Raka dari jauh sambil melambai-lambaikan tangannya.
Tuan Sanjaya yang melihat anak pertamanya itu langsung tersenyum. entah kenapa ya begitu sangat senang melihat anak-anaknya. tapi juga merasa sedih ketika memikirkan salah satu anaknya jauh dari jangkauannya. Tuan Sanjaya terus berjalan mendekat ke arah sang anak.
"sudah lama Kak..??" tanya Tuan Sanjaya sambil Raka menyalimi tangan ayahnya itu.
"tidak juga pah.. Raka sudah perhitungkan hehehe... selamat datang kembali papa... dan terima kasih papa udah sembuh.." ucap Raka dengan hati gembira dan mata yang berkaca-kaca.
Tuan Sanjaya yang mendengar dan melihat ekspresi anaknya itu pun langsung tersenyum kemudian memeluk anaknya kembali.
"terima kasih sudah mendampingi dan menjaga papa saat papa dalam keadaan terpuruk ya nak.. kalian adalah harta apa-apa satu-satunya.. Ayo kita pulang.. Jangan katakan apapun, biarkan papa sendiri yang melihat kondisinya." ujar Tuan Sanjaya kepada putranya.
***
Keesokan harinya, Brian memberanikan diri untuk mendatangi rumah Julia. Kali ini dia harus berbicara dengan Julia dengan baik dari hati ke hati dan juga langsung mengutarakan niatnya. Mau Julia dengar atau tidak, mau ia tanggapi atau tidak, yang penting Brian sudah memberitahu Julia bahwa dirinya akan memperjuangkan Julia lagi.
ia sudah mewanti-wanti selama sebulan ini, dan juga Brian selalu mengirimkan pesan bertanya berbagai macam hal kepada Julia. Walaupun respon Julia hanya seadanya, namun hal itu dimaklumi bagi Brian. Dan kini ia tidak akan menunda lagi.
Ting tong ting tong
Brian yang berada di depan pintu kediaman Julia dan langsung memencet bel. Brian juga menerobos masuk ketika melihat pagar rumah Julia terbuka. Sebelumnya, Ia juga sudah mengirimkan pesan kepada Julia bahwa dirinya akan datang berkunjung ke rumahnya. Brian juga melihat pesannya telah dibaca walaupun tidak dibalas. Karena belum kunjung ada yang membuka pintu, Brian kembali menekan bel rumah itu.
Ting tong ting tong
Ceklek
Dan tak lama, Julia pun membukakan pintu tersebut. Awalnya ia tidak mendengar karena dirinya masih berada di kamar mandi apalagi Brian bertamu di pagi buta seperti ini. Terlihat pakaian Brian menggunakan pakaian olahraga. sepertinya, Ia baru pulang jogging atau pura-pura saja. Saat Julia membukakan pintu, hal pertama yang Julia lihat adalah senyum Brian yang begitu cemerlang.
"Kak Brian.. ngapain Kakak ke sini pagi-pagi banget..??" Tanya Julia kepada Bryan. Walaupun Julia sudah membaca pesan dari Brian, Tapi Ia tidak menyangka bahwa Brian akan nekat datang di pagi-pagi buta begini.
"Tidak apa-apa, Aku hanya ingin mengajakmu pergi berolahraga bersama. Beberapa hari sebelumnya, aku tidak sengaja melihatmu sedang berolahraga bersama dengan papa kamu.. jadi aku berinisiatif ingin mengajak kamu olahraga lagi.. mau nggak..??" Ujar Brian kepada Julia.
Sebelumnya, Julia memandang lekat wajah Bryan, ia ingin mencoba mencari kebohongan di mata itu. Namun ternyata, yang ada hanya harapan yang kuat dan keseriusan. Julia sebenarnya ingin menolak karena harus menjaga hatinya.
Tapi ia tidak mungkin tega membiarkan Brian yang sudah bersusah payah pagi-pagi datang menghampirinya di rumah, ia malah dikacangin begitu saja. Julia lebih memikirkan Bagaimana perasaan Brian nanti kalau ditolak olehnya. Lagi pula, Tidak ada salahnya untuk menemani. saat ini, dirinya juga butuh untuk berolahraga. Yang penting, jangan sampai hati terpengaruh kembali.
"Ya sudah kalau begitu kak.. kakak tunggu saja dulu di sini. Julia mau ganti baju dulu.." ujar Julia lagi. Brian yang mendengar penuturan Julia langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Yah oke.." ujar Brian sambil mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di luar teras rumah Julia itu.
Sementara Julia sendiri bergegas untuk mengganti pakaiannya. Julia memang tidak tega membiarkan orang lain merasa kecewa, tetapi bukan berarti ia akan kembali terpengaruh dengan pesona Brian.
Tapi tidak tahulah ke depannya. Karena pepatah mengatakan cinta itu akan tumbuh apabila sering bersama dan bertemu. Dan itulah yang menjadi kekeliruan Julia nantinya. Dia menggunakan perasaannya untuk menyikapi sifat dan tingkah laku orang lain yang tentu saja menimbulkan rasa tidak enak jika menolak permintaan orang orang itu.
Lalu, memang apa yang harus dia lakukan sekarang..?? Yang perlu dilakukan sekarang hanya menjalani dan membentengi dirinya agar tidak kembali terpengaruh oleh cinta yang mungkin akan mengembalikan dirinya lagi ke fase 3 tahun yang lalu. Tak membutuhkan waktu yang lama, Julia selesai bersiap dan keluar.
"Ayo Kak.." ujar Julia kepada Brian.