
Sementara Yudi yang tadi menghubungi Yulia dan mengajak Julia bergabung bersama teman-teman sedang sibuk menelpon teman-temannya yang lain.
"Iya. lagian kita kan ngomong seperti itu ingin mengetes kepekaan kalian. Kalian itu tahu nggak, apa yang diinginkan sama cewek." Kali ini yang bersuara adalah Larasati.
Bayu dan Satria pun langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah Larasati.
"Eh memangnya kamu pikir kita ini cenayang apa.. bisa tahu apa yang kalian mau.." protes Satria kepada Larasati. Bayu pun menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang dikatakan oleh Satria.
"Betul itu. Lagian ya, kalau kalian memang butuh sesuatu, pengennya itu, ya ngomong aja mau makan nasi goreng gitu.. nggak usah bilang terserah, nanti giliran sudah dibeliin malah komplain, nggak dimakan lagi. ujungnya marah-marah nyalahin cowoknya." Ujar Bayu lagi. Larasati pun langsung memanyunkan bibirnya lagi mendengar penuturan Bayu.
"Ya udah sih.. ngapain jadi ribut sih." Ujar Nindy menengahi.
Tak lama beberapa teman-teman mereka yang lain juga ikut tergabung. Tak lupa mereka juga membawa gandengan mereka. Di sana Julia dan teman-temannya menghabiskan waktu bersama di taplau sambil menyaksikan matahari tenggelam dari arah barat.
Julia yang jarang merasakan hal ini tentu saja sangat antusias. Apalagi ngumpul bersama teman-teman itu adalah sesuatu yang memang momen tersendiri bagi kenangan itu. Yang mungkin salah satu tidak Julia miliki di sekolah lamanya.
Saat Julia diajak berteman oleh mereka, mereka tak mengepohi kehidupan Julia Kenapa harus pindah ke sekolah mereka. Yang penting Julia bisa nyaman berada di sekolah mereka. Di tepi taplau itu, mereka semua juga bernyanyi bersama seolah sedang melakukan piknik.
(Ternyata ngumpul bareng teman itu sangat seru ya. Aku baru merasakannya. Selama 17 tahun belum pernah ngerasain hal yang seperti ini, aku ke mana aja tadi ya.) Batin Julia.
Mungkin ada benarnya juga, seiring bertambahnya umur, maka mungkin satu persatu hal yang jarang kita lakukan dan temui bisa kita dapatkan. Walaupun tergantung Bagaimana cara kita untuk mendapatkannya.
***
Sementara itu, sudah seminggu ini Tuan Sanjaya tak melihat dan tidak mengetahui kabar anak tengahnya itu. Bahkan keluarga Tuan Antonio selama seminggu ini tidak lagi datang menjenguk di rumah sakit.
Sepertinya mereka masih sakit hati dengan penuturan nyonya Ratih yang mengatakan bahwa penyebab kecelakaan kedua putranya adalah keluarga mereka. Jadi sekalian saja, karena mereka telah dianggap menjadi salah satu penyebab terjadinya kecelakaan itu, maka mereka juga tidak ingin menjenguk ridho dan Raka, takut nanti terjadi apa-apa dengan mereka. Nanti ujung-ujungnya malah mereka yang disalahkan lagi oleh nyonya Ratih.
Namun Tuan Antonio sesekali akan menelpon Tuan Sanjaya untuk menanyakan kabar kedua keponakannya. Seperti yang sedang terjadi saat ini. Tuan Antonio memilih untuk menghubungi Tuan Sanjaya.
Tut
"Halo Sanjaya, maaf mas mengganggu. mas cuma ingin menanyakan kondisi kedua putramu. Bagaimana ? apakah sudah ada kemajuan..??" Tanya Tuan Antonio kepada adiknya.
Dari seberang telepon terdengar Helaan nafas yang begitu berat dari tuan Sanjaya. Sementara tuan Antonio yang mendengar helaan nafas yang begitu berat itu langsung mengerutkan keningnya, bukan apa-apa dia hanya merasa khawatir saja.
"Ada apa Sanjaya..?? Maaf ya mas tidak bisa datang menjenguk selama seminggu ini. Mas juga cukup sakit hati mendengar penuturan istri kamu. Tapi mungkin nanti kami akan datang menjenguk." Ujar Tuan Antonio sedikit memberikan penghiburan kepada adiknya itu.
Tidak mungkin kan Tuan Antonio mengatakan hal atau memarahi adiknya sementara kondisi Tuan Sanjaya sedang sedih akibat kedua anaknya masuk rumah sakit.
"Tidak apa-apa mas, Sanjaya tahu kok. Untuk kondisi keduanya saat ini mereka sudah melewati masa kritis, namun mereka masih enggan untuk membuka mata. Kata dokter sih mungkin setelah dua hari baru mereka akan bangun dari tidur mereka. Namun katanya hal seperti itu tidak perlu diyakini, karena itu hanya diagnosa sementara." Jelas Tuan Sanjaya kepada kakaknya itu. Mendengar penuturan Tuan Sanjaya, kini giliran Tuan Antonio yang menarik nafasnya dengan berat.
"Ya sudah tidak apa-apa. Pokoknya kita banyak-banyak berdoa saja agar kedua putramu cepat sadar dan kembali pulih." Ujar Tuan Antonio lagi.
"Iya mas sama-sama. Tapi mas, sudah seminggu ini aku tidak mendengar kabar Julia. Bagaimana kondisinya saat ini, Aku harap dia baik-baik saja mas. Aku juga berharap, mudah-mudahan Julia tidak membenciku, selama seminggu ini, aku selalu kepikiran dengannya. Namun saat aku ingin menghubungi nomornya malah tidak bisa dihubungi."ujar Tuan Sanjaya kepada tuan Antonio. Mendengar penuturan Tuan Sanjaya Tuan Antonio pun memilih bungkam dan memilih untuk mendengarkan.
"Mas, Julia baik-baik saja kan.?? Waktu itu pasti dia sangat terpukul dan sedih mendengar penuturan ibu kandungnya sendiri. Saat itu, Sanjaya juga tidak tahu harus melakukan apa mas. Aku melihat penolakan Julia untukku, aku sangat sedih dan terus kepikiran. Dia tidak apa-apa kan mas..?? Apakah Julia ada di rumah saat ini. ?? Bolehkah aku berbicara dengannya mas..??" Ujar Tuan Antonio sekaligus bertanya kepada sang kakak.
Dari lubuk hatinya yang paling dalam Tuan Sanjaya benar-benar ingin mendengarkan kabar putrinya. Ia tahu dan bahkan sangat yakin, kalau saat itu putrinya pasti merasa terpukul dan juga sedih mendengar penuturan istrinya. Apalagi kata-kata nyonya Ratih yang keluar itu bukanlah kata-kata yang sederhana.
"Kamu fokus aja dulu pada kesembuhan anak-anakmu. Untuk Julia kamu tidak perlu pikirkan, karena mas yang akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu mendidik mulut istrimu itu dan juga menjadikan dia sebagai ibu yang bertanggung jawab. Ya sudah, mas cuma ingin menanyakan kabar kedua putramu saja. Kalau begitu mas tutup dulu teleponnya ya." Ujar Tuan Antonio lagi.
Tanpa menunggu ucapan dari tuan Sanjaya, Tuan Antonio langsung mematikan teleponnya secara sepihak. Setelah panggilan itu berakhir, Tuan Sanjaya memandangi telepon seluler di tangannya dengan tatapan sayu dan juga sedih.
"Aku tahu, pasti putriku sangat menderita. Maafkan papa nak.. papa janji, kalau nanti kondisi kedua kakakmu sudah membaik, papa akan datang mencarimu." Ujar Tuan Sanjaya.
Tuan Sanjaya sebenarnya ingin segera pergi untuk menemui sang anak, namun Tuan Sanjaya cukup kasihan membiarkan istrinya menjaga sendirian di rumah sakit. Belum lagi dirinya juga harus berangkat kerja, karena kestabilan perusahaan juga harus diperhatikan.
"Papa harap, nanti kamu mau memaafkan papa sayang. Maafkan papa tidak kuasa membelamu waktu itu. Papa terlalu syok dan terpuruk. Sehingga tak tahu harus bereaksi seperti apa." Ujar Tuan Sanjaya mengajak ngobrol handphone di tangannya itu. Tiba-tiba Satu tetes air mata jatuh membasahi lengan kanannya.