
melodi sendiri tidak peduli. Apakah orang lain akan tersiksa atau tidak. yang penting keinginannya untuk bersama dengan Brian dapat terpenuhi. Ia juga tidak peduli apakah kedua orang tua Brian akan setuju atau tidak yang pasti, ia akan mendesak kedua orang tuanya untuk membicarakan hal ini kepada kedua orang tua Brian secepat mungkin. lagi pula, kedua orang tua mereka bersahabat. Melodi yakin, kalau ia pasti bisa mendapatkan Brian bukankah selama ini, ia selalu mendapatkan apa yang dia mau..?? termasuk Brian. Sesampainya melodi di dalam mobil, Ia langsung melampiaskan rasa kesalnya di sana.
Bugh bugh
"Sialan !! Kenapa Tante Sofia tiba-tiba ngomong seperti itu. Aku tentu saja tidak akan melepaskan kak Brian. aku tidak bisa hidup tanpa kak Brian, dan Dia juga hanya boleh menjadi milikku. Dia tidak akan bisa menjadi milik orang lain kecuali aku. Dan aku juga tidak mau hal itu terjadi." Ujar melodi lagi sambil memukul-mukul setir mobilnya.
ia benar-benar mengeluarkan kekesalannya disana. Setelah puas melampiaskan kekesalannya itu, ia pun kemudian langsung menjalankan mobilnya menuju tempat tongkrongannya bersama dengan teman-temannya. Itu cinta atau obsesi ya..??
***
di posisi lain. Beberapa hari kemudian. Julia kembali melaksanakan rutinitas kuliahnya di bidang bisnis dan tata boga. Keadaan tuan Sanjaya pun sudah lumayan membaik dan juga ada kemajuan. sepertinya, obat yang memang di tunggu oleh tuan Sanjaya adalah kehadiran Putri nys. Tapi, walaupun begitu, tuan Sanjaya belum kepikiran untuk pulang ke Jakarta. Ia masih ingin tinggal disamping putrinya. Saat Julia baru selesai melaksanakan kuliah nya dan akan kembali berangkat memantau rumah makannya, tiba-tiba ada yang memanggil namanya.
"JULIA...!!" Teriak suara itu. Julia yang sedang bersiap untuk memasangkan helmnya langsung terhenti. Ia langsung melihat ke arah sumber suara.
Jeng jeng
Alangkah terkejutnya Julia saat melihat orang yang telah memanggil namanya itu. Ia tidak menyangka, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, akhirnya mereka di pertemukan kembali. Julia masih terlihat bengong melihat keberadaan orang yang selama ini masih bertahta dalam hatinya. Namun, cinta yang dimiliki nya sepertinya agak sedikit berkurang.
"Hai Lia.." ujar Brian ketika telah sampai di hadapan Julia. Julia sendiri yang masih terlihat bengong, langsung tersadar dan tersenyum canggung.
"Eh.. kak Brian. Ada apa..?? Kamu disini juga.??" Tanya Julia berbasa-basi dengan ekspresi canggung.
Tidak mungkin kan, Julia langsung menghindar Begitu saja. Brian tidak menjawab pertanyaan julia. Ia malah tersenyum manis melihat ke arah Julia dan wajahnya. Wajah inilah yang sering ia rindukan setiap saat sampai bisa membuat gila. Sekarang wajah yang dirindukannya telah berada tepat di depan matanya.
"Apa kabar Lia...?? Aku tidak menyangka ternyata kita akan bertemu lagi. Tapi tidak di tempat yang sama." Ujar Brian kepada Julia.
Brian tentu saja harus ikut berbasa-basi juga, agar suasana canggung yang tercipta di antara mereka segera hengkang. Julia sendiri tersenyum mendengar penuturan Brian. Ia juga tidak menyangka, setelah bertahun-tahun tidak bertemu, ternyata takdir masih menghendaki pertemukan Julia dengan Brian. Mungkin ini yang dikatakan, dunia itu kecil sehingga selalu memiliki peluang untuk bertemu.
"Kabar saya baik kak. Lalu bagaimana dengan kakak..?? Dan aku harap kakak juga baik. Oh iya Kak, maaf ya, aku harus segera pergi. Karena aku masih memiliki banyak pekerjaan." Ujar Julia kepada Brian.
Julia sendiri tidak bohong mengatakan hal itu, karena memang dirinya masih banyak pekerjaan. belum lagi, pasti Tuan Sanjaya menunggu kepulangannya. Sempat ada sedikit rasa kecewa dalam sorot mata Brian. Namun Brian cepat-cepat menormalkan kembali ekspresinya karena perjalanannya baru akan dimulai.
Julia yang mendengar penuturan Brian menjadi salah tingkah. Sejujurnya ia tidak ingin memberikan nomornya kepada Bryan tapi perasaan tidak enak tentu saja selalu muncul dalam hatinya. Ia tak memiliki keberanian untuk menolak, tetapi bukan berarti akan terus berharap seperti saat mereka masih berada di bangku sekolah menengah atas.
"Em... Maaf Kak. Nanti pacar kakak marah." Ujar Julia mencoba mencari alasan.
Karena tidak mungkin rasanya, Brian yang sudah 3 tahun tidak bertemu dengan Julia, tidak memiliki hubungan dengan perempuan lain. Apalagi, sekarang tampilan Brian terlihat macho dan sangat menarik di mata kaum para hawa. Mendengar penuturan Julia, Bryan pun tersenyum.
"Tenang saja. Tidak ada yang akan marah ketika aku meminta nomor telepon mu. Karena tak satupun perempuan di sisiku kecuali Mama. Oh ya, bolehkah aku minta..." Ujar Brian kembali sedikit memaksa dan menyodorkan handphonenya.
Julia yang ingin segera berlalu dari sana pun langsung menganggukkan kepalanya dan mengetik beberapa angka di handphone Brian. Setelah Julia mengetikkan angka tersebut, dengan cerdasnya Brian langsung menghubungi nomor itu. Brian sendiri harus memastikan kalau nomor tersebut adalah benar nomor milik Julia. Ternyata benar, tak lama dari handphone Julia pun berbunyi. Mendengar handphone Julia berdering, Brian langsung mematikannya kemudian tersenyum kembali.
"Itu nomor teleponku. Jangan lupa di-save ya.." ujar Brian lagi kepada Julia. Julia pun langsung menganggukkan kepalanya dan ia juga telah selesai memasangkan helm di kepalanya.
"Kalau begitu saya duluan ya Kak." Ujar Julia lagi.
Tanpa menunggu respon dari Brian, Julia langsung meninggalkan tempat tersebut dan pergi ke rumah makannya. Sementara Brian tetap setia berdiri di sana melihat Julia berlalu sampai ia tidak terlihat lagi. senyum manis tetap terukir di bibirnya.
"Kamu semakin cantik sayang... kamu juga semakin mandiri. Aku pasti menaklukkanmu kembali. tidak apa-apa, mulai sekarang aku yang akan berjuang untuk mendapatkan mu. dan setelah dapat, aku tidak akan melepaskan mu lagi." Gumam Brian dengan lirih.
Ia lagi-lagi tersenyum menatap kepergian Julia di sana. setelah merasa puas, Brian pun juga langsung beranjak dari sana dan masuk ke dalam mobilnya.
Apa yang dilakukan Brian di universitas ini ?? tentu saja, ia baru selesai mengikuti perkuliahan. Karena saat dirinya memutuskan untuk pindah, Ia juga langsung memutuskan untuk pindah kampus setelah mendapat informasi dari orang suruhannya bahwa Julia kuliah di universitas xxx tersebut. Lalu kita akan lihat Bagaimana perjuangan Brian untuk mendapatkan Julia.
Sementara Julia sendiri, ia telah kembali ke rumah makannya untuk melakukan magang salah satu jurusannya yaitu jurusan tata boga. Ia tampak sibuk dan serius menjalani itu semua walaupun rumah makan itu adalah miliknya sendiri. Setelah selesai, Ia sejenak beristirahat. Dan tiba-tiba, Julia kepikiran mengenai keberadaan Brian di universitasnya.
"Kak Brian kok bisa berada di universitas xxx itu ya..?? Dia ngapain..??" Ujar Julia sambil berpikir keras. tapi, tiba-tiba ia tersadar.
"Ah.. ngapain sih jadi mikirin.. biar aja lah. Kan itu hak nya dia.. sebaiknya aku istirahat aja dulu sebelum pulang. Papa juga sudah berkali-kali ngabarin.." ujar Julia lagi. ia tidak ingin ambil pusing, padahal dalam hati merasa penasaran.
***