
Mendengar penuturan sang kakak, Julia pun memberikan kode kepada pamannya untuk berbicara kepada kakaknya. Tuan Antonio pun paham.
"Raka sebentar, ada yang ingin berbicara kepadamu." Ujar Tuan Antonio kepada Raka.
Julia sendiri tidak merasa tega sampai mendengar kabar tentang ayahnya seperti itu. Kembali lagi, semarah-marahnya Julia ia tidak akan bisa membenci kedua orang tuanya. Ia pergi pun hanya ingin memberikan ruang kepada keluarga kusuma.
Tuan Antonio pun langsung menyerahkan handphone ke tangan Julia. Julia sendiri menerima handphone itu dengan tangan bergetar dan jantung yang berdetak kencang.
"Halo Kak assalamualaikum.. ini Julia Kak.." biar Julia dengan suara pelan dan sangat sedih. Raka yang mendengar suara adiknya dari balik telepon itu pun langsung terkejut sekaligus merasa senang.
"Dek.. dek Apa itu benar kamu..!!! Dek jawab kakak dek..!!" Ujar Raka dengan suara agak meninggi karena merasa senang mendengar suara adiknya yang sudah menghilang selama 3 tahun. Julia menghapus air matanya di sana karena tak dapat ia pungkiri, Ia juga merindukan kakak-kakaknya. Karena sebelum kepergian Julia, hubungan mereka sudah mulai membaik.
"Iya Kak ini Julia.. Kakak apa kabar.. Julia rindu sama kakak.. Apakah kakak juga merindukan Julia..??" Tanya Julia kepada kakaknya.
Di sana Raka juga meneteskan air matanya mendengar penuturan adiknya. Bohong Jika ia bilang tidak merindukan Julia. Dadanya menjadi sesak karena memikirkan perlakuannya dulu kepada sang adik.
"Tentu saja.. tentu saja Kakak sangat merindukanmu.. maaf kan kakak dek. maaf.." jawab Raka dengan suara yang terngungu akibat suara isakan tangisnya.
" sekarang Kamu di mana dek.??. papa selama 3 tahun mencari dan berusaha menemukan keberadaanmu.. papa dan kakak sudah menjadi orang yang tidak waras.. huuuuu.." akhirnya tangis Kakak pecah. Ia tidak bisa menahan Isak tangisnya lagi. Membuat Julia kembali merasa sesak dan menjatuhkan air matanya.
"Kakak jangan menangis.. Julia di sini baik-baik saja.. Kakak Julia tidak bisa pulang ke sana.. karena terlalu banyak luka yang Julia alami di kota itu. Kalau Julia tidak pulang Apakah Julia egois kak..??" Tanya Julia kepada kakaknya.
Raka dari seberang sana menggelengkan kepalanya. Tentu saja Raka tahu bahwa adiknya selalu menahan rasa sakit yang diberikan oleh keluarga mereka.
"Tidak sayang tidak.. Julia tidak egois.. kalau begitu katakan kepada kakak.. ke mana Kakak harus menemukanmu.. Kakak juga tidak akan mengajakmu pulang jika kamu tidak mau. Tapi kakak mohon, kakak mohon katakan di mana Kakak harus menemukanmu. Kakak juga akan membawa papa ke sana.. tolong Julia tolong...papa sangat merindukan mu dan juga menghawatirkan dirimu..." Ujar Raka memohon kepada adiknya untuk bertemu.
Julia tak kuasa menahan tangisnya, dia mengarahkan pandangannya ke arah sang paman dan bibinya. Mereka berdua malah menganggukkan kepala menyetujui apa yang harus Julia lakukan.
"Julia di Sumatera barat.. Kakak bisa datang. Nanti Julia akan menjemput di bandara. kakak katakan saja, kapan ke sini.." Ujar Julia kepada kakaknya.
Setelah Julia mengatakan hal itu, dari seberang sana Raka langsung mematikan telepon sepihak. Membuat Julia bertanya-tanya. Sementara paman dan yang lainnya malah tersenyum.
"Paman bangga kepadamu nak.. sebanyak apapun luka yang mereka goreskan kepadamu.. tapi kamu tidak dendam dan masih mau menerima mereka.. Paman sangat bangga kepadamu.." ujar Tuan Antonio langsung berdiri dan memeluk keponakan yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.
"Tidak apa-apa sayang, tidak apa-apa.. kamu sudah mengambil jalan yang benar.. ini semua berkat kesabaranmu dan kebaikan hatimu.. setelah ini Jangan menangis Lagi.." ujar Tuan Antonio lagi sambil memeluk erat tubuh mungil keponakannya itu.
Nyonya Salsa dan yang lainnya pun ikut meneteskan air mata. Siapa sih yang tidak mengetahui penderitaan Julia di tengah-tengah keluarga besar Kusuma itu.? Siapa sih yang tidak tahu penderitaan Julia di tengah keluarganya sendiri.? Sekarang, mungkin Tuan Sanjaya telah menyadari betapa besar kesalahannya telah menelantarkan putrinya sendiri sehingga kini ia telah menjadi orang setengah waras.
***
Di posisi Raka saat ini
Setelah Raka mendapat informasi keberadaan sang Adik. Ia langsung memutuskan panggilannya sepihak dan bergegas kembali ke rumah, lebih tepatnya ke apartemennya. Di apartemen nya juga sudah ada Ridho di sana untuk menemani ayahnya. Sesampainya di apartemen, Ia langsung buru-buru masuk untuk menemui ayahnya.
Saat Raka sudah berada tepat di depan pintu apartemen, Ia mendengar suara ribut-ribut dari dalam. Sepertinya depresi ayahnya semakin menjadi. Karena hal itu pula, Raka langsung bergegas masuk ke dalam. Ternyata benar Tuan Sanjaya sedang mengamuk dan berteriak seperti orang kesurupan. Hal ini tentu saja jarang terjadi, Sanjaya akan mengamuk apabila pikirannya sudah tak terkondisikan lagi.
"Papa..!! Papa kenapa..??" Tanya Raka langsung memeluk Tuan Sanjaya untuk menenangkan dirinya. Tuan Sanjaya tampak menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.
"Julia Putri papa..!! Julia Putri papa jangan tinggalin papa..!! Papa rindu nak papa rindu..!!" Ujar Tuan Sanjaya. Selama Raka dan Ridho merawat Tuan Sanjaya di dalam apartemen, Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutnya. Bahkan makan saja Raka dan Ridho butuh kesabaran ekstra untuk membujuk sang ayah.
"Papa tenanglah, aku sudah menemukan keberadaan Julia.. Ayo papa tenang kalau tidak, kita tidak bisa berangkat dan menemuinya hari ini..!!" Seru Raka kepada tuan Sanjaya yang masih menangis histeris seperti anak kecil. Setelah mendengar penuturan Raka, entah kenapa tangis Tuan Sanjaya sedikit demi sedikit mulai mereda.
"Benarkah anakku, Julia putriku sudah ketemu..!! Benarkah anakku sudah ketemu..!!" Ujar Tuan Sanjaya sambil melihat ke arah Raka dengan tatapan sayu dan penuh dengan permohonan. Raka pun langsung menganggukkan kepalanya.
"Iya pah, Julia sudah ketemu. Sekarang Raka akan mengajak papa pergi ke tempat Julia. Karena adik nggak bisa datang ke sini." Ujar Raka dengan penuh keyakinan disorot matanya. Ridho yang sedari tadi juga masih setia berada di samping ayahnya langsung bertanya untuk meyakinkan hatinya.
"Benarkah Kak. Adik sudah ketemu..?? Kakak nggak bohong kan..??" Tanya Ridho kepada sang kakak. Raka menganggukkan kepalanya.
"Iya, aku sudah bertemu dengan adik dan telah berbicara dalam telepon juga. Sekarang kamu kemasih barang-barang mu dan barang-barang papa, kita akan ke sana menyusul. Adik tidak bisa datang ke kota ini, karena terlalu banyak kenangan pahit di dalamnya., Dan aku rasa paman dan bibi juga di tempat itu. Ayo segera kita harus berangkat hari ini." Ujar Kakak lagi kepada adiknya. Ridho yang mendengar kabar yang mendadak tersebut menjadi senang sekaligus menjadi panik ke limpungan, apa yang harus ia lakukan.
"Tidak usah panik bagi itu do, santai saja. Kakak juga sudah memesankan tiket pesawat untuk kita. Sebaiknya kamu cepat packing dan aku akan memandikan papa." Ujar Kakak lagi sedikit menenangkan Ridho Yang sepertinya panik sendiri akibat mendengar kabar itu.
"Hah !! baik kak.. entah kenapa Ridho jadi panik tapi juga bersemangat." Ujar Ridho kepada kakaknya.