JULIA

JULIA
109. keluarga yang menyedihkan



"iya mah, nggak papa kok.. sebaiknya Mama jangan terus kepikiran biarkan aja. Nanti Raka yang akan mengurus semuanya. Untuk uang bulanan keduanya, biar Raka saja yang urus. Ya sudah mah, Raka masuk ke kamar dulu ya.." ujar Raka berpamitan kepada nyonya Ratih. sebenarnya, Raka sangat lelah hari ini, di tambah lagi masalah tentang adiknya itu. Raka pun langsung bergegas.


"Ya, Ridho juga ya mah.." setelah mengatakan hal itu, Ridho juga Langsung pamit masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan membersihkan diri mereka.


Sungguh tidak mereka sangka, kalau Meta yang mereka anggap sebagai adik yang selalu menuruti apa nasehat kedua orang tuanya, kini telah menjadi gadis manja dan sawenang-wenang terhadap mereka.


Bahkan, Meta dengan terang-terangan melawan mamanya sendiri. Ia sudah tak memiliki rasa hormat lagi terhadap orang yang lebih tua darinya.


"Kenapa jadi kacau seperti ini sih... Hah !! menyedihkan sekali keluarga ini.. tapi mulai sekarang, Aku akan mencoba untuk tegas kepada adik-adikku. Karena saat ini, akulah pengganti papa.. oh iya, Bagaimana kondisi papa di sana ya. sebaiknya aku hubungi dulu deh.." monolog Raka pada dirinya sendiri.


Raka pun langsung mengambil gawainya dan mengotak-atiknya. Setelah bertemu dengan apa yang ia cari, Raka langsung menekan icon tersebut dan menghubunginya. Tak lama panggilannya pun langsung terhubung.


Tut


Raut wajah Raka pun langsung tersenyum senang ketika mendapati panggilannya langsung direspon dengan baik.


"Assalamualaikum.. pa, Bagaimana kondisi papa di sana..?? Sudah mulai sehat kan..??" Tanya Raka kepada papanya di seberang telepon.


"Waalaikumsalam nak. Alhamdulillah papa di sini baik dan sehat. Adik mu selalu merawat papa dengan baik. Lalu ?? di sana Bagaimana kondisinya nak.?? Bagaimana kabar Mama dan kedua adikmu..??" Tanya Tuan Sanjaya kepada putranya itu.


Raka yang mendengar pertanyaan Tuan Sanjaya langsung menghela nafasnya dengan gusar. Ia sendiri bingung harus mengatakan seperti apa kepada Tuan Sanjaya. Raka takut Tuan Sanjaya akan kepikiran. namun Ia juga butuh masukan.


"Itulah pa... saat ini Raka sedang pusing menghadapi adik-adik Raka. tapi kalau Kak soal kabar, Keadaan Mama dan kedua adikku baik dan sehat. namun, yang membuat Raka bingung adalah sifat Meta yang sudah mulai kurang ajar kepada Mama. Bahkan, tadi Raka sempat menegaskan kepada kedua adikku itu mengenai sistem keuangan yang akan diberikan kepada mereka. Hal itulah yang membuat Meta menjadi protes dan menentang." Ujar Raka sedikit membagi keluh kesahnya kepada tuan Sanjaya. berharap Tuan Sanjaya sendiri memiliki solusi untuk permasalahan ini. Mendengar penuturan putranya, kini Tuan Sanjaya yang menghela nafasnya lagi.


"Hah !! Untuk sementara, atur saja semuanya nak. Kepala papa masih pusing jika dipaksakan untuk berpikir. Belum lagi, kata dokter papa belum boleh memiliki banyak pikiran. Dan juga papa takut, adikmu malah mengomeli papa panjang-panjang, Dari Sabang sampai Merauke." Ujar Tuan Sanjaya kepada putranya itu. Raka yang mendengar penuturan ayahnya langsung terkekeh.


"Benarkah seperti itu. Ya sudah, papa di sana baik-baik ya jaga kesehatan. Oh iya, di mana Julia.. Raka ingin berbicara dengan adik Raka sebentar, sekaligus mendengar suaranya pa. Rasanya baru beberapa hari berpisah, Raka sudah sangat rindu kepada adek kakak yang satu itu." Ujar Kakak lagi di seberang telepon. tuan Sanjaya pun terkekeh.


Raka yang emang baru tahu kalau sang adik mengambil dua jurusan sekaligus itu pun juga ikut terkejut. katanya adiknya itu adalah seorang yang tidak berguna. itu penuturan dari sang kakek. tetapi lihatlah sekarang, Julia malah mengambil dua jurusan sekaligus.


"Wah !! ternyata adek jenius juga ya pah.. padahal, di antara kita tidak ada satu orang pun yang mengambil jurusan 2 sekaligus. " Ujar Raka dengan kagum.


"Itulah nak, papa juga heran. tapi papa sangat bangga kepada kalian semua. Oh ya, kamu pasti baru pulang kerja ya nak. ya sudah sana kamu siap-siap dulu bersih-bersih jangan lupa makan malam. nanti saja kamu ngobrol sama adik mu. dah.. Papa tutup teleponnya dulu ya. papa mau mandi sama minum obat sebelum makan. nanti kena amuk lagi sama adik kamu." Bisik Tuan Sanjaya lagi yang lagi-lagi membuat raka di seberang sana terkekeh lagi.


Setidaknya, penuturan ayahnya itu cukup menghibur perasaannya yang masih lelah dan juga masih kesal mendapati tingkah adik-adiknya itu.


"Ya sudah pah.. nanti kita ngobrol lagi.. assalamualaikum Pak.."ujar raka berpamitan sambil mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam nak.." setelah itu panggilan Mereka pun langsung berakhir.


Raka meletakkan handphonenya di atas nakas dan langsung berlalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, Raka langsung bersiap dan kemudian turun ke bawah untuk makan malam bersama dengan mama dan adik-adiknya. Sesampainya Raka di bawah, di sana sudah ada nyonya Ratih dan Mita serta Ridho yang tidak lama menyusul mereka. Namun di sana Raka dan Ridho tidak menemukan keberadaan Meta.


"Di mana Meta mah..?? Apa dia masih di kamar..??" Tanya Raka kepada mamanya. Nyonya Ratih malah menggelengkan kepalanya.


"Kak Meta sudah keluar. Katanya, Ia mau makan malam di luar dan ngumpul bersama teman-temannya. Udah biasa itu kok. tiap hari Kak Meta keluar dan kelayapan. Kemudian pulangnya hampir jam 01.00 atau jam 2-an." Ujar Mita mengadukan hal ini kepada kedua kakaknya. Raka dan Ridho yang lagi-lagi mengetahui sifat salah satu saudari mereka entah kenapa menjadi sedikit marah.


"Sudah berapa lama Meta melakukan hal itu..?? Dan mama tidak pernah menegurnya..??" Tanya Raka kepada nyonya Ratih. Tapi lagi-lagi pertanyaan Kakak dijawab oleh Mita.


"Bukan tidak pernah ditegur Kak. Hampir setiap hari Mama menegur Kak Meta. Tapi pasti berujung pertengkaran dan adu mulut di antara keduanya. Mita juga selalu mengingatkan kak meta untuk tidak melakukan hal tersebut dan tidak pulang terlalu malam. Tapi tetap saja, meta tidak akan mendengarkan nasihat seperti itu." Raka yang mendengar penuturan adiknya itu tidak habis pikir. Apakah Meta benar-benar sudah se keterlaluan itu.


"Itulah akibat terlalu dimanja oleh kakek dan nenek. Jadi seperti itu kan sifatnya sekarang. Untung Mita masih berfikir logis. Kalau sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan." Ujar Ridho dengan santai tanpa mengandung emosi.