JULIA

JULIA
108. keributan



nyonya Ratih berharap, Raka dan Ridho dapat memberikan nasehat atau sedikit ancaman kepada anak perempuannya agar meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang dapat merugikan dirinya sendiri. Raka yang mendengar penuturan sang mama hanya bisa menghela nafas. Ia benar-benar tidak tahu, ternyata adik perempuannya Meta benar-benar telah salah didik. karena, mereka juga sibuk dengan urusan masing-masing. apalagi, saat tuan Sanjaya yang jiwanya mengalami goncangan. membuat mereka benar-benar tidak memperhatikan sifat meta.


"Iya mah, nanti Raka dan Ridho akan pulang ke rumah. Dan, sebaiknya Mama pulang dan beristirahat saja. nanti kalau Raka dan Ridho sudah pulang, kita ngobrol-ngobrol lagi ya mah. Saat ini, pekerjaan Raka masih sangat banyak dan menumpuk." ujar Raka kepada nyonya Ratih.


Raka ingin sedikit memberikan pengertian kepada mamanya agar nyonya Ratih segera meninggalkan kantor dan kembali ke kediaman mereka. karena pekerjaannya masih sangat banyak, jika mamanya disini, dapat dipastikan pekerjaan itu tidak akan selesai.


"Baiklah nak, Mama paham.. kalau begitu Mama pamit dulu ya, tapi jangan lupa untuk pulang dan menginap di rumah malam ini." Ujar nyonya Ratih lagi sambil menyeka air matanya yang sudah kering. Ia benar-benar berharap keluarganya kembali utuh seperti semula sebelum dirinya berulah.


"Iya mah. Mama hati-hati di jalan ya.." setelah mengatakan hal itu, nyonya Ratih pun langsung meninggalkan ruang kerja Raka dan kembali ke kediamannya dengan hati yang tak karuan. Karena saat ini, ia masih belum mendapatkan kabar atau informasi mengenai keberadaan suaminya dan juga bagaimana kondisi suaminya saat ini.


****


Malam harinya, Raka dan Ridho memutuskan untuk pulang ke rumah kedua orang tua mereka. Mereka melakukan dan mengabulkan permintaan nyonya Ratih. selain mereka merindukan rumah, mereka juga ingin melihat kondisi keadaan kediaman itu. Dan alangkah terkejutnya mereka, ketika mereka baru sampai di depan pintu kediaman tersebut, Raka dan Ridho mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari dalam rumah.


"Siapa yang ribut-ribut itu Bang..??" Tanya Ridho kepada saudaranya itu.


Raka dan Ridho pun saling pandang satu sama lain sebelum akhirnya mereka berdua buru-buru masuk ke dalam rumah. Ternyata benar saja, di sana Meta sedang mengamuk kepada nyonya Ratih karena lagi-lagi keinginannya tidak dikabulkan oleh nyonya Ratih. Di sana juga ada Mita yang siap membalas setiap perbuatan dari saudaranya itu.


"Ada apa ini ribut-ribut.." ujar Raka sebagai kakak tertua di antara mereka semua.


Nyonya Ratih dan si kembar langsung mengarahkan pandangan mereka setelah mendengar suara dari Raka. Nyonya Ratih yang menyadari kedatangan kedua putranya langsung menyambut dan tersenyum kepada keduanya Begitu juga dengan Mita. Tapi tidak dengan Meta. Ia malah mengerucutkan bibirnya ketika melihat kedua saudaranya tiba di rumah itu.


"Ada apa ini mah.??. Kenapa Meta mengamuk seperti kesetanan.." tanya Raka lagi kepada nyonya Ratih. Meta yang mendengar dirinya disebut kesetanan oleh sang kakak langsung memprotes tidak terima.


"Apa maksud kakak mengatakan meta kesetanan. Meta sedang minta duit sama mama, Tapi nggak pernah dikasih sama mama dari kemarin-kemarin. Ya Meta kesel lah.."ujar Meta yang tak lagi menghormati kedua saudaranya itu. Ridho yang mendengar penuturan adik kembarnya itu langsung mengerutkan keningnya.


"Ya banyak lah Kak. Kebutuhan perempuan itu banyak dan itu nggak sedikit..!!" Ujar meta lagi dengan meninggikan suaranya di hadapan kedua kakaknya itu. Mita yang mendengar penuturan saudara kembarnya itu langsung memprotes di hadapan kedua kakaknya.


"Iya Kak. Kebutuhan perempuan itu memang banyak, tapi nggak tiap hari juga kamu minta duit sama mama. Lagian tiap minggu Mama kasih duit ke kita, dan itu jumlahnya nggak sedikit loh. Aku saja yang sampai sekarang hanya dikasih uang sekali dalam seminggu masih ada. Emangnya itu masih wajar ya Kakak minta duit tiap hari sama mama..?? Emangnya kakak pikir Mama tiap hari ngasilin duit gitu..??" ujar Mita lagi sedikit jengkel dengan penuturan Kakak kembarnya itu. karena setiap ditanya soal kegunaan untuk itu, ia pasti akan menjawab alasan yang sama. lagi, Mita dan nyonya Ratih juga perempuan, jadi sudah pasti, mereka juga tau seberapa banyak kebutuhan perempuan


"Diam lo.!! Sudah mulai berani melawan loh ya.!!!. gue itu nggak peduli sama lo, paham loh..!! dan, gue tuh pengen minta uang sama mama, ya suka-suka gue lah..!!" ujar Meta lagi kepada Adik kembarnya itu. Raka dan Ridho yang melihat kelakuan Meta seperti itu sedikit menjadi geram.


"Kamu mau uang..??" Tanya Raka lagi kepada adiknya. Dengan segera Meta pun langsung menganggukkan kepalanya dengan wajah yang Tersenyum senang.


"Kalau kamu membutuhkan uang, datanglah tiap hari ke kantor kakak dan bantu pekerjaan Kakak di sana. Nanti kakak akan memberikan gaji untukmu. Karena sekarang, waktunya bagi kamu untuk belajar mencari uang sendiri jangan hanya tahu menghambur-hamburkan uang saja." Ujar Raka dengan tegas. Ketegasan raka itu membuat nyali Meta menjadi sedikit menciut. namun ia masih mencoba untuk bernegosiasi kepada kakaknya itu.


"Ya nggak bisa gitu dong Kak... Kalau kakak mau kasih uang sama Meta, ya Kakak kasih aja tanpa harus menyuruh Meta bekerja atau segala macamnya. Lagian itu Apa susahnya sih Kak..??" Ujar Meta yang tidak terima disuruh bekerja oleh kakaknya itu. Raka yang mendengar mulut lancang adiknya itu langsung tersenyum sinis.


"Kalau begitu, kamu tidak akan mendapatkan uang. Dan sebaiknya pengaturan keuangan kalian kakak yang akan mengatur. Lagi pula, butik mama saat ini butuh suntikan dana yang besar. akibat ulahmu yang mengambil uang 100 juta di butik mama. Dan satu hal yang harus kamu tahu Meta, jangan sampai Kakak menemukan sesuatu yang membuat kakak marah dengan tingkah lakumu di luar itu. Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya seperti apa. Paham kamu.!! Sekarang kalian berdua kembali ke kamar masing-masing dan tidak ada yang boleh meminta uang kepada Mama. karena uang kalian Kakak yang menghandle. Dan uang yang akan Kakak berikan juga akan Kakak kurangi dari uang yang biasa kalian terima. Dan tidak ada penolakan." Ujar Raka lagi dengan tegas ketika melihat Meta bereaksi Yang sepertinya akan menolak apa yang disampaikan oleh kakaknya itu.


"Iya Kak, mita mengerti.. kalau begitu mita ke kamar dulu..mama, Mita ke kamar dulu ya ma.." ujar Mita kepada kedua kakaknya dan juga mamanya.


"iya nak." ujar nyonya Ratih. Tak ada sambutan atau kangen-kangenan di sana, karena waktu nya cukup tidak tepat saat ini. Meta sendiri yang masih kesel langsung meninggalkan tempat tersebut. Sementara nyonya Ratih yang masih berada di tempat itu hanya mampu menarik nafasnya dengan pasrah.


"Huf.. Mama tidak habis pikir... Meta semakin hari semakin melunjak. Mama cukup khawatir dan prihatin melihat sikapnya seperti itu. Dan itu semua adalah salah Mama yang dahulunya mengabaikan nasehat papa kalian." Ujar nyonya ratih dengan wajah sayu.


"Ya sudah. Sebaiknya kalian beristirahat dulu nak. maaf ya, telah membuat kegaduhan seperti ini. Nanti kita makan malam bersama." Ujar nyonya Ratih lagi kepada kedua putranya.