JULIA

JULIA
101. mencari keberadaan suami dan anak-anaknya



Menurutnya, masalah kedua orang tuanya, yang seperti selalu memikirkan kehidupan ke depannya Bagaimana, membuat Arvin selalu menyangga dan menyelah, bahkan tidak menyetujui rencana-rencana itu.


Lagi pula, di saat mereka tua nanti, siapa yang akan merawat keduanya kalau hidup terpisah, dan apalagi mereka yang selalu sibuk mengurusi perusahaan atau usaha masing-masing.


Arvin takutnya mereka tidak akan sempat pulang kampung dan melihat kedua orang tua mereka. karena itu, Lebih baik kedua orang tua mereka tetap berada di samping mereka dan juga merawat kedua orang tua mereka sebagaimana mestinya.


"Iya. Abi juga nggak setuju. Tapi nanti kalau mama sama papa mau menikmati suasana sejuk seperti ini, nanti kita bangun Desa mini saja di kediaman kita." Ujar Abi kepada kedua orang tuanya. Nyonya Salsa terkekeh mendengar penuturan itu. ia tidak menyangka, bahwa respon anak-anaknya akan seperti itu. padahal semua itu masih menjadi sebuah wacana saja.


"Iya, lagi pula, mama sama papa kan cuma berencana saja. Kenapa juga kalian jadi baper seperti ini." Ujar nyonya Salsa sambil tersenyum kepada anak-anaknya.


Walaupun mereka sudah besar dan sudah bisa mengurus diri mereka sendiri, Tapi tetap saja, di hadapan kedua orang tua mereka, mereka masihlah seorang anak kecil atau bahkan mereka sendiri masih membutuhkan kehadiran kedua orang tua mereka.


Bila perlu, mereka tidak mau kehilangan kedua orang tuanya itu. Begitu jugalah yang dirasakan Julia kepada kedua orang tuanya. Walaupun Julia telah pergi meninggalkan keluarganya itu, namun Julia juga tidak ingin kedua orang tuanya berpecah belah atau bahkan berpisah secara hukum dan agama.


Ia tetap ingin melihat keharmonisan kedua orang tuanya tetap terjalin. Begitu juga dengan saudara-saudaranya. Saat mereka sedang menikmati udara sepoi-sepoi itu, mereka semua mengobrol dengan santai dan Bahkan mereka tak membahas masalah jodoh, pekerjaan ataupun permasalahan-permasalahan yang terjadi di masa lalu. Mereka semua tetap fokus membicarakan keindahan alam di desa pariangan ini.


***


Sementara di tempat lain. Nyonya Ratih yang berkali-kali mendatangi apartemen raka untuk bertemu dengan suami dan anak laki-lakinya itu, lagi-lagi dibuat khawatir dan cemas. Karena berkali-kali ia mendatangi apartemen Raka, berkali-kali juga ia tak menemukan keberadaan suami dan anak-anaknya itu. Pikiran-pikiran kotor mulai memasuki pikiran nyonya Ratih apalagi memikirkan tingkah Meta yang semakin hari semakin membangkang.


"Ke mana sih, mas Sanjaya dan anak-anak..?? Apakah mereka baik-baik saja. Atau, sakit mas Sanjaya semakin parah.??. Aduh bagaimana ini... Kalau aku harus mencari mereka ke rumah sakit, aku harus mencari mereka ke rumah sakit mana ??. Sebaiknya aku pergi ke perusahaan saja mana tahu Mereka di sana dapat mengetahui keberadaan suami dan anak-anakku.* Ujar nyonya Ratih lagi.


Akhirnya nyonya Ratih meninggalkan apartemen Raka dan kembali memerintahkan kepada sang supir untuk pergi ke perusahaan putranya Raka dan juga suaminya. Nyonya Ratih benar-benar berharap, dari sana ia bisa mendapatkan informasi keberadaan suami dan anak-anaknya. Sesampainya nyonya Ratih di perusahaan itu, ia langsung disambut baik oleh sang satpam.


"Selamat siang nyonya.." ujar satpam tersebut dengan penuh hormat. Nyonya Ratih pun menganggukkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam. di dalam, ia kemudian bertanya kepada resepsionis yang ada di sana.


"Selamat pagi ibu, ada yang bisa kami bantu..??" Tanya sang resepsionis kepada nyonya Ratih.


"Saya ingin bertemu dengan Putra saya dan juga suami saya." Ujar nyonya Ratih mengutarakan niatnya. Resepsionis yang sudah mengenal Siapa nyonya Ratih langsung mengutarakannya.


Nyonya Ratih yang mendengarkan penuturan itu langsung terkejut. Ternyata tak hanya di apartemen saja, tetapi di kantor juga suami dan anak-anaknya tidak ada.


"Apa !!! Jadi anak dan suami saya sedang tidak berada di kantor dan bahkan beberapa hari ini mereka tidak datang..??" Tanya nyonya Ratih kepada sang resepsionis dengan suara yang naik satu oktaf. Bahkan resepsionis itu sendiri terkejut mendengar suara teriakan dari nyonya Ratih.


"I-iya nyonya." Jawab resepsionis itu dengan nada suara yang terbata-bata.


Di sana nyonya Ratih terdiam, Ia tidak habis pikir. di mana dia akan menemukan masa bertemu dengan keadaan yang seperti ini. Karena masih merasa belum puas, nyonya Ratih kembali meminta kepada sang resepsionis untuk menghubungi asisten putranya itu.


"Kalau begitu, tolong hubungi asisten Putra saya sebentar. Saya ingin berbicara kepadanya..??" Ujar nyonya Ratih lagi dengan nada suara yang sudah tidak bersemangat lagi. Namun, Ia juga tidak mungkin kan marah-marah kepada sang resepsionis sementara resepsionis itu tidak tahu apa-apa. semarah marahnya nyonya Ratih, Ia tentu akan bersikap realistis.


"Baik nyonya. Kalau begitu silakan tunggu di kursi saja."! Ujar resepsionis itu sambil mempersilakan nyonya Ratih duduk di sana. sementara dirinya langsung menghubungi sang asisten. 5 menit nyonya Ratih menunggu di sana, tiba-tiba muncullah sang asisten milik putranya itu, yaItu Jaka.


"Selamat siang nyonya. Maaf apakah ada yang bisa saya bantu..??" Tanya jaka kepada nyonya Ratih. Karena nyonya Ratih yang sudah mengenal sang asisten itu pun langsung mengutarakan niatnya bertemu tadi.


"Maaf mengganggu pekerjaanmu dan waktumu Jaka. Aku hanya ingin tahu kemana putraku dan juga suamiku pergi. Dan aku harap kamu juga dapat memberitahukannya kepadaku." Ujar nyonya Ratih lagi kepada sang asisten putranya itu.


Jaka yang memang mengetahui kemana atasannya itu pergi, namun tidak tahu pasti ke mana tujuannya memilih untuk menyembunyikannya. karena itu semua adalah perintah dari Raka.


"Maaf nyonya, saya juga kurang tahu. Tapi yang pasti Tuan Raka mengatakan libur untuk datang ke perusahaan dengan alasan bahwa Tuan Sanjaya semakin terpuruk. Beberapa hari yang lalu, saya mengantarkan tuan Raka ke bandara tapi saya tidak tahu pasti ke mana tujuan Tuan Raka." Ujar asisten tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan kepada nyonya Ratih.


Nyonya Ratih yang kembali mendengar penuturan sang asisten putranya itu pun kembali terkejut. Berarti saat ini kedua putranya dan juga suaminya sedang tidak berada di kota ini. Tapi ke mana mereka pergi begitulah pikir nyonya Ratih. ditambah lagi nyonya Ratih kepikiran tentang sakit yang dialami suaminya.


"Apakah kamu yakin Jaka..??" Tanya nyonya Ratih lagi.


jaka pun kembali menganggukkan kepalanya dengan yakin. Akhirnya nyonya Ratih pun terduduk. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya lagi.