
Tuan Sanjaya yang mendengarkan penuturan anak tengahnya itu tak kuasa menahan tangisnya. Sementara semua yang ada di sana terdiam membungkam mulut mereka tanpa ada yang berani bersuara. tuan Sanjaya pun bangkit, berniat untuk merangkul putrinya, tapi Julia malah memperlihatkan sikap penolakan dengan mengangkat sebelah tangannya.
"Mulai sekarang, mama boleh tidak menganggap ku sebagai anak lagi. Aku juga tidak akan menganggap Mama ataupun suami Mama sebagai kedua orang tuaku, dan anak-anak mama sebagai saudara-saudaraku. Mulai sekarang aku resmi melepas nama keluarga besar Kusuma di belakang namaku, walaupun sebenarnya nama itu tak pernah diselipkan di belakang namaku. Aku tidak akan mengembalikan semua yang Mama berikan kepadaku dulu, karena memang tidak ada satupun yang Mama berikan secara baik-baik. Dan aku harap juga, semua yang Mama berikan sudah aku lunaskan dengan pengabdian ku selama ini. Dan aku doakan, mudah-mudahan anak mama dan papa menjadi anak-anak yang bisa mama dan papa banggakan. Ini adalah penghormatan terakhirku kepada Mama dan papa yang sudah melahirkan dan menghadirkan ku ke dunia ini." Ujar Julia dengan suara yang begitu pilu dan sangat menyayat.
Bahkan nyonya salsa tak kuasa menahan tangisnya. Setelah mengatakan hal itu, Julia langsung membungkukkan kepalanya memberikan penghormatan terakhir. Setelah itu, ia langsung beranjak pergi dari sana tanpa memperdulikan keluarga Tuan Antonio yang memanggil namanya.
entah kenapa, Dari lubuk hati yang paling dalam nyonya Ratih merasa menyesal telah mengatakan hal itu kepada anaknya. tapi karena egonya cukup tinggi, Ia tak melakukan apapun untuk mencegah kepergian Julia. Ia hanya menatap dengan tatapan yang sulit diartikan. sementara yang lainnya tidak dapat melakukan apapun. mereka mencerna semua penuturan Julia yang memang benar adanya.
dan Kali ini keputusan Julia telah bulat, Ia tidak akan luluh lagi dan akan keluar dari keluarga Kusuma. ia tidak peduli Bagaimana dengan sekolahnya, rasanya sudah cukup untuk bertahan sejauh ini. ia sendiri harus menjaga pikirannya agar tetap waras dan tak memikirkan hal yang macam-macam.
"Abi cepat susul adik mu. Jangan biarkan dia jauh dari jangkauan kita.." ujar Tuan Antonio memerintahkan anak bungsunya itu.
"baik pa." jawan Abi. Tanpa menunggu lama lagi, Abi dan Melvin langsung berlari menyusul Julia yang sudah keluar pergi terlebih dahulu. Sementara nyonya salsa yang belum merasa puas langsung menghadang Ratih kembali.
"Puas kamu Ratih..?? Puas sudah menyakiti hati anakmu sendiri.. Aku tidak menyangka, ternyata beginilah sifat aslimu yang sebenarnya. aku juga tidak menyangka, dengan ringannya mulutmu mengeluarkan kata-kata seperti itu di hadapan anakmu sendiri. sungguh kejam sekali.. " Ujar nyonya salsa.
Setelah mengatakan hal itu, nyonya Salsa pun langsung bergegas pergi tanpa melihat ke belakang lagi. Tuan Antonio, Arvin dan Aliando juga ikut menyusul sang mama.
namun, Sebelum Tuan Antonio melangkahkan kakinya menyusul sang istri, ia terlebih dahulu menatap orang-orang itu satu persatu. Tuan Antonio pun langsung menggelengkan kepalanya Ia tidak menyangka bahwa akan ada kejadian yang luar biasa seperti ini. niat hati ingin menjenguk kedua keponakan nya, tapi malah jadi seperti ini.
Sementara itu, setelah selesai aksi perdebatan antara nyonya Ratih dengan nyonya salsa dan keluarnya ultimatum yang dikeluarkan oleh Julia, Ada seorang gadis yang tentu saja tertawa girang dalam hatinya mendapati perdebatan tersebut. walaupun hatinya agak sedikit jengkel karena mendengar penuturan sang bibi, tapi Ia tak pernah merasa bersalah dalam hatinya, malahan Ia begitu sangat senang melihat Julia hengkang dari keluarga Kusuma.
(Yes !! kalau begini kan enak. Tak ada anak pembawa sial lagi dari keluarga Kusuma.. hehehe.. sekarang tinggal bagaimana caranya untuk memperbaiki Citra di hadapan keluarga Paman Antonio dan juga kakak-kakak sepupu. Biar nanti aku bisa mendapatkan belanja dari mereka hahaha.) Batin Meta.
Ia tak merasa sedih sedikitpun melihat perdebatan itu. Bahkan sepenuh hati yang sangat mendukung penuturan sang mama yang mengatakan bahwa Julia itu adalah anak pembawa sial.
***
Sementara di posisi lain. Julia benar-benar terpukul dengan penuturan ibu kandungnya. bahkan dengan terang-terangan sang mama menunjukkan kebenciannya terhadap dirinya. dari arah belakang, Abi dan Melvin datang menyusul dirinya.
"dek... " ujar Melvin. mereka ngos-ngosan karena mengejar sang adik. Julia dengan cepat menghapus air matanya dan melihat kearah mereka.
"aku tidak apa-apa. sekarang, Julia bukan bagian dari kalian lagi. Julia juga tidak ingin membawa sial untuk keluarga paman dan kalian semua. julia.-" ucapannya langsung terpotong oleh penuturan Melvin.
"kamu ngomong apa dek..?? tidak akan ada yang seperti itu. tidak ada yang menganggapmu sebagai anak pembawa sial, di mana-mana anak itu pembawa berkah dek. tapi, mungkin kamu sudah memutuskan untuk tidak menganggap keluarga Kusuma lagi. tapi tidak dengan kami, kami tidak ingin hal itu terjadi." ujar Melvin. ia berjalan dan langsung merangkul adiknya itu. seketika tangis yang Julia tahan langsung pecah. ia menangis terisak-isak dalam pelukan kakak sepupu nya.
setiap Julia sedih dan mendapatkan masalah, yang menjadi penenangnya pasti saudara-saudara sepupunya. ia juga berharap, tak hanya saudara sepupunya, tapi juga saudara-saudara kandungan ikut menghiburnya. tapi, sekarang ini semua itu hanyalah sebatas harapan tanpa bisa mewujudkan nya.
"sebaiknya kita pulang dulu kak. kita bicarakan ini dirumah nanti. dan Julia, tenang aja dek, kami tidak akan meninggalkan mu. sekarang kita pulang dulu ya." ujar Abi. ia cukup sedih melihat saudara nya seperti ini. ia ingin marah dan memaki, tapi tidak bisa.
akhirnya, Setelah mendapatkan bujukan dari saudara sepupunya, Julia akhirnya menurut dan ikut pulang bersama dengan kakak-kakaknya kembali ke kediaman Tuan Antonio. Tapi bukan berarti Julia tidak memiliki rencana. Ia tetap akan melanjutkan rencananya untuk pergi jauh dari pantauan keluarga Kusuma. Biar saja hidupnya tak menentu miskin dan terlunta-lunta di jalan. Asalkan ia tak berada dekat dengan keluarga Kusuma.
***
Kini, Julia dan kedua saudara sepupunya telah sampai di kediaman Tuan Antonio. Tak lama setelah itu, mobil Tuan Antonio pun datang menyusul mereka. Mereka semua turun dari dalam mobil, saat Julia turun dari mobil, dengan segera nyonya Salsa langsung berlari dan memeluk keponakan dari suaminya itu. Hati nyonya Salsa menjadi sakit memikirkan perkataan nyonya Ratih yang telah menyakiti hati putrinya.
"Jangan takut sayang. Di sini ada paman dan bibi. Ada juga keempat saudara-saudara sepupumu.. Jangan dengarkan apapun kata mereka." Ujar nyonya Salsa. Ia melepaskan pelukannya pada Julia.