JULIA

JULIA
104. tinggal sementara



Nyonya Sofia sendiri sengaja mengatakan hal ini agar melodi sendiri dapat berpikir. karena, setelah dirinya terikat dengan pernikahan maka hal-hal yang pernah ia lakukan semasa masih lajang tidak akan bisa ia dapatkan lagi dengan bebas atau semaunya. Mendengar nasehat dari nyonya Sofia, melodi langsung menganggukkan kepalanya. Tapi bukan berarti ia akan menuruti hal tersebut.


"Baik tante melodi mengerti. Kalau begitu melodi pamit dulu ya Tan." Setelah menyalami tangan nyonya Sofia, melodi pun langsung hengkang dari kediaman besar itu.


Tujuannya sekarang adalah berkumpul dengan teman-temannya. untuk sementara, Ia cukup puas mendengar ucapan dari nyonya Sofia yang akan membujuk Brian untuk segera bertunangan dengannya. karena melodi yakin, kalau Brian tidak akan bisa membantah Apa yang diucapkan oleh kedua orang tuanya. Dia tidak tahu saja, kalau saat ini Brian tengah bersiap-siap untuk melakukan perjalanannya ke Sumatera barat.


***


Sementara itu, selama seminggu ini Julia meluangkan waktunya untuk menemani keluarganya berjalan-jalan. Mereka telah pergi mengunjungi tempat-tempat wisata yang ada. Bahkan mengabadikan momen di sana. Tak lupa juga Julia mengambil video blognya untuk ia update di YouTube. Dan sekarang saatnya bagi keluarga itu untuk kembali ke Jakarta kecuali Tuan Sanjaya.


"Dek, kami titip papa ya, Kalau ada apa-apa langsung kabari saja." Ujar Raka kepada Julia.


Raka memeluk sayang tubuh adiknya itu seolah tak ingin melepaskannya. Tuan Sanjaya yang memang sudah berangsur-angsur pulih langsung menyahut mendengarkan penuturan putranya.


"Papa tidak apa-apa..?? Lagian Kenapa harus menitipkan papa kepada adikmu justru adikmu yang harus dititipkan ke papa paham tidak.." ujar Tuan Sanjaya yang akhir-akhir ini memang sangat posesif terhadap putrinya. Raka pun tersenyum jika pada Tuhan Sanjaya Begitu juga dengan yang lainnya.


"Iya pah, kakak tahu. Papa juga jangan lupa kontrol ke rumah sakit biar cepat sembuh." Ujar Raka yang kini beralih memeluk tubuh Tuan Sanjaya. Tuan Sanjaya juga membalas pelukan anak-anaknya itu dengan penuh kasih sayang.


"Kalian baik-baik di sana ya nak. Ingat, jangan dulu katakan apa-apa kepada Mama kalian. Sampai nanti papa kembali. biarkan saja Mama kalian introspeksi diri dulu. Setidaknya dengan cara seperti ini barangkali mama bisa berubah." Ujar Tuan Sanjaya kepada kedua putranya.


"Tapi walaupun begitu, kalian berdua harus tetap menjaga mama dan kedua Adik kalian. Jangan membedakan kasih sayang lagi ya nak." Ujar Tuan Sanjaya lagi.


"Iya pa, nasehat papa pasti akan kami laksanakan.." setelah memeluk kedua putranya kini giliran Tuan Antonio yang dipeluknya dan juga keponakannya yang lain.


"Mas dan Mbak peserta keponakan-keponakan Om hati-hati di jalan ya nak. Dan mas, jangan lupa kabari kalau sudah sampai di Jakarta. Dan juga mohon kerjasamanya juga ya Mbak mas.." ujar Tuan Sanjaya lagi kepada kakaknya.


Antonio langsung melayangkan satu jitakkan di kepala adiknya itu. Nyatanya, walaupun mereka sudah berumur namun Tuan Sanjaya dan Tuan Antonio tetap berlaku layaknya kakak adik yang harmonis.


"Tentu saja. Kakak titip ponakan cantik mas kepadamu ya. Ingat jangan ditelantarkan lagi atau mas akan menggorok lehermu. dan, jangan sampai merasa nyaman juga, ingat jangan cari janda.." Ujar Tuan Antonio sambil mempraktekkan caranya menggorok leher Sanjaya.


tuan Antonio juga memelankan suaranya diakhir kalimatnya agar tidak terdengar. tapi, tetap saja. mereka mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Antonio. mendengar itu, Sanjaya dan yang lainnya pun terkekeh.


"Iya mas Sanjaya janji. Masa lalu, itulah yang terakhir kali Sanjaya menyakiti anak kandung Sanjaya. Terima kasih juga mas sudah memberikan perhatian mas kepada putri Sanjaya. Kepada mbak juga, saya mengucapkan terima kasih banyak Mbak." Ujar Tuan Sanjaya dengan penuh kesopanan layaknya seorang adik yang menghormati kakaknya. senyum di bibirnya juga tidak pernah luntur.


"Ya Sanjaya sama-sama. lupakan saja kata-kata mas tadi ya.. hehehe.." Setelah itu mereka semua pun langsung berpelukan satu sama lain.


Suasana haru sedikit tercipta di sana. tuan Sanjaya benar-benar bersyukur memiliki keluarga seperti Keluarga tuan Antonio. Tak lama pemberitahuan keberangkatan pesawat pun langsung terdengar. Dan dengan berat hati mereka semua berpisah di tempat itu. Setelah beberapa menit mereka menunggu pesawat itu terbang, barulah Tuan Sanjaya dan Julia meninggalkan bandara tersebut.


"Ayo pah kita pulang.." ujar Julia kepada ayahnya.


Tuan Sanjaya pun tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tentu saja berat berpisah dengan keluarganya walaupun hanya sementara. Dirinya saja yang baru mengalami perasaan seperti ini sudah tidak kuasa, apalagi ketika membayangkan putrinya yang bertahun-tahun mereka asingkan.


"Sayang, maafkan papa di masa lalu ya. Ternyata begini rasanya berpisah dengan keluarga walaupun hanya sebentar." Ujar Tuan Sanjaya sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba turun begitu saja. Julia yang melihat kesedihan di mata ayahnya pun langsung memeluk tubuh Tuan Sanjaya.


"Papa tenang saja. Julia sudah memaafkan papa dan Mama serta semuanya. Tapi mungkin Julia masih belum bisa memaksakan diri untuk datang ke kota itu lagi." Ujar Julia kepada tuan Sanjaya. Tuan Sanjaya pun paham dan membalas pelukan putrinya.


"Iya papa mengerti. Ya sudah ayo kita kembali.." akhirnya Tuan Sanjaya dan Julia pun meninggalkan bandara tersebut dan kembali ke kediaman Julia. Sekarang kediaman itu terasa sepi karena para penghuni kediaman telah kembali ke kediamannya masing-masing. Di sana hanya ada seorang ayah dan juga putrinya.


***


Sementara di posisi lain, Brian telah menempati apartemen yang diberikan oleh asistennya Rio. sebelum meninggalkan kota kelahirannya. ia saat ini memantau perusahaannya dari jauh saja, lagi pula di perusahaannya banyak orang-orang kepercayaannya.


Selama seminggu ini juga, dia sudah mendapatkan kabar dari kedua orang yang diutus untuk mencari alamat dan tempat tinggal Julia. Hanya saja informasi terakhir yang Julia dengar kalau keluarga itu sedang pergi jalan-jalan untuk menuntaskan rasa penasaran mereka terhadap kota Sumatera barat ini atau pulau Sumatera. Sehingga Brian sendiri mengurungkan niatnya terlebih dahulu untuk bertemu dengan Julia. Saat Brian tengah fokus mengerjakan pekerjaannya, tiba-tiba informasinya kembali masuk ke dalam handphone mahal itu.


Ting


Brian mengambil benda pipih itu dan membacanya. Seketika seulas senyum terbit di bibirnya. Apalagi kalau bukan informasi mengenai Julia yang telah kembali dari jalan-jalan bersama dengan keluarganya itu. Ia juga sekaligus mendapat kabar bahwa keluarga Tuan Antonio telah kembali ke Jakarta bersama yang lain dan hanya tersisa Tuan Sanjaya dan Julia saja di kediaman itu.


"Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak akan merasa canggung ketika bertemu dengan Abi dan kakak-kakaknya nanti. Tentu saja untuk bertemu mereka harus berproses dan bertahap. Bisa-bisa aku langsung dikuliti oleh mereka." Ujar Brian sambil bergidik ngeri membayangkan hal itu.