JULIA

JULIA
71. seminggu tidak terlihat



Tuan Sanjaya benar-benar menyesal saat itu tidak membela dan menegur istrinya karena dirinya masih diliputi perasaan syok dan tak bisa berpikir jernih. Sementara Tuan Sanjaya masih termenung, tiba-tiba salah satu tangan dari Ridho bergerak menunjukkan bahwa sebentar lagi dia akan tersadar.


"Papa..." Ujar Ridho dengan suara lirih dan sangat pelan. Tuan Sanjaya yang mendengar suara lemah itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah brankar sang anak kedua. Tuan Sanjaya melihat kelopak Ridho telah terbuka, tatapan matanya begitu lemah dan sayu.


Dengan cepat Tuan Sanjaya menghapus air matanya dan segera menekan tombol hijau.


"Iya nak ini papa. Apa kamu butuh sesuatu nak..??" Tanya Tuan Sanjaya bercampur dengan rasa senang. Akhirnya salah satu anaknya sadar juga dari pingsan mereka walaupun butuh waktu seminggu salah satu putranya bisa sadar.


"Mana Julia pa...??" Tanya Ridho kepada tuan Sanjaya. Bukannya mencari sang Mama atau Adik kembarnya yang biasa ia belah mati-matian, Ia malah mencari Julia adik yang tidak pernah mereka pedulikan sebelumnya. Matanya mulai meneliti kanan dan kiri mencari keberadaan Julia. Sementara Tuan Sanjaya tak dapat mengatakan apapun.


"Oh itu. Adikmu sudah pulang, nanti dia akan ke sini lagi, tapi kemungkinan akan jarang karena masih sibuk dengan sekolahnya." Ujar Tuan Sanjaya membohongi putranya.


Dalam kondisi sang anak yang masih lemah itu, tidak mungkin rasanya Tuan Sanjaya mengatakan hal yang sebenarnya. Tak lama para dokter pun datang memasuki ruangan tersebut, dan langsung memeriksa kondisi Ridho.


***


Keesokan harinya di sekolah internasional mantan sekolah Julia dulu, sudah seminggu ini Brian terlihat uring-uringan. Tentu saja penyebabnya karena seminggu ini tak melihat dan menemukan keberadaan Julia. Ia bahkan sering bolak-balik melihat akun sosial media Julia namun tak menemukan informasi apapun. Bahkan teman-teman dari Brian menjadi bingung Melihat tingkahnya itu.


(Dia ke mana sih. Selama seminggu ini aku tidak menemukan keberadaannya. Apakah dia baik-baik saja..??) Batin Brian.


Bahkan saat ini dirinya sedang mengotak-atik handphonenya. Beberapa pesan yang ia kirimkan ke nomor Julia sama sekali tidak pernah checklist 2. Memikirkan hal itu, Brian dibuat bingung sendiri. Sehingga teman-temannya bertanya.


"Lah, kenapa lagi sih Bray.!! Akhir-akhir ini kamu itu benar-benar berubah tahu nggak.?? Diajak bercanda marah, kalau nggak marah pasti diam saja. Terus juga pas pulang sekolah, nongkrong di parkiran sambil liatin para siswa keluar dari sekolah sampai sepi. Terus kalau pagi-pagi kamu yang datang paling awal.. ada apaan sih Bray..??" Tanya Galang kepada Brian. Brian pun tak ingin menuturkan gengsinya lagi.


"Aku sedang mencari keberadaan Julia. Kalian tahu kan sudah seminggu ini Julia tidak terlihat di sekolah. Bahkan kita juga tak menemukan Julia di sisi Abi. Aku mengkhawatirkannya.." ujar Brian dengan lemah. Galang dan yang lainnya yang mendengar penuturan Brian langsung terkejut.


"WHAT!!!! Jadi selama ini yang membuat kamu itu uring-uringan, marah nggak jelas, bertingkah aneh, itu semua gara-gara Julia.. wah wah keren lu Bray. Aku pikir kamu beneran udah move on... Atau merasa senang karena ditinggal Julia. Ternyata, karena itu kamu jadi seperti ini hahaha... Apa ini namanya karma ya.." ujar Galang lagi tanpa menyadari suasana. Brian sama sekali tak menimpali ucapan Galang, hari ini memang mood-nya sedang buruk karena merasa khawatir kepada Julia.


"Serah lo deh lang. Tapi masak diantara kita semua nggak ada yang mengetahui informasi tentang Julia sih..?? Kira-kira kalian tahu nggak..??" Tanya Brian lagi kepada teman-temannya. Tapi ternyata mereka semua malah menggelengkan kepala mereka.


Brian yang mendengar penuturan Adri langsung tercerahkan. Namun untuk poin pertama memang mustahil untuk dia lakukan, pastilah Abi tidak akan memberitahu Brian di mana keberadaan Julia saat ini.


"Tumben otak lo encer dri... Tapi makasih ya usulnya.. kalau gitu gue duluan, Aku mau ketemu sama kepala sekolah langsung." Ujar Brian dengan tergesa-gesa.


Bahkan dengan cepat Brian langsung meninggalkan teman-temannya yang masih menikmati makanan mereka di kantin. Keempat teman-temannya itu langsung menggelengkan kepala melihat tingkat Brian. Dan yang paling membuat mereka tidak menyangka adalah karena Brian terpuruk memikirkan keberadaan Julia. Dan hal itu tentu saja sesuatu yang sangat mustahil bagi seorang Brian.


"Gue pikir, dia sedang ada masalah yang sangat berat, tapi ternyata dia mengalami rindu yang sangat berat kepada dunia hahaha." Ujar Charles kala itu. Yang lainnya pun ikut menganggukkan kepala.


"Iya tuh bener. Ada-ada saja sih Brian. padahal dulu ketika dirinya sering ditempelin sama Julia, Ia sering menolak dan membentak-bentak Julia. Tapi ketika julianya sudah tidak melakukan hal itu lagi dan bahkan menghilang selama seminggu ini, malah membuat dia uring-uringan dan barangkali dunianya hancur kali ya.." jawab Ariel.


Mereka semua pun terkekeh memikirkan betapa konyolnya Brian saat ini. Dan akhirnya mereka pun semua sadar kalau perubahan sikap yang terjadi belakangan ini adalah pengaruh dari Julia. Sementara di posisi lain, Abi juga tak kalah dibuat galau. Walaupun ia juga memiliki beberapa teman akrab di sekolah ini, namun rasanya kehidupannya sepi saja karena tak ada saudara sepupu di sampingnya.


Kali ini, Brian sudah berada dalam ruang kepala sekolah. Dengan akses yang ia miliki, tentu dengan mudah baginya untuk masuk dan mendapat informasi mengenai Julia. Walaupun harus mengupayakan beberapa cara untuk membujuk kepala sekolah mereka itu. Tapi, ternyata informasi yang ia dapatkan cukup membuatnya terpukul.


Flashback


Setelah Brian mendapat usul dari teman-teman nya, ia langsung bergegas berlari menuju ruang kepala sekolah dan langsung mengetuk pintu itu. Walaupun Brian adalah cucu dari pemilik sekolah ini, tapi ia juga harus punya etika, bisa-bisa kakeknya akan menghukum dirinya kalau sampai beliau mendengar kelakuan sang cucu.


Tok tok tok


Ceklek


"Permisi pak. Boleh saya masuk .??" Tanya Brian kepada kepala sekolah itu. Mendengar ada yang berbicara, kepala sekolah yang mengenakan kacamata langsung menurunkan sedikit kacamatanya dan melirik ke arah Brian.


"Masuk. Ada apa Brian..??" Tanya kepala sekolah setelah Brian duduk di depannya. Brian mencoba menghela nafasnya dulu.


"Maaf pak. Saya cuma mau tanya, bagaimana kabar siswi yang bernama Julia Anita. Sudah seminggu saya tidak melihatnya." Ujar Brian tanpa basa-basi. Mendengar penuturan Brian, kepala sekolah itu pun langsung mengerutkan keningnya.