JULIA

JULIA
88. kabar kondisi tuan Sanjaya



Aliando tersenyum lucu karena mendapatkan teguran dari sang adik. Tak lama acara makan siang pun berakhir. Setelah membereskan kembali meja-meja, Julia dan keluarga pamannya kembali duduk di ruang tamu.


"Dek, dek tadi bibi lihat foto-foto kamu di tempat-tempat wisata..?? Gimana.?? selama paman dan bibi di sini, kita jalan-jalan ya.. bibi penasaran.." ujar nyonya Salsa kepada keponakan suaminya.


"Tentu saja bibi.. itu adalah hal yang bagus, sekalian Julia juga mau konten di sana kapan lagi kan, di konten Julia ada paman dan bibi dan juga abang-abang Julia. Mana tahu dengan adanya wajah-wajah abang-abang Julia, para subscriber Julia bertambah banyak." Ujar Julia kepada keluarga pamannya sambil terkekeh. Melvin yang duduk di samping Julia langsung merangkul tubuh adiknya itu.


"Tentu saja adikku sayang.. cup." Ujar Melvin sambil meninggalkan satu kecupan di dahi Julia. Julia sendiri tak mau membuang kesempatan untuk melepas rindunya kepada saudara sepupunya yang ini. Ia membalas pelukan Melvin dan bersandar di dada bidang sepupunya.


"Terima kasih Kakak sayang.." ujar Julia dengan manjanya. Mereka semua terkekeh.


"Oh iya nak. Apakah kamu tidak penasaran ingin mendengar berita tentang keluarga kandungmu.. papa kamu seringkali datang ke rumah dan menanyakan keberadaanmu kepada paman. Keadaan papa kamu sekarang sangat kacau, sepertinya ya benar-benar merindukanmu nak. Bahkan saat ini papa kamu memisahkan diri dan tinggal di apartemen kakak kamu, sendirian karena beberapa bulan yang lalu, Ia beradu mulut dengan mama kamu. kurang lebih Paman dengar informasinya seperti itu." Ujar Tuan Antonio kepada Julia.


Mereka semua menjadi diam menunggu reaksi apa yang akan diberikan oleh Julia. Julia yang mendengar penuturan Tuan Antonio langsung melerai pelukannya pada Kakak sepupunya. kemudian wajah cerianya berubah menjadi sendu.


"Apakah mama belum bisa menerimaku paman..?? Atau kedua orang tuaku memang tidak menginginkanku..?" Ujar Julia kepada tuan Antonio. entah kenapa, Julia malah bertanya seperti itu.


Jujur saja, Julia yang mendengar kondisi rumah tangga kedua orang tuanya menjadi khawatir sendiri. Apalagi sang ayah malah memilih untuk tinggal sendiri di apartemen. Siapa yang akan mengurusnya nanti. Pikir Julia. Mungkin lebih baik mereka membenci Julia, tapi papa dan mamanya tetap bersama dan tak ada selisih atau masalah apapun di keluarga mereka. Itu jauh lebih baik.


"Paman rasa tidak seperti itu nak. Mungkin kedua orang tuamu menyesal karena sudah mengusirmu dan menyalahkan mu. Kalau Paman tidak salah dengar, papamu sedikit menjadi marah sama mama kamu, karena mama kamu selalu membela Meta yang selalu membuat masalah. Tapi mereka juga sedang fokus mencari keberadaanmu. Karena kamu juga tidak kunjung ditemukan, papa kamu sering mengalami frustasi karena merasa bersalah tidak menghalangi Mama kamu waktu itu." Mendengar cerita dari tuan Antonio.


Entah kenapa hati Julia benar-benar sakit. Namun rasa sakit yang dialami sekarang adalah lebih tepatnya takut dan tidak ingin terjadi apa-apa dengan kedua orang tuanya dan juga keluarganya. Ia sudah mengalah dan pergi jauh dari jangkauan kedua orang tuanya, agar mereka senang. tetapi kenapa malah menjadi seperti ini.


Semarah dan sebenci apapun Julia terhadap tingkah laku dari kedua orang tuanya, namun Julia tidak bisa menjadi dendam terhadap kedua orang tua sendiri. Karena walau bagaimanapun darah dan daging yang ada dan mengalir dalam dirinya adalah milik kedua orang tuanya.


Saat suasana Hening itu, tiba-tiba dering telepon Tuan Antonio berbunyi. Ia melihat alamat panggilannya adalah Raka. Kakak pertama dari Julia. Entah apa yang Tuan Antonio rasakan, ia langsung mengangkat panggilan itu. biasanya dia akan berpikir berulang-ulang untuk memikirkan alasan apa yang harus dikatakan kepada keponakannya itu.


"Halo Paman. assalamualaikum.. paman dan bibi di mana.. tadi Raka ke rumah paman, Raka cuma mau menyampaikan bahwa kondisi papa sedang tidak baik-baik saja. Papa sepertinya frustasi dan ingin mengakhiri hidupnya saja."! Ujar Raka di dalam telepon. Terdengar sangat lebay, tapi Tuan Antonio tidak langsung menjadi panik. Ia tahu kondisi dan keadaan saudara bungsunya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Coba jelaskan apa yang terjadi Raka.. Kenapa papa kamu sampai seperti itu.." mendengar penuturan Raka, Tuan Antonio mansettle panggilan menjadi loudspeaker agar semua mendengar suara dan penjelasan dari Raka.


"Hiks.. Aku tidak tahu paman.. tapi, dulu papa berencana untuk mencari dan menemukan adik.. ketika waktu itu papa menyusun rencana untuk mencari keberadaan Julia, Mama malah mengatakan bahwa jangan mencarinya dulu. Tunggu sampai anak Julia menyadari kesalahannya. Tentu papa tidak terima mendengar penuturan Mama seperti itu. Papa menjadi marah, papa bilang Julia pergi bukan karena kesalahannya, tetapi karena mama sendiri yang tega dan egois menyakiti hati anaknya sendiri. Setelah papa mengatakan hal itu, Mama juga tidak terima maka terjadilah perdebatan di antara keduanya. Sampai-sampai Mama mengatakan siap berpisah sama papa kalau papa bersikeras untuk menemukan Julian." Penuturan Raka membuat hati Julia menjadi sakit. Ternyata mamanya belum bisa dan belum mau menerima kehadiran dirinya sampai akhirnya bertengkar dengan sang ayah.


Abi yang menyadari suasana hati adiknya langsung merangkul pundak adiknya itu seraya memberikan kenyamanan untuknya. rangkulannya itu seolah mengatakan, jangan bersedih dek ada kami di sini.


"Lalu bagaimana lagi..??" Tanya Tuan Antonio lagi Mereka ingin mendengarkan cerita lengkapnya agar tidak gagal paham.


"Akhirnya, karena merasa marah dan kecewa kepada Mama, papa memutuskan untuk tinggal di apartemen Raka. Saat tiba di apartemen Raka, keadaan papa begitu kacau bahkan papa sering ngomong-ngomong sendiri dan mengigau saat tidur. Papa juga pernah mengalami sakit demam.. hiks.. tapi papa menolak untuk dibawa ke rumah sakit. " Ujar mereka berusaha menahan isak tangisnya. Sementara Julia yang sudah berada dalam pelukan saudara sepupunya ikut menangis. Julia tak bisa menahan tangisnya mendengar kondisi Tuan Antonio saat ini.


"Lalu kenapa baru kamu katakan sekarang nak..!! Kenapa tidak dari dulu kamu mengatakannya..!!" Ujar Tuan Antonio sedikit meninggikan suaranya. Nyonya Salsa yang berada duduk di sampingnya langsung mengusap pelan punggung suaminya untuk menenangkan dirinya.


"Maaf paman. Ini juga murni permintaan papa. papa bilang tidak perlu menghubungi siapapun, papa tidak ingin merepotkan orang lain dan melibatkan siapapun untuk masalah ini. Papa bilang mungkin ini adalah karma yang harus papa tanggung karena telah menyakiti hati putrinya..." Ujar Raka kembali.


Tuan Antonio menarik nafasnya dengan gusar mendengar cerita keponakannya itu. jujur saja semarah dan sekesal apapun Tuan Sanjaya kepada adiknya, Ia tidak akan tega membiarkan adiknya sakit tanpa dirinya di sampingnya.


"Ya sudah, sekarang bagaimana kondisi papa kamu..?? Dan di mana ia sekarang.?." ujar Tuan Antonio lagi.


"Hah..!! Untuk kondisi demam papa sudah tidak perlu dikhawatirkan lagi paman. Tapi papa sering melamun dan pikirannya sering kosong. Baru kemarin juga Raka dan papa kembali dari rumah sakit. Saat papa sakit, Mama sekalipun tak menjenguk dan melihat kondisi papa." Ujar Raka kembali.