
Semua yang ada di sana pun ikut tercengang, mereka pikir perpindahan Julia hanya sebatas kota saja, ternyata malah berbeda pulau. Iya, walaupun tidak terlalu sulit untuk menjangkaunya. namun rasanya berat untuk melepaskannya.
"Sumatera..?? Apa kamu yakin dek..?? Di sana kita nggak punya keluarga, satupun..??" Ujar Melvin terkejut dengan apa yang diputuskan oleh sang adik.
Bukan mereka tidak mengizinkan Julia, hanya saja yang menjadi kekhawatiran mereka, yaitu tidak adanya sanak saudara yang ada di pulau Sumatera. Mereka semua tersebar di pulau Jawa dan juga luar negeri.
"Julia yakin. Dan Julia juga sudah memutuskannya matang-matang..." Ujar Julia lagi.
Tuan Antonio pun langsung menghela nafasnya dengan berat. Sulit rasanya untuk melepaskan keponakan perempuannya ini untuk pergi merantau ke kota orang. Apalagi di umur yang masih remaja. Karena di umur yang seperti itu Julia harus memiliki tutor dan orang yang mengawasi dirinya.
Tapi kembali lagi, Tuan Antonio hanya akan mengawasi dunia dari jauh. namun banyak juga kok, orang yang masih muda pergi merantau jauh dari orang tua, dan akhirnya pulang membawa kesuksesan.
"Baiklah kalau begitu, Paman setuju. Tapi ada beberapa syarat yang harus dilihat penuhi.." ujar Tuan Antonio kepada keponakannya. Julia yang mendengar penuturan Tuan Antonio langsung menegakkan kepalanya dan mengarahkan pandangannya ke arah sang paman.
"Apakah itu Paman. Apakah syarat yang akan Paman berikan mustahil untuk Julia kabulkan..??"tanya Julia kepada sang paman. Tuan Antonio pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak, ini tidak berat sayang. Papa cuma meminta, yang pertama tetap menjalin komunikasi dengan paman dan juga kakak-kakakmu, yang kedua biarkan paman atau kakak-kakakmu menemani mu ke pulau Sumatera untuk mencari tempat tinggal mu sekaligus mendaftarkan mu sekolah di sana. Dan yang terakhir, Paman harap kamu tidak menolak pemberian paman setiap minggu. Paman ingin kamu mandiri dalam hal merawat diri sendiri dan memperhatikan diri sendiri. Tapi biarkanlah paman yang menanggung sekolah mu di sana. Bagaimana ? setuju atau tidak..??"jelas Tuan Antonio kepada keponakannya.
"Ya, kami setuju dengan Usul papa. Biarkan kami menemanimu untuk pergi ke pulau Sumatera mencari tempat tinggal. Sekaligus mendaftarkan dirimu sekolah di sana. Dan yang paling utama jangan putus komunikasi. Jika kamu membutuhkan sesuatu hubungi saja Abi atau Abang, atau bisa langsung menghubungi papa sama Mama. Kalau syarat seperti itu kamu masih keberatan, terpaksa kami juga menolak untuk melepaskan mu sekolah di pulau yang berbeda dengan kami." Ujar sang kakak pertama.
Mereka yang ada di sana pun langsung menganggukkan kepala mereka dengan kompak. Julia yang melihat perhatian keluarga pamannya ikut terharu dan meneteskan air matanya. Julia kembali berandai-andai, tapi kembali ya urungkan karena ini bukan waktu yang tepat untuk kembali mengenang masa lalu yang pahit itu. biarlah seperti ini saja, setidaknya dirinya bisa jauh dari kota yang penuh dengan kepahitan ini.
lagi pula, walau bagaimanapun Julia tetap membutuhkan sokongan dan dukungan dari keluarga pamannya. namun Julia tetap harus membatasi itu, agar di kemudian hari dirinya tidak dikecewakan lagi. pokoknya jangan terlalu berharap banyak aja lah.
"Baiklah paman, Julia setuju. Julia harap ini yang terbaik untuk Julia. Dan Julia juga mau paman dan bibi selalu mendukung Julia baik Julia sedih maupun senang." Ujar Julia langsung menenggelamkan wajahnya dalam pelukan sang kakak pertama.
Mendengar penuturan Julia semuanya pun bernafas lega. Walaupun berat untuk melepaskan Julia, tapi setidaknya mereka bisa bernegosiasi dan mendapatkan hasil yang pasti. dan juga mereka masih dapat memantau gerak-gerik sama adik.
"Ya sudah kalau begitu, berarti sudah diputuskan. Besok Paman akan langsung bergegas menemui kepala sekolah dan mengurus semuanya. Nanti hari Minggu kita bisa berangkat sama-sama ke Sumatera." Putus Tuan Antonio.
Tuan Antonio tentu tidak tenang membiarkan anak-anaknya pergi sendiri walaupun nyatanya mereka telah mandiri. Tapi tetap saja sebagai orang tua, ia masih memiliki sedikit rasa khawatir untuk anak-anaknya itu, apalagi Julia seorang perempuan.
"Baiklah pah, kami mengerti." Akhirnya mereka memilih untuk mengobrol sekaligus menghabiskan waktu bersama.
Ia juga harus bersyukur, karena masih memiliki keluarga sang paman yang masih mau mengakui dan memperhatikannya. Setelah waktu telah menunjukkan pukul 10.00 malam, keluarga itu pun langsung kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
***
sementara di rumah sakit tempat ridho dan Raka dirawat, Tuan Sanjaya memilih untuk diam dan tak mengajak ngobrol istrinya. dirinya Masih memikirkan ucapan yang dikeluarkan oleh anak tengahnya, di mana Julia telah memutuskan untuk tidak lagi berharap kepada mereka dan menjadi bagian dari keluarga mereka.
memikirkan itu semua, hati Tuan Sanjaya tiba-tiba menjadi sesak. Ia pun berusaha untuk menormalkan emosinya dengan mengatur laju pernafasannya. ia menarik nafasnya dan juga menghembuskannya dengan perlahan. nyonya Ratih yang melihat aksi suaminya seperti itu mengerutkan kening nya dan langsung bertanya.
"ada pah, papa sepertinya memiliki banyak pikiran..??" tanya nyonya Ratih kepada tuan Sanjaya.
Tuan Sanjaya memilih untuk diam, Ia sama sekali tidak mood untuk menjawab pertanyaan istrinya. apalagi Tuan Sanjaya masih sangat kesal dengan apa yang telah istrinya katakan kepada anak mereka. melihat suaminya diam saja dan tak mengubris pertanyaannya, nyonya Ratih kembali bertanya kepada suaminya.
"ada apa sih pah.. papa kok diam aja sih..??" tanya nyonya Ratih lagi.
Tuan Sanjaya langsung menggerakkan pandangannya ke arah sang istri. entah kenapa Tuan Sanjaya benar-benar kesal melihat wajah istrinya.
"Mama Tidak usah peduli. pedulikan saja diri Mama sendiri." jawab Tuan Sanjaya dengan ekspresi yang sangat dingin. kemudian Tuan Sanjaya beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari ruangan tersebut.
nyonya Ratih yang baru pertama kali mendapatkan tingkah suaminya seperti itu dibuat melong dan heran. apalagi Tuan Sanjaya tidak biasanya berbicara dingin seperti itu.
"ada apa dengannya..?? Kenapa mas Sanjaya tiba-tiba jadi dingin seperti itu.?" monolog nyonya Ratih kepada dirinya sendiri. tidak peka rupanya.
"sudahlah mungkin mas Sanjaya sedang lelah. biarkan saja dulu, nanti aku ngobrol lagi dengannya." ujar nyonya Ratih lagi.
nyonya Ratih memutuskan untuk tidak mengganggu suaminya terlebih dahulu, ia memilih untuk diam dan menunggu di ruangan kedua anaknya. sementara Meta dan Mita telah kembali ke rumah mereka.
***
dan Akhirnya hari Minggu pun tiba. Mereka semua telah bersiap akan mengantarkan Julia ke Sumatera dan mencari tempat tinggal untuknya. Kini keluarga Tuan Antonio telah berada di bandara Soekarno Hatta. Sebentar lagi pesawat akan melakukan take off dari bandara. Julia yang baru pertama kali menaiki pesawat tentu saja merasa deg-degan, agak kampungan memang, padahal orang tuanya adalah orang yang terpandang dan kaya raya.
"Jadi begini rasanya ya Kak naik pesawat..." Ujar Julia kepada Abi.