
Akhirnya karena kedua adik kakak itu setuju untuk menyusul keluarga Paman mereka yang sedang melakukan liburan di kawah gunung berapi. Mereka berdua pun langsung tancap gas tanpa persiapan terlebih dahulu.
Namun sebelum berangkat, mereka telah mengirimkan pesan kepada keluarganya untuk mengabari bahwa mereka akan pergi berlibur ke gunung Merapi menyusul Julia dan keluarga sang paman.
Namun, saat mereka sedang diperjalanan, mereka berdua mendapatkan musibah. Sebuah truk yang penuh dengan muatan melaju dengan cepat dan ugal-ugalan. Hal tersebut membuat Raka kaget dan langsung membanting setir, alhasil kedua nya mengalami kecelakaan menabrak sebuah tiang listrik dengan keras. Semua para warga yang menyaksikan kejadian itu langsung mengambil tindakan dan mengirim keduanya kerumah sakit.
***
Di tempat lain, Julia merasa tidak nyaman. Ada perasaan resah dalam hati nya
Tiba-tiba ia mengingat saudara pertama dan keduanya. Namun ia mencoba berpositif thinking. Dan menikmati suasana di siang hari yang tersuguh di pelupuk mata mereka. Saat mereka baru selesai melaksanakan makan siang bersama. Tiba-tiba Tuan antonio datang tergesa-gesa setelah menerima panggilan.
"Mama, anak-anak kita harus secepatnya kembali. Tadi kakek menghubungi papa kalau saudara sepupu kalian Raka dan Ridho mengalami kecelakaan. Dan sekarang kasus kecelakaan keduanya sedang ditangani oleh polisi. Kita harus kembali sekarang." Ujar Tuan Antonio dengan tergesa-gesa.
Sementara Julia yang mendengar penuturan sang paman langsung menjadi syok. Pasalnya Ia baru saja merasakan perasaan kurang nyaman dalam hatinya dan tujuannya bermuara kepada kedua saudaranya itu.
"Apa paman..!! Kak Ridho dan Kak Raka kecelakaan. Lalu bagaimana kondisi mereka Paman Apakah mereka baik-baik saja..??" Tanya Julia lagi.
Abi yang mengerti, langsung mendekap tubuh adik sepupunya itu. Entah sudah berapa lama dan bagaimana caranya air mata Julia sudah keluar begitu saja setelah mendengar penuturan dari sang paman. tuan Antonio menggertakkan kepalanya mendengar penuturan keponakan nya itu.
"Sabar ya sayang. Paman juga belum tahu bagaimana kondisi mereka. Kita hanya disuruh pulang oleh kakek untuk melihat kondisi keduanya. Sekarang kita berkemas karena kita akan segera berangkat." Ujar Tuan Antonio dengan suara yang begitu lembut.
Sementara yang lain tidak banyak bertanya apalagi nyonya salsa. Setelah mendengar kabar dari sang suami dirinya begitu syok sehingga tak banyak pertanyaan yang melintas di kepalanya. Tujuannya saat ini hanyalah mempersiapkan segala sesuatunya dan kembali pulang untuk melihat kedua anak keponakan mereka. Begitu juga dengan keempat anak Tuan Antonio lainnya.
"Pah. semuanya sudah siap dan beres. Ayo kita kembali.. adik berikan saja semuanya sama abang biar abang yang bawa.." ujar Arvin kepada Julia.
Lagi pula bawaan mereka sekarang sudah berkurang. Mereka membawa banyak makanan dan mungkin telah berkurang karena sudah dikonsumsi. Tanpa pikir panjang Julia langsung menyerahkan tas yang berisi bawaan mereka kepada Arvin. Dan dengan dituntun Tuan Antonio, mereka semua meninggalkan kawah gunung Merapi dan kembali ke kota.
***
"Papa bagaimana ini..?? Mama begitu takut terjadi apa-apa dengan anak-anak..?? Kenapa juga mereka harus berniat menyusul mas Antonio ke puncak gunung Merapi.." ujar nyonya Sanjaya menyalahkan hal tersebut terjadi kepada tuan Antonio. Andai saja Tuan Antonio dan keluarganya tidak pergi berlibur pasti kedua anaknya tidak akan menyusul begitu pikiran nyonya Ratih.
"Ini adalah musibah mah. Jangan salahkan semuanya kepada mas Antonio. Kalau mas Antonio dengar bisa salah paham. Lagi pula coba Mama pikir memangnya mas Antonio meminta Raka dan Ridho untuk menyusul mereka. Mulai sekarang mama harus berpikiran dewasa Jangan menyalahkan hal buruk yang terjadi pada orang lain. Tetapi harus introspeksi diri." Ujar Tuan Sanjaya menyenangkan sang istri yang sedang menangis sesegukan.
"Iya Mama tahu kalau mas Antonio itu adalah saudaramu pa. Makanya papa membela mas Antonio seperti itu sampai menyalahkan mama dan mengatakan kalau mama tidak berpikiran dewasa..!! Kalau saja mas Antonio dan keluarganya tidak pergi berlibur pasti kedua anak kita tidak akan menyusul, Ini juga pasti ada hubungannya dengan Julia." Ujar nyonya Ratih kini kembali menyalahkan Julia.
Apakah dirinya tidak sadar bahwa akhir-akhir ini ia selalu mencoba mendekatkan diri kepada anak tengahnya ?? Namun melihat sikap nyonya Ratih yang seperti ini, bisa jadi rasa penyesalan yang ia utarakan kemarin hanyalah ke pura-puraan belaka.
"Mama kok ngomong gitu sih..!!! Ingat ma jangan terus menyalakan Julia..!! Julia sedang pergi bersenang-senang bersama dengan mas Antonio dan keluarganya. Lalu apa hubungannya kesalahan Julia yang menyebabkan Raka dan Ridho kecelakaan..??" Ujar Tuan Sanjaya mencoba membela Julia. Ia tidak habis pikir bisa-bisanya nyonya Ratih berpikiran seperti itu terhadap anaknya sendiri.
"Sudahlah, terserah papa saja.. kecelakaan yang terjadi kepada anak-anak adalah salah Julia dan keluarga mas Antonio. Anak itu benar-benar pembawa sial." Ujar nyonya Ratih lagi.
Sementara Meta dan Mita tidak sengaja mendengarkan perdebatan kedua orang tua mereka. Meta yang mendengar sang Mama yang membenci Julia tentu saja merasa senang. Ini adalah senjata pertamanya agar bisa menyingkirkan Julia dari keluarga mereka.
Sementara Mita tidak melakukan apapun. Ia cukup setuju dengan penuturan Tuan Sanjaya yang mengatakan bahwa kecelakaan ini tidak ada hubungannya dengan keluarga sang Paman maupun kakaknya.
"Betul itu pah !? Gara-gara Julia dan gara-gara menyusul keluarga Paman ke gunung Merapi, Kak Raka dan Kak Ridho mengalami kemalangan seperti ini. Coba kalau mereka tidak nekat ingin menyusul keluarga paman. Pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.." timpal Meta membenarkan apa yang dikatakan oleh sang mama. Tuan Sanjaya yang mendengarkan penuturan Meta langsung meraup wajahnya dengan kasar.
"Meta kamu tidak perlu ikut campur..?? Dan tolong kamu juga jangan memperkeruh suasana Dengan mengatakan hal yang tidak-tidak. Memangnya kamu melihat kejadian itu ?? Emangnya kamu mendengar kalau Paman kamu memanggil mereka untuk menyusul mereka yang sedang berlibur di kawah gunung..?? Tidak kan !! peristiwa ini terjadi murni karena kecelakaan !! Jangan hanya selalu mengambing hitamkan orang lain, karena papa tidak suka." Ujar Tuan Sanjaya yang masih bersikeras untuk membela sang kakak dan putrinya dari tuduhan istri dan anak kembarnya Meta.
"Pokoknya Mita tidak mau tahu. Papa harus mengusir Julia dari keluarga besar kita agar keluarga kita tidak terkena sial terus..!!" Seru Meta lagi.
Tuan Sanjaya memilih untuk diam. Untuk sementara ia akan fokus pada perawatan kedua anaknya. Ia tidak ingin dibuat pusing dengan perilaku sang istri yang tiba-tiba menyalahkan orang lain atas kejadian ini.
"Terserah kalian saja..!!! Pokoknya kalau sampai mas Antonio dengar dan marah kepada kalian, apalagi sampai menuntut kalian atas pencemaran nama baik.. papa tidak akan membantu. Kalian berdua bukan anak kecil lagi termasuk kamu mah." Tegas Tuan Sanjaya kepada istrinya. Setelah itu Tuan Sanjaya langsung meninggalkan tempat tersebut dan pergi ke balkon rumah sakit untuk sekedar menenangkan amarahnya.
***