
Sementara itu, di Jakarta. Raka dan ridho sudah kembali beraktivitas di kantor seperti semula. Kabar itu tentu saja telah sampai di telinga nyonya Ratih. Dengan segera nyonya Ratih langsung bergegas pergi ke kantor putranya.
Saat ini, fokus nyonya Ratih yaitu bertemu dengan suami dan kedua anak laki-lakinya. Ada rasa rindu dalam hatinya untuk mereka, yang tidak bisa ia utarakan dengan kata-kata. sementara, Meta yang tiba-tiba keluar dan melihat nyonya Ratih berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah langsung menghadang jalan ibunya itu.
"Ma, Mama mau ke mana sampai Mama tergesa-gesa seperti ini..??" Tanya Mita kepada nyonya Ratih.
Nyonya Ratih yang masih kesal terhadap putrinya itu tidak menjawab. Ia malah melenggang pergi dari sana. Meta yang melihat tingkah ibunya seperti itu tentu saja menjadi kesal.
"Dasar nenek-nenek. Ditanya malah nggak ngejawab.." ucap Meta tanpa sopan santun mengatai ibunya sendiri.
Setelah itu, Meta langsung meninggalkan tempat itu dan kembali masuk ke dalam rumah. Berbeda dengan nyonya Ratih yang sudah melajukan mobilnya ke kantor putranya itu. Dan tak menunggu waktu yang lama, nyonya Ratih pun telah sampai di sana. Ia pun langsung bergegas menuju sang resepsionis.
"Selamat datang kembali ibu..?? Ada yang bisa kami bantu.." tanya sang resepsionis itu lagi.
"Tentu saja, Saya ingin bertemu dengan anak saya." Ujar nyonya Ratih dengan perasaan sedikit tergesa-gesa. Sang resepsionis yang mengerti pun langsung menghubungi ya orang yang bersangkutan. Dan mengizinkan nyonya Ratih untuk masuk menemui bos mereka.
"Silakan masuk ibu. Tuan Raka telah menunggu di ruangannya." Ujar resepsionis itu kembali. Dan tanpa menunggu waktu yang lama nyonya Ratih pun langsung bergegas meninggalkan lobby dan langsung menaiki lift menuju lantai atas di mana terdapat putranya di sana.
Sementara itu, Raka yang mendengar kabar bahwa nyonya Ratih datang berkunjung ke kantor dan ingin bertemu dengannya langsung mengizinkan ibunya untuk naik. Lagi pula, dalam hati, Ia juga merasa rindu kepada perempuan paruh baya itu.
Ya.. walaupun keadaan keluarga mereka sedikit kacau akibat ego masing-masing. Raka juga sendiri sudah mengatur rencana apabila nyonya Ratih bertanya mengenai Tuan Sanjaya nanti. Saat Raka sedang membaca beberapa laporan, tiba-tiba pintu ruangannya langsung terbuka.
Ceklek
Raka yang masih fokus pada laporan tersebut langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Terlihatlah nyonya Ratih di sana. Melihat kedatangan ibunya, Raka langsung menghentikan kegiatannya dan berdiri. Ia memasang senyum terbaiknya.
"Mama..." Ujarnya sambil berjalan menghampiri nyonya Ratih. Begitu juga dengan nyonya Ratih yang berjalan mendekat kearah sang anak. Saat Raka sudah di depan matanya, nyonya Ratih langsung memeluk tubuh anaknya itu.
"Raka, kalian dari mana saja. Mama mencari kalian sampai hampir menjadi gila nak.." ujar nyonya Ratih sambil memeluk erat tubuh anaknya itu. Raka sendiri Tersenyum mendengar penuturan nyonya Ratih.
"Lalu, dimana papa kamu ?. Apakah papa baik-baik saja..?? Adikmu juga, bagaimana kabarnya." Ujar nyonya Ratih lagi. Raka yang mendengar pertanyaan sang ibu Hanya Tersenyum.
"Raka, mama minta maaf. Selama ini, mama sudah keras kepala dan mengabaikan kesehatan papa kalian. Mama benar-benar minta maaf nak... Sekarang, mama mohon, tolong katakan dimana papa. Mama ingin bertemu. Mama Sudah sangat rindu dan mau meminta maaf. Mama menyesal nak..." Ujar nyonya Ratih dengan mata yang berkaca-kaca.
Entah apa yang Raka rasakan. Permohonan nyonya Ratih kepadanya tak membuat hatinya menjadi luluh. Ia juga sama sekali tak berniat ingin memberitahu dimana tuan Sanjaya. Mungkin dirinya masih ada sedikit rasa kesal terhadap mamanya itu.
"Maaf mah. Untuk sementara Mama belum bisa bertemu dengan papa. Saat ini papa masih menjalani perawatan intensif. Raka cuma tidak ingin papa kembali ke pikiran." Ujar Raka kepada nyonya Ratih.
nyonya Ratih yang mendengar penuturan putranya langsung tersenyum masam Gus merasa bersalah. seharusnya, ia mendampingi suaminya baik suka maupun duka. nyonya Ratih juga tak henti-hentinya berpikir, Apakah kelakuannya selama ini sudah sangat keterlaluan kepada sang suami dan juga tidak menghormati kata-kata suaminya lagi ?. memikirkan semua itu, Membuat air mata nyonya Ratih menetes.
"Apakah papamu baik-baik saja nak.. maafkan mama.. tolong maafkan mama. Tidak bisa kah mama bertemu dengan papa untuk meminta maaf.. Mama sangat sangat menyesal.. hiks.." ujar nyonya Ratih lagi.
Dia sedikit terisak mengingat kelakuannya yang pernah membangkang kepada sang suami. Padahal, dulu keluarga mereka sangat harmonis. Tetapi setelah dirinya memarahi Putri tengahnya saat dirumah sakit waktu itu, membuat Tuan Sanjaya berubah menjadi sedikit tegas kepadanya. Namun ketegasan Tuan Sanjaya dibalas dengan ketidakpedulian oleh nyonya Sanjaya itu.
"Mama tenang saja. Papa nanti akan kembali. Namun tidak sekarang. Mama bersabar saja dulu." Ujar raka lagi kepada nyonya Ratih. untuk sementara, hanya kata-kata itu yang di ucapkan oleh Raka.
Nyonya Ratih terdiam mendengar penuturan putranya. Ia yakin, pasti saat ini sang suami sedang sakit dan juga tidak ingin bertemu dengannya akibat kesalahan-kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.
"Kalau begitu, bolehkah Mama menghubungi papa kamu.. Mama mohon nak.. Mama ingin melihat kondisi papa kamu sekarang.. Mama mohon kasih Mama kesempatan untuk melihat keadaan dan kondisi suami mama. Walaupun hanya lewat dunia maya saja.." ujar nyonya Ratih lagi sedikit memohon kepada anak pertamanya itu.
Melihat sorot mata nyonya Ratih yang seperti itu membuat Raka sedikit tidak tega kepada ibunya. Tapi lagi-lagi Raka harus konsisten, dan ia hanya cukup menjaga mama dan kedua adik perempuannya saja terlebih dahulu sampai Tuan Sanjaya sang papa memutuskan untuk kembali.
"Maaf mah. Raka benar-benar tidak bisa membantu mama. Mama percaya saja pada Raka dan papa, kalau suatu saat nanti papa pasti akan kembali. Papa butuh waktu untuk menenangkan pikirannya agar tidak kembali depresi (dan juga butuh waktu untuk tinggal bersama dengan Putri yang ia abaikan selama ini)" lanjut Raka dalam hatinya. Dia tidak berani mengatakan hal itu, takut sang Mama masih membenci adiknya.
"Padahal mama benar-benar sangat merindukan papamu. Tapi ya sudahlah, jika memang belum diizinkan untuk bertemu. Tapi kamu dan adikmu Ridho akan kembali ke rumah kan nak. Pulanglah, lihat kedua adikmu Meta dan Mita. Juga berikan sedikit nasihat kepada Meta yang setiap hari pergaulannya semakin tidak menentu. Mama tahu, ini adalah kesalahan mama dalam mendidik, Mama juga sudah berkali-kali menasehati meta untuk meninggalkan pergaulan yang tidak pantas seperti itu. Tapi apa, Meta selalu melawan Apa yang mama katakan dan nasehatkan kepadanya. bahkan beberapa minggu yang lalu, meta hampir menghancurkan butik mama dengan menarik uang butik sebesar 100 juta pada kasir mama. Mama juga tidak habis pikir melihat pergaulan dia nak. Tolong pulanglah dan tegur adikmu itu, Mama sudah tak kuasa lagi untuk memberikan nasehat." Ujar nyonya Ratih lagi kepada putranya.