JULIA

JULIA
50. Arvin mencari tau



perdebatan di meja makan masih berlanjut.


"Memangnya sejak kapan papa menyembunyikan sesuatu kepada kalian.?? Kalaupun papa menyembunyikan sesuatu, kalian pasti dapat menemukannya dengan mudah. Sudah !! jangan introgasi papa lagi. karena papa tidak mau menjawab. berhubung kita sudah berkumpul semuanya, Ayo makan aku yakin kedua adikmu ini sudah pada lapar." Ujar Tuan Antonio mengambing hitamkan Abi dan Julia.


"Ih.. si papa. kok malah mengambing hitamkan kita... Padahal perutnya papa tuh yang lapar.." ujar si Abi dan langsung ditimpali kekehan kecil dari Julia. Tuan Antonio pun langsung berdehem.


"Ya sudah ya sudah. nanti saja bicarakan masalah apapun itu. Tidak baik berdebat di depan makanan. Ayo makan sayang.." ujar nyonya salsa menengahi perdebatan suami dan anak-anaknya.


Kalau tidak ditengahi, bisa-bisa pembahasan dan perdebatan mereka itu tidak akan selesai. Semuanya pun langsung menurut, mereka semua mengambil makanan masing-masing dan makan dengan nikmat, sesekali mereka akan bersenda gurau.


"Oh iya kak, menjelang hari Minggu kan ada dua hari tanggal merah, kami, papa dan Mama membicarakan rencana tracking ke gunung Merapi. ?? Kira-kira di waktu itu kakak bertiga bisa nggak meluangkan waktu untuk pergi sama-sama. Tapi kalau seandainya masih ada kerjaan juga tidak apa-apa sih...??" Ujar Abi kepada ketiga kakaknya itu.


"Kakak akan ikut. Lagipula hari itu adalah tanggal merah, masalah restoran bisa di handle oleh bawahan kakak. Kapan lagi kan kita akan kembali tracking sekeluarga.." timpal Aliando yang setuju dengan rencana kedua orang tuanya dan juga Abi. ia menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada makanan.


"Iya. kakak juga ikut. Nanti masalah kantor di pending dulu, lagi pula itu kan tanggal merah.. tidak ada yang mau bekerja di tanggal itu." kali ini Arvin yang bersuara.


Dan yang terakhir Melvin, Ia hanya diam fokus mengunyah makanannya. tapi sudah pasti, Ia juga akan ikut dan mengosongkan jadwalnya. Lagi pula, ia setuju dengan penuturan Kakak pertamanya. di tanggal merah ini, memangnya siapa yang ingin melakukan aktivitas bukankah tanggal merah itu adalah waktu libur nasional untuk mereka semua.


"Ya sudah kalau begitu.. fix Ya, berarti dimulai dari Jumat, Sabtu, Minggu kita tracking dan berkemah di sana. di gunung Merapi." Ujar Abi dengan riang gembira dan langsung dibalas anggukan kepala dari kakak-kakaknya.


Walaupun respon mereka terkesan dingin, seperti tak menyetujui, namun begitulah sifat ketiganya. Tapi, kadang kala mereka bertiga juga akan bercanda dan berlaku hangat jika waktunya telah tiba.


Setelah mereka selesai makan malam bersama, mereka semua tak cepat-cepat ingin kembali pulang, melainkan mereka bertahan di posisi masing-masing untuk mengobrol bersama dengan Kakak ataupun anak-anak.


Sementara Arvin, karena semenjak pertama memasuki ruangan mendengar bahwa Tuan Antonio menyembunyikan sesuatu kepada mereka, dan didukung oleh ekspresi dari tuan Antonio sendiri, membuat Arvin menjadi curiga.


Ia langsung meretas beberapa CCTV di rumahnya dan juga di rumah kakek neneknya. dan ini, adalah salah satu keahlian semua anak-anak tuan Antonio. yaitu ahli dalam bidang IT. namun, keahlian mereka itu, hanya mereka sendiri yang tau dan kedua orang tua mereka.


dan, Alangkah terkejutnya Arvin setelah mengetahui kebenaran yang terjadi. Ternyata di siang hari, ada insiden dan masalah yang terjadi dan yang cukup membuat Arvin menjadi geram.


"Bagaimana kondisi meta dan Mita..?? Apakah kedua anak itu mendapat hukuman dari kakek atau kedua orang tuanya..??" Tanya Arvin tiba-tiba.


"Apakah tidak ada yang ingin menceritakannya kepada kakak..?? Papa juga tidak ingin menceritakan hal yang terjadi di siang hari..??" Tanya Arvin lagi kepada kedua adiknya dan juga kepada papanya.


Tuan Antonio dibuat bungkam dengan penuturan anaknya. Karena sudah dapat ia tebak, bahwa anak-anaknya ini terlalu cerdas dan tak bisa menyembunyikan masalah sekecil apapun dari mereka.


"Hais... sudahlah. lupakan saja masalah yang terjadi siang itu. lagi pula, papa menganggap itu sudah selesai. Untuk sekarang papa akan memilih diam, tapi tidak lain kali. huft... Jangankan meminta maaf, kakek kalian malah membela kedua saudara sepupu kalian itu." Jawab Tuan Antonio dengan kecewa.


Arvin pun tidak menghiraukan apa yang dikatakan Dan disampaikan oleh Tuan Antonio. ia malah sibuk mengotak-atik handphonenya kembali. Tanpa sengaja, ia menemukan foto dirinya yang membelakangi kamera dan juga sedang menatap ke arah Julia, dengan tangan yang berada di atas kepala dunia. Captionnya tertulis 'berpacaran dengan om-om untuk memenuhi kebutuhan'. Melihat akun tersebut dengan caption seperti itu membuat darah arvin tiba-tiba meradang.


"Apa-apaan ini..!!" Ujarnya dengan intonasi suara yang cukup tinggi sehingga mengundang rasa penasaran dari anggota keluarga lainnya.


"Ada apa kak..??" Tanya Aliando dan Melvin yang berada di samping kiri kanannya.


Mereka ikut mengarahkan pandangan ke arah HP sang kakak. Melvin yang melihat caption tersebut tentu saja ikut terkejut. Sementara Aliando yang sudah mengetahui hal tersebut memilih untuk diam.


"Ada yang bisa menjelaskan mengenai foto ini..?? Atau Mama dan papa sudah mengetahui yang terjadi sebenarnya..??" Tanya Arvin kepada kedua orang tuanya.


Tuan Antonio pun langsung menganggukkan kepalanya. Untuk sekarang memang sebaiknya tidak menyembunyikan apapun dari ketiga anak-anaknya itu. Namun, sebelum Tuan Antonio menjelaskan apa yang terjadi pada Julia, kesempatan itu sudah dipergunakan Aliando untuk menjelaskan kepada kakaknya.


Ia menceritakan dari awal pemostingan foto tersebut di grup sekolah kedua adiknya, sampai mendapatkan kata-kata umpatan, hinaan, cacian dan kata-kata kasar lainnya.


Setelah menceritakan hal itu secara lengkap yang ia dengar dari kedua adiknya itu, tiba-tiba ucapan itu disambung kembali oleh Abi, yang mengatakan bahwa tadi siang juga terjadi insiden perdebatan hebat antara Tuan Antonio dengan kakek mereka.


Ia menceritakan semuanya tanpa menutupi dan melewatkan satu kata pun. Hal tersebut tentu saja mengundang rasa marah di hati ketika kakaknya, apalagi melvin.


ia begitu sangat marah mendapati, adik perempuan nya dikatai seperti itu. melvin pun Langsung menatap ke arah adiknya. Kemudian menggenggam tangan sang adik yang ternyata duduk di sebelahnya.


"Kamu tidak apa-apa sayang.? Jangan takut ya di sini ada kakak yang akan melindungi kamu. Orang yang membuat gosip seperti ini akan menerima akibatnya." Ujar Melvin dengan geram, kedua rahangnya mengeras. Julia pun hanya menganggukkan kepalanya saja namun berkata.


"Biarkan saja bang. Lagi pula mereka tidak tahu apa yang Julia jalani selama ini. Julia juga sudah tidak peduli lagi dengan gosip-gosip seperti itu. Tujuan Julia saat ini hanya ingin merasa aman, dan juga tenang dalam menjalani kehidupan Julia." Ujar Julia kepada saudara sepupunya itu.