JULIA

JULIA
126. terdampar



Julia mencoba untuk mengikhlaskan kepergian Brian. walaupun kepergian Brian membuat satu luka di dalam hatinya. Julia sendiri menyesal akibat keragu-raguannya. tapi kembali lagi, mungkin ini adalah takdir Tuhan untuk cinta mereka. Julia hanya bisa pasrah dan mendoakan Brian di sana agar selalu bahagia.


tak perlu pusing memikirkan jodoh, karena Julia yakin suatu saat nanti dia pasti akan bertemu dengan orang yang baik yang dikirimkan Tuhan untuknya. mungkin saja Bryan adalah orang baik yang kembali ingin meraih cintanya, tetapi Brian Ternyata bukan miliknya.


***


Posisi lain. terlihat seorang pria terbujur kaku di atas tempat tidur yang sederhana yang hanya beralaskan kasur tipis yang ditaruh di atas dipan ukuran yang hanya muat untuk satu orang. Terlihat wajah dan tubuhnya penuh dengan luka gores di mana-mana. Yah, dia adalah Brian. Satu hari setelah kecelakaan pesawat, jasadnya ditemukan di tepi pantai oleh para nelayan. setelah mereka cek kondisi dan denyut nadinya, yang ternyata masih berdetak, walaupun sangat lemah. akhirnya beberapa orang itu memutuskan untuk menolongnya.


Flashback


Byur byur


Suara ombak menghantam pantai terdengar begitu ringan. Beberapa pelayan mulai menyisir dan menyeret sampan-sampan kecil mereka ke tepi pantai. Tiba-tiba, salah satu dari mereka berteriak minta tolong.


"Tolong !!! tolong.. di sini ada yang hanyut...!!!" Teriak pria paruh baya itu dengan sebuah karung yang berisi jaring ikan di punggungnya.


Orang-orang yang mendengar teriakan pria tersebut langsung segera berlari menghampiri pria paruh baya yang kini mulai melihat kondisi pria yang terdampar itu.


"Ada apa Pak Abdul.??" Tanya salah seorang warga yang kemudian langsung mengarahkan pandangannya ke arah bawah kaki pak Abdul. Bapak paruh baya yang bertanya itu pun ikut terkejut bersama dengan orang lain yang menyusul.


"Ada mayat Pak. sepertinya ini jasad kecelakaan kapal, atau pesawat atau juga orang tenggelam terseret air laut. Tapi kalau diamati, pakaiannya lengkap. Mungkin korban kecelakaan." Ujar Pak Abdul lagi menjawab teman-temannya.


Saat para warga itu ragu untuk mendekati jasad Brian, tiba-tiba salah seorang lelaki yang sepertinya pemuda di Desa nelayan itu langsung berjalan mendekat dan memeriksa denyut nadinya.


"Apa yang kamu lakukan pejal ??" Tanya seorang bapak-bapak yang melihat aksi pejal.


"Dia masih hidup. denyut nadinya masih terasa. Ayo bapak-bapak, bantu saya untuk membawanya ke tempat saya saja." Ujar pejal berinisiatif.


Mereka semua sambil melirik satu sama lain. sebelum membantu pejal mengangkat pria itu, seolah mereka itu sedang bertanya apakah mereka harus melaporkan hal ini kepada pihak yang berwajib atau tidak.


"Bagaimana kalau kita laporkan saja ini kepada pihak yang berwajib..?? Takutnya nanti pria ini bukan orang sembarangan." Usul salah satu warga yang tak ingin mengambil resiko.


"Tidak usah lapor kepada pihak yang berwajib. sudah berkali-kali kan kita melaporkan kasus-kasus yang terjadi di Desa kita, tapi tak satupun kasus yang kita laporkan ditanggapi oleh mereka. lebih baik tolong saja orang ini terlebih dahulu." Ujar Pak Abdul membenarkan apa yang dikatakan oleh pejal. seharusnya pria ini segera dibawa ke tempat yang kering dan segera melakukan tindakan pertolongan pertama.


"Ayo bapak-bapak bantu saya bawa ke tempat saya saja." Ulang pejal lagi. Sebelum mereka menggotong tubuh pria tersebut Pak Abdul pun bertanya.


"Tidak usah Pak. Di tempat saya saja. lagi pula saya hidup sendirian di rumah, berbeda dengan bapak, jadi biarkan saja saya ingin merawatnya nanti." Ujar pejal mengutarakan alasannya.


Pak Abdul pun menganggukkan kepalanya setuju. akhirnya mereka semua membantu pejal untuk menggotong tubuh itu. Karena rumah pejal jaraknya tidak terlalu jauh dari bibir pantai, makanya para warga yang menggotong tubuh Brian itu cepat sampai di rumah rumah sederhana itu.


Dengan perlahan-lahan, bapak-bapak itu meletakkan Brian di atas sebuah tempat yang beralaskan tikar. karena badan Brian masih basah. Bapak-bapak itu juga membantu Brian sampai selesai. ada juga bapak-bapak yang berlari memanggil seorang bidan yang ada dan yang bertugas di Desa nelayan itu.


Setelah semuanya selesai dan luka-luka Brian sudah terbalut dengan rapi. mereka semua pun sama-sama memberikan beberapa atau sedikit sembako kepada pejel karena mereka yakin, setelah adanya pria yang ditolong tadi, aktivitas pejal tidak akan rutin seperti biasanya.


"Nak. bapak memiliki beberapa kilo beras hari ini. dan ini untukmu serta pemuda ini nanti. Kalau ada apa-apa langsung kabari saja ya nak." Ujar Pak Abdul dan disusul oleh yang lainnya.


 beruntungnya, Desa nelayan ini memang tingkat kepedulian sosial masih sangat diperhatikan dan dijunjung tinggi oleh masyarakat yang tinggal di desa ini. sehingga, walaupun mereka sangat miskin dan berkekurangan, tetapi mereka yang menerapkan sistem saling tolong-menolong itu, menjadikan dampak kemiskinan itu tidak terasa di lingkungan mereka.


"Baik Pak, terima kasih banyak." Ujar pejal menyambut uluran-uluran tangan para tetangga-tetangga pejal itu.


Setelah para warga selesai memberikan sedikit bantuan, para warga itu akhirnya kembali ke tempat masing-masing dan pekerjaan masing-masing. Dan akhirnya, beberapa bulan ini pejal lah yang menjaga dan merawat Brian dengan setulus hati seperti keluarganya sendiri.


Flashback off


Dan selama beberapa bulan ini, pejal juga selalu mendatangkan bidan untuk memeriksa kondisi Bryan. pejal selalu berharap, pria yang ditolongnya ini dapat segera membuka matanya, walaupun nanti ia akan kembali dengan keluarganya. dan ternyata, harapan itu akhirnya terkabul.


"Ugh... "Terdengar suara rintihan dari mulut Brian yang kini berangsur-angsur membuka matanya. Brian menatap tempat itu dengan linglung dan bingung.


pejal yang juga ikut tertidur di sampingnya mendengar suara lengkungan itu dan langsung bangun untuk melihat kondisi Brayan. Perlahan-lahan Brian mulai membuka matanya dan melihat di sekelilingnya.


"Ugh.. di mana ini..??" Ujar Bryan dengan pelan. Sementara pejal yang melihat kesadaran Brian langsung tersenyum.


"Anda sudah bangun mas..?? " tanya pejal dengan suara pelan. agar tidak mengagetkan Brian yang baru sadar dari tidur panjangnya. Brian yang melihat orang asing duduk di sampingnya langsung mengerutkan keningnya.


"Mohon maaf anda siapa ya...??" Tanya Brian kepada pemuda yang sepertinya seusia dengannya. pejal Tersenyum ramah.


"Perkenalkan, namaku pejal. Tadi saya dengan bapak-bapak tidak sengaja menemukan kamu terdampar di pantai dan membawamu ke sini. Syukurlah, kamu sudah bangun. kamu tidak perlu khawatir, pulihkan saja kondisimu aku akan mendampingi dan merawatmu disini." Ujar pejal dengan senyum mengembang. mendengar itu, lagi-lagi Brian mengerutkan keningnya dan mencoba mengumpulkan ingatan Nya sebelum dirinya mengalami hal yang seperti ini.