
Mendengar penuturan Tuan Sanjaya, Tuan Baskoro menjadi bungkam dan tak tahu harus mengatakan apa. Karena tuan Baskoro tahu, bahwa dirinya ikut adil dalam mendidik mental cucu-cucunya itu. Tuan Baskoro pun berjalan mendekat ke salah satu sofa yang ada di sana dan mendudukkan tubuhnya. Ia me mijit-mijit kepalanya yang tiba-tiba pusing itu.
"ayah tidak tahu Akan terjadi hal yang seperti ini. ayah hanya ingin memanjakan dan memenuhi kebutuhan cucu-cucu ayah sesuai dengan kemampuan mereka." Ujar Tuan Baskoro merasa pusing melihat tingkah cucunya yang tentu saja berdampak dengan nama baik keluarga Kusuma. Tuan Sanjaya tersenyum sinis mendengar penuturan itu.
"Ya.. karena itu pula ayah tega mengasingkan Putri tengah saya. Sampai akhirnya ia harus hidup menderita di luar sana sendirian tanpa keluarga. Ayah memperhatikan anak-anak dan cucu-cucu ayah yang lain, tapi tidak dengan Putri tengahku. Dan itulah yang ingin ayah katakan sebenarnya." Ujar Tuan Sanjaya lagi.
Lagi-lagi penuturan itu membuat Tuan Baskoro menjadi diam. Tuan Baskoro berpikir bagaimana kondisi salah satu cucu yang ia benci itu.
Sudah sangat lama Tuan Baskoro tak mendengar kabar tentangnya. Bahkan keluarga Tuan Antonio sama sekali tak menyinggung mengenai dirinya.
"Ah !! ayah baru ingat.. Bagaimana kabar Julia..??" Tanya Tuan Baskoro selama seumur hidup Julia baru kali ini Tuan Baskoro menanyakan tentang kabar Julia.
Tuan Sanjaya yang mendengar penuturan Tuan Baskoro itu hanya tersenyum miris saja.
"Kabarnya jauh lebih baik setelah ia keluar dari keluarga Kusuma. Sekarang Ia juga sudah bahagia dengan kehidupannya. Dan sekarang, kita yang menderita akibat ulah Meta yang sukses mempermalukan keluarga Kusuma." Ucap Tuan Sanjaya dengan santai.
Mereka semua yang ada di sana pun langsung menundukkan kepala mereka dalam dan kembali mengingat masa-masa Di mana mereka mengacuhkan Julia waktu itu. Walaupun Tuan Sanjaya dan kedua putranya telah perbaikan, namun tentu saja masa lalu yang kelam yang mereka lalui itu masih mereka sesali dalam hidup mereka.
"Lalu di mana Meta. Ayah ingin memberikan pelajaran untuk." Ujar Tuan Baskoro lagi yang kembali datar dan dingin serta memberikan tatapan menusuk di sana.
"Meta sudah kami usir dari rumah ini kek dari kemarin. Dan kami tidak tahu kemana ia pergi.. mungkin saja, ia sudah pergi ke tempat-tempat yang membuat dia senang. Lagian anak itu susah juga dikasih tahu sekarang. Lalu biarkan saja ia di luar sana dan merasakan nya sendiri.." Jawab Raka selaku anak pertama di sana.
Tuan Baskoro yang mendengar penuturan Raka kini tidak lagi terkejut. hanya mengganggu anggukkan kepalanya saja. saat tuan Baskoro dan yang lainnya sedang tenggelam dalam pemikiran masing-masing, tiba-tiba handphone Tuan Baskoro berbunyi menandakan bahwa itu adalah panggilan telepon dari istrinya. Dengan santainya Tuan Baskoro langsung mengangkat panggilan itu.
Tut
"Halo." Ucap Tuan Baskoro dengan dingin.
"Halo, ayah di mana..?? Meta sekarang ada di rumah yah, katanya meta diusir oleh keluarganya gara-gara hal yang sepele." Ujar istri dari tuan Baskoro dengan santainya.
"Kalau begitu tunggu di rumah. Ayah akan segera pulang.." Setelah tuan Baskoro mengatakan hal itu kepada istrinya, ia pun langsung memutuskan panggilan tersebut.
"Ayah harus ke rumah, saat ini Meta sedang di rumah. katanya dia diusir dari rumah karena hal yang sepele. Hal besar seperti ini dianggap sepele luar biasa. " Ucap Tuan Baskoro bergumam tapi masih didengar oleh anggota keluarganya itu.
Setelah itu, tanpa menunggu lagi, tuan Baskoro langsung bangkit dari tempat duduk dan pergi menuju kediamannya. Tuan Baskoro tentu saja pergi dengan emosi yang tertahan. Melihat aura kemarahan di mata Tuan Baskoro membuat Nyonya Ratih menjadi cemas sendiri terhadap putrinya.
"Pah, apa nggak sebaiknya kita pergi ke rumah ayah dan ibu untuk bertemu dengan Meta. Mama takut terjadi apa-apa dengannya." Ujar Nyonya Ratih kepada suaminya.
Tetap saja, sejahat dan seburuk apapun perlakuan Meta nyonya Ratih tetap menyayangi putrinya itu. Hanya saja, Nyonya Ratih tidak sadar diri bahwa putrinya yang lain juga membutuhkan kasih sayangnya tapi dengan teganya ia malah mendorong Putri itu pergi darinya. Tuan Sanjaya yang mendengar penuturan istrinya itu hanya cuek dan tak peduli.
"Biarkan saja. Papa capek mengurusi masalah yang seperti ini. kalau mama pengen mengurusinya, Mama aja yang pergi." Setelah mengatakan hal itu Tuan Sanjaya langsung menyambar jasnya dan keluar dari kediaman tersebut.
lebih baik Tuan Sanjaya pergi ke kantor dan menyelesaikan pekerjaannya saja, ketimbang mengurusi masalah anak yang sudah mencoreng nama baik keluarga mereka. Bukannya tidak sayang terhadap putrinya, tetapi Tuan Sanjaya berfikir, ini belum seberapa dengan apa yang ia lakukan dulu terhadap anak tengahnya itu. sampai akhirnya ia pergi meninggalkan mereka. Nyonya Ratih sendiri yang melihat ketidakpedulian Tuan Sanjaya hanya bisa terhenyu dan tidak dapat mengatakan apa-apa.
Di posisi lain juga, Tuan Antonio telah melihat berita viral mengenai keponakannya itu. Tuan Antonio benar-benar prihatin melihat tingkah keponakan perempuannya benar-benar melenceng jauh dari didikan dan visi misi keluarga Kusuma. Tak Hanya Tuan Antonio, Begitu juga dengan istri dan anak-anaknya.
"Pah, Apakah papa akan diam saja..?? Tadi Arvin dengar kakek pergi ke rumah paman Sanjaya untuk bertemu dengan Meta. Apakah papa tidak penasaran juga..??" Tanya Arvin kepada ayahnya karena jujur saja Arvin sendiri sangat penasaran mengenai masalah saudara sepupunya itu.
,"Entahlah nak. Papa bener-bener kehilangan respek terhadap saudara-saudara sepupumu yang lain kecuali anak cantik papa, Julia. Bukan karena tak merasa kasihan atau bagaimana, tapi papa cukup kesal dan jengkel mengingat apa yang telah mereka lakukan di masa lalu. Sampai-sampai anak cantik papa harus menderita.." ujar Tuan Antonio dengan nada suara yang begitu sedih dan sayu. Arvin yang mengerti tentang pemikiran ayahnya itu pun hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Tapi tidak ada salahnya pah, kalau kita pergi melihat kondisi saat ini. Walau bagaimanapun Meta adalah adik sepupu Arvin.." ujar Arvin lagi kepada Tuan Antonio.
Tuan Antonio yang mendengar penuturan putranya seperti itu langsung menghela nafasnya. Benar apa yang dikatakan oleh anaknya. walau bagaimanapun, Meta tetap bagian dari keluarga Kusuma yang juga menyandang nama besar itu. Namun sekaligus orang yang telah mencoreng nama besar keluarga tersebut. Dan kalau sudah menyangkut mengenai nama besar keluarga, mau tak mau semuanya harus ikut terlibat untuk menyelesaikan masalah ini.
"Ya sudah kalau begitu..., Ayo kita lihat kondisi dan situasinya.." ujar Tuan Antonio lagi kepada anak sulungnya itu.
Akhirnya mereka meninggalkan pekerjaan mereka di kantor dan bergegas pergi menuju kediaman Tuan Baskoro setelah Arvin menanyakan keberadaan sang kakek kepada mata-mata yang selalu sedia melayani para tuan-tuan mereka itu.