JULIA

JULIA
130. end



Cukup lama Bryan tertidur akhirnya ia mulai membuka matanya kembali setelah ia merasakan ada sesuatu yang ingin Ia buang. Dan saat membuka mata dia sudah mendapati pejal duduk di sampingnya dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Bryan mengamati pejal yang masih belum sadar kalau dirinya sudah terbangun.


(Ada apa dengan mas pejal. Apa masih jauh memikirkan sesuatu..?? Sebaiknya kalau mas meja mau nanti aku akan ajak dia pulang dan tinggal bersamaku daripada tinggal sendirian di sini tanpa keluarga.) Batin Bryan mencoba untuk mengambil tindakan bukan berarti ingin membalas kebaikannya.


" Mas.." panggil Brian yang langsung membuyarkan lamunan pejal. pejal yang mendengar panggilan itu pun langsung terkejut.


"Eh kamu sudah bangun... Kamu butuh apa bri..??" Tanya pejal lagi kepada Brian. Brian sendiri langsung tersenyum melihat pejal menjadi terkejut.


"Maaf mas. Saya sudah mengagetkan mas. Saya mau ke kamar mandi mas.." jawab Brian. Pejal pun tersenyum.


"Oh.. nggak papa. Ayo mas bantu."ujar pejal dan langsung bergerak membantu Brian.


Kondisi Brian pun sudah berangsur membaik dan tidak lemah seperti pertama kali terbangun. Dengan penuh kesabaran, pejal membawa Brian ke sebuah kamar mandi sederhana yang memang digunakannya.


"Terima kasih mas. Brian bisa masuk sendiri.." ujar Brian merasa tidak enak tentu saja.


"Baiklah mas tunggu di sini kalau ada apa-apa langsung minta tolong sama mas aja.." ujar pejal lagi langsung membukakan pintu kamar mandi Brian pun langsung menganggukkan kepalanya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi dengan menjadikan dinding-dinding kayu sebagai tumpuannya agar tidak terjatuh.


***


Sementara di posisi lain, pesawat yang ditumpangi oleh Julia dan kedua karyawannya telah mendarat dengan sempurna di kota Cilegon. Dan bahkan tanpa memberikan jeda untuk beristirahat, sore itu juga mereka Langsung menyewa travel Untuk mengantarkan mereka ke Desa nelayan.


Julia dan kedua karyawannya mulai menempuh perjalanan beberapa jam untuk menuju Desa nelayan. sebelum itu tak lupa Julia juga menghubungi nomor itu kembali dan ternyata yang mengangkat Itu bukan lagi Brian karena hari yang sudah malam tentu saja saat ini Brian sudah tidur untuk memulihkan kondisinya dan juga sekaligus pengaruh obat.


Tut


"halo.." ujar orang yang di seberang sana. Julia yang mendengar suara yang berbeda langsung mengerutkan keningnya.


"Iya halo, maaf mas Apakah benar ini nomornya Kak Brian..??" tanya Julia dengan hati-hati.


"benar tapi ini bukan nomornya Brian. hanya saja Brian memang menggunakannya untuk menghubungi keluarganya. Kalau boleh tahu saya berbicara dengan siapa ya dan ada keperluan apa..??" tanya pejal dengan suara sopan.


"oh saya Julia Kak. Saya temannya Kak Bryan kami saat ini sedang dalam perjalanan menuju tempat kakak bisakah Kakak mengirimkan kami alamat lengkap Kakak sekarang..??" tanya Julia lagi deh kepada pejal.


"oh astaga.. Kenapa kalian memaksakan malam-malam melakukan perjalanan Kenapa tidak menginap dulu di hotel. tapi tidak apa-apa Kakak akan memberikan alamatnya." akhirnya pejal menyebutkan alamat lengkapnya di mana.


"Ya udah Kak terima kasih banyak, sepertinya kami sudah cukup dekat nanti akan saya hubungi kembali. mari kak." ujar Julia setelah mendapatkan balasan dari seberang telepon Julia pun langsung memutuskan panggilannya.


"bapak tahu alamat ini kan pak..??" tanya Julia lagi kepada drivernya. Julia pun langsung menyebutkan alamat tersebut.


"tentu saja Nona. sebentar lagi kita akan sampai." ujar sang driver. Julia pun bernafas lega, akhirnya kurang dari satu jam mereka telah sampai di sebuah titik dan mendapati rumah kecil di sana.


sementara di dalam rumah pejal sudah tidak tidur lagi setelah mendapatkan panggilan dari teman-teman Bryan. dan benar saja tak lama hp-nya kembali berputar dan itu pun merupakan orang yang sama.


"halo bagaimana...??" tanya pejal lagi.


"Iya Kak sekarang kami sudah sampai. rumah kakak yang mana Kak.." ujar Julia yang saat ini telah turun dari atas mobil bersama kedua karyawannya juga diikuti oleh sang driver tentunya dalam kondisi malam seperti ini tidak mungkin membiarkan pelanggannya sendirian.


pejal yang mengetahui bahwa orang-orang itu telah sampai langsung keluar dari rumahnya. dan tepat di depan rumahnya ia mendapati empat orang sedang berdiri di sana.


"iya kak." ujar Julia lagi. karena Julia sudah bertemu dengan pejal. bahkan pejal sendiri juga sedang berjalan menghampiri mereka Julia langsung menghadap ke arah sang driver dan membayar ongkos mereka dengan lebih.


"ini Pak makasih banyak ya pak.." ujar Julia menyerahkan uang rp1.000.000 ke tangan driver tersebut. sementara sang driver yang melihat jumlah uang tersebut langsung terkejut.


"maaf dek. Ini kebanyakan satu orang ongkosnya hanya rp130.000." ujar sang driver lagi.


"tidak apa-apa Pak. bapak juga Sudah menemani dan mengantarkan Kami sampai tujuan jadi gunakan saja uang itu untuk mencari penginapan dan jangan paksakan untuk pulang malam ini. sekali lagi makasih ya Pak kalau begitu kami duluan bapak hati-hati pulangnya." ujar Julia lagi tanpa mau mendengarkan bapak driver itu.


sementara pejal langsung mengajak ketiga orang itu masuk ke dalam kediaman kecilnya itu.


"maaf silakan masuk rumah saya memang sangat kecil." ujar pejal dengan suara ramah dan mempersilakan ketiga orang itu memasuki rumahnya.


"makasih Kak maaf kami merepotkan kakak." Setelah itu mereka bertiga pun masuk ke dalam kediaman tersebut diikuti oleh pejal dari belakang.


dan saat mereka menapaki rumah itu Julia langsung melihat seseorang yang dirindukan dan dikenalnya itu terbaring di tempat yang sederhana yang sedang tertidur. Julia yang melihat itu langsung terpaku Begitu juga dengan yang lainnya. tak terasa Satu tetes air matanya pun jatuh. dengan langkah pelan Julia langsung berjalan mendekat untuk melihat wajah itu lebih dekat.


deg


dan benar saja, dia adalah orang yang sangat dirindukannya yang mampu membuat hatinya porak-poranda setelah mendengar kabar kecelakaan mengenai dirinya. karena Julia merasa rindu berat kepada Brian dengan pelan ia langsung memeluk dan menyandarkan kepalanya di atas dada Brian.


Brian sendiri yang masih terlelap langsung terusik. Ia pelan-pelan mendengar isakan tangis dan membuka matanya alhasil ia langsung mendapati Julia sedang menangis di atas dadanya itu. sementara pejal dan yang lainnya hanya menyaksikan kejadian tersebut dan juga ikut menangis haru.


"Julia... sayang kamu di sini.." ujar Brian dengan suara serak khas bangun tidur.


Julia yang mendengar suara Brian pun langsung mendongak dan menatap wajah Brian yang penuh dengan luka goresan itu. mereka saling bertatapan sejenak mata mereka pun sama sama berkaca-kaca. namun kemudian tangis Julia langsung pecah.


"huuuuu... Kak brain jahat... aku merindukanmu Kak terima kasih sudah selamat.." ujar Julia Langsung kembali menyandarkan kepalanya di atas dada Brian.


Brian yang masih terpaku pun langsung terkejut ketika mendengar tangisan itu. bibirnya langsung memungkinkan saya dan tangannya juga langsung memeluk erat kepala Julia yang berada di atas dadanya.


"Kakak juga merindukanmu. sangat-sangat merindukanmu maafkan kakak sudah membuatmu sedih akhir-akhir ini. tapi kakak ingin bertanya dan memastikan Apakah kakak sudah diterima..??" tanya Brian lagi yang langsung mengundang galak tawa Dea dan Astra.


karena mereka berdua tahu kalau Brian sedang berjuang untuk meluluhkan hati atasan mereka. sementara Julia yang ngedenger hal itu langsung tersipu malu dan meninggikan kepalanya di atas dada bidang brain. namun kemudian mendongak.


"kenapa ditanya lagi tentu saja Kakak diterima dan tidak ada rasa ragu lagi di hati ini. Kakak terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Julia mencintai kakak juga hehehe." ujar Julia lagi. Brian yang mendengar penuturan Julia langsung tersenyum senang.


"terima kasih banyak sayang jadi kakak sudah diterima ya.." ujar Brian lagi dan langsung dibalas sambutan kepala dari julia.


"nembaknya nggak romantis banget.. tapi aksi ini juga menjadi rekor dan pertama kali dalam sejarah. jadian di malam hari dengan kondisi sakit hehehe.." ujar dea menimpali keduanya.


mereka yang mendengarkan penuturan dea itu pun langsung ikut tertawa Begitu juga dengan Brian dan Julia. bagi Julia dan Bryan ini adalah momen yang begitu spesial bagi mereka berdua walaupun kondisi dan situasinya tidak mendukung tapi setidaknya ini menjadi ciri khas mereka ketika dipersatukan.


dan akhirnya ceritain pun selesai.


***


makasih teman-teman. maaf jika ini cerita di luar ekspektasi teman-teman dan juga masih memiliki banyak kekurangan latar dan adegan. sampai ketemu lagi di judul cerita selanjutnya.🙏😁😁