
Sementara Angga dan Julia terkekeh mendengar penuturan Bayu, yang biasanya mereka akan saling adu mulut, kini Bayu mengeluarkan kata-kata romantis kepada Nindy.
Sementara itu, grup sekolah mereka sudah dipenuhi dengan berbagai macam komentar, bahkan belum Lagi komentar mengenai Putra dan Julia, saat Putra membantu Julia mengobati kakinya yang terkilir, kini ditambah Nindy dan Bayu yang resmi pacaran di atas puncak Pela.
"Gila banget sumpah..!! Demi apa Bayu dan Nindy jadian di puncak Pela. Itu romantis banget cok.. pemandangannya sangat bagus. Lain kali aku juga mau diajak serius di tempat-tempat indah seperti itu.." ujar teman-teman mereka di grup sekolah.
"Belum lagi mempertanyakan hubungan Julia dengan ketua OSIS, eh malah muncul berita kembali yang bikin greget. Semangat aja lah pokoknya langgeng terus ya."
"Wah aku iri banget.. bisa-bisanya ada cowok se romantis Bayu..!!" Ujar yang lain.
"Woi !! woi !! jadian kok nggak bilang-bilang sama kita. Dasar teman laknat.." kali ini yang bersuara adalah Yudi.
"Tapi selamat ya bro, akhirnya nggak bakal ada adu mulut lagi deh di meja Atau di mana pun kalau ketemu. Yang ada pasti sayang-sayangan yang mungkin akan membuat para jomblo seperti kami menjadi seperti mengontrak di dunia ini." Sambung Yudi lagi dengan emoticon menangis. ðŸ˜ðŸ˜
Dan masih banyak lagi komentar-komentar para siswa di dalam grup itu, bahkan para fans berat yang dimiliki oleh Putra tak kalah mengkritik foto tersebut. Ada yang bilang Julia kegatelan, cari simpati doang dan lain sebagainya. Begitu juga dengan foto mengenai Nindy dan Bayu.
Namun mereka semua tidak peduli, Yang penting saat ini mereka senang. Cukup lama anak-anak berada di atas puncak pela menikmati pemandangan alam itu, apalagi angin yang bertiup sangat sejuk dan segar. Setelah jam 03.00 akhirnya mereka memutuskan untuk turun.
"Baik teman-teman, ini sudah jam 03.00 sore dan kita sudah waktunya untuk kembali turun. Sebelum turun kita cek teman-teman kita terlebih dahulu ya, biar tidak ada yang tertinggal. Sampah-sampah bawaan juga tolong dipungut dan jangan dibuang di tempat ini. Periksa kembali barang bawaan teman-teman agar tak ada yang tertinggal." Ujar Putra lagi.
Mereka semua pun melaksanakan apa yang disampaikan oleh Putra, memeriksa teman teman dan menghitung angka sampai jumlah mereka pas, memungut sampah-sampah yang baru saja mereka bawa dari bawah, serta memeriksa kembali barang bawaan mereka. Setelah semuanya selesai, sebelum turun gunung mereka kembali berdoa agar di perjalanan tidak mendapat apa-apa. Setelah itu mereka sama-sama turun gunung. Sebelum turun Putra mendekati Julia.
"Lia, kuat jalan nggak ? Kalau nggak kuat biar aku gendong Ya.." ujar Putra kepada Julia. Julia menanggapi tawaran dari sang ketua OSIS dengan senyum. Namun Julia malah menolaknya dengan halus.
"Aku tidak apa-apa Kak. Aku masih bisa berjalan. Lagi pula medannya juga tidak baik untuk saling menggendong. Takutnya nanti malah tergelincir. Kakak tenang aja aku bisa kok." Ujar Julia sambil memperlihatkan jari telunjuknya seolah mengatakan oke.
" Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau sakit jangan dipaksakan ya.." ulang Putra mengingatkan Julia.
Julia pun langsung menganggukkan kepalanya. Akhirnya mereka semua kembali turun gunung secara bersama-sama. Sementara Julia dan rombongannya berada paling belakang. Tapi tentu saja teman-teman mereka semua tak akan meninggalkan mereka terlalu jauh. Mengingat ada salah satu diantara mereka yang kakinya terkilir Siapa lagi kalau bukan Julia.
Akhirnya, kurang lebih 45 menit penurunan, mereka pun sampai kembali di tempat perkemahan. Kini posisi Julia tengah berada dalam gendongan Angga kembali, padahal awalnya Putra menawarkan hal itu kepada Julia. Tapi karena Julia segan terhadap Putra sang ketua OSIS, akhirnya ia memilih Angga untuk membantunya.
"Lia, kamu nggak papa kan..?? Kamu tahu nggak kita khawatir banget terjadi apa-apa dengan kalian di sana.. tapi beneran nggak papa kan..??" Tanya Larasati kepada Julia. Nafasnya ngos-ngosan akibat mengejar dan berlari menghampiri teman-teman mereka. Julia tersenyum mendapati betapa khawatirnya Larasati dan teman-temannya itu.
"Aku nggak papa kok ras, Alhamdulillah Ini cuma agak sedikit nyeri aja.." jawab Julia sambil memberikan senyum terbaiknya kepada teman-temannya agar mereka tak mengkhawatirkan dirinya lagi. Mendengar penuturan Julia mereka semua bernafas lega.
"Syukurlah kalau begitu... Tapi.. memang boleh ya, nembak pacar tapi teman-temannya nggak lengkap nggak dikasih tahu lagi.." ujar Larasati kembali menyindir Nindy dan Bayu.
Bayu dan Nindy yang mendapat sindiran dari Larasati hanya bisa membungkam mulut mereka dan berekspresi seolah-olah tak mendengar apa yang dikatakan oleh Larasati. Larasati yang melihat aksi kedua teman mereka itu langsung berdecak sebal.
"Kalian berdua ya,!! aku tuh lagi nyindir kalian tahu..!! Kalian nggak ingin ngejelasin apa-apa gitu sama kami..??" Tanya Larasati kepada kedua temannya itu. Mendengar penuturan Larasati yang sepertinya sedang kesal kepada teman-temannya itu dan dengan postur tangan yang berada di atas pinggangnya membuat mereka terkekeh.
"Bebeb udah ya.. biarkan saja mereka dulu. Mungkin mereka berdua masih malu-malu meong.. jadi nanti saja memberondong mereka dengan sejuta pertanyaan. biarkan mereka istirahat terlebih dahulu ya." Ujar Satria berusaha memberikan pengertian kepada pacarnya itu. Mendengar penuturan Satria, Larasati pun menghela nafasnya, entah kenapa ia sangat kesal karena tidak melihat momen seperti itu.
"Hah !! ya sudah ya sudah.. maaf ya nin, bay. Tapi selamat ya, akhirnya udah nggak jadi Tom and Jerry lagi. Hehehe.." ujar Larasati tersenyum lucu ke arah teman-temannya itu.
"Ya udah kalian sana. Mandi dan ganti baju.. nanti biar kita saja yang masak. Ayo Lia, wita bantuin.." ujar Juwita kepada Lia.
Julia pun menganggukkan kepalanya, dengan bantuan Juwita, Julia membersihkan diri dan beristirahat. Tak lupa Ia juga mengoleskan beberapa selep untuk mengurangi rasa nyeri kembali di pergelangan kakinya.
"Tapi kaki kamu nggak patah kan Lia... Takutnya nanti kita mikirnya keseleo tapi sudah berakibat fatal." Ujar wita sambil mengoleskan seleb di pergelangan kaki Julia.
"Iya wit, ini nggak papa kok. Cuman memang agak sedikit nyeri karena aku paksain untuk jalan." Ujar Julia lagi. Juwita pun mengangguk anggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu Juwita meletakkan kembali selep yang barusan ia gunakan.
"Ya sudah kalau begitu, kamu istirahat aja ya Lia. Biar nanti kami saja yang masak. Kalau butuh apa-apa panggil aja." Ujar Juwita kepada Julia. Julia pun mengabulkan kepalanya.
"Oke wit makasih ya.." Juwita pun buru-buru keluar dari tenda untuk bergabung pada teman-temannya yang lain.
"Apa yang bisa dikerjakan lagi..??" Tanya Juwita setelah bergabung dengan ketiga temannya yang lain.