
Mereka semua pun turun. disana, tuan Antonio dengan istrinya sedang menunggu kedatangan mereka, sementara Aliando dan Melvin tengah berada di dalam kamar. Mereka sedang beristirahat karena merasa lelah dalam perjalanan. Tuan Antonio yang melihat kondisi adiknya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Satu hal yang terlintas di kepalanya tuan Antonio, apakah adiknya itu sudah sadar ???
"Astaga Sanjaya.. kamu kenapa bisa sampai seperti ini.." ujar Tuan Antonio dengan prihatin. Ia memeluk tubuh lemah adiknya itu, namun tak ada respon dari Sanjaya. tuan Antonio juga memeluk kedua keponakannya yang tampaknya juga sedang tidak baik-baik saja.
"Paman di mana Julia.. Kami ingin bertemu dengannya.." ujar Raka kepada tuan Antonio.
Tuan Antonio mengganggu anggukkan kepalanya sejenak sambil menuntun adik dan kedua keponakannya itu masuk ke dalam rumah.
"Ayo masuk dulu nak. Julia sedang pergi, Paman belum menghubunginya. tapi dia akan kembali sebentar lagi. Ini juga sudah sore. Ayo masuk dulu, kalian ganti baju dan mandilah terlebih dahulu." Ujar Tuan Antonio kepada keponakannya itu.
Raka dan Ridho tak menuntut banyak pertanyaan kepada sang paman. mengingat saat mereka pergi menemui Tuan Antonio untuk bertanya gimana keberadaan sang adik ?? Tuan Antonio selalu menghindar dan pasti tidak akan memberitahu mereka. yang pasti saat ini, mereka telah berkumpul semua dan sebentar lagi akan bertemu dengan adik mereka.
Akhirnya Raka dan Ridho menurut begitu saja, mereka juga membawa serta Tuan Sanjaya bersama dengan mereka. Kedua anak Tuan Sanjaya ini, merawatnya Dengan penuh kasih sayang. Semuanya terlihat dengan bentuk perlakuan Raka dan ridho terhadap ayah mereka.
***
Sementara di posisi lain, Julia sudah bersiap-siap untuk kembali pulang ke rumah. Apalagi pamannya sudah menghubungi dirinya untuk menyuruhnya pulang dan jangan terlalu larut dalam pekerjaan. Sementara nanti, tokoh itu akan dikelola oleh anggotanya seperti biasanya.
Sebenarnya ada rasa rindu dalam hati Julia yang tidak bisa ia ungkapkan kepada siapapun. Tentu saja rasa rindu itu diperuntukkan untuk kedua orang tuanya, apalagi dirinya tengah mendengar kabar bahwa sang ayah mengalami depresi.
Namun untuk menghalau pikiran itu, Julia sengaja berangkat ke rumah makannya untuk menghibur diri agar tak terlalu kepikiran. Akhirnya tak lama Julia sampai di rumah dengan mengendarai motornya itu, Ia pun langsung mengetuk pintu karena ia tahu ada keluarga pamannya di dalam rumah.
Tok tok tok
Ceklek
Duar !!!
Julia terkejut melihat orang yang telah membukakan pintu untuknya. Keduanya pun saling menatap dan mengunci pandangan mereka. Mereka sama-sama syok dan terkejut. dan juga sama-sama terpaku. Dari pancaran wajah masing-masing, terselip rasa rindu yang mengguncah dan tak terbendung lagi untuk mereka.
"Kak Ridho..." Panggil Julia dengan suara pelan dan lirih.
Tak ada emosi di dalamnya, Satu tetes air mata Julia juga ikut jatuh melengkapi suasana haru itu. Dan tak hanya Julia, Ridho juga yang melihat kehadiran adik yang selama 3 tahun mereka cari kini berdiri tepat berada di hadapannya, air matanya juga langsung luruh.
jantung keduanya sama-sama berdetak kencang. Seolah-olah badan mereka menggigil akibat pengaruh jantung itu. Tapi, Akhirnya tanpa mengatakan apapun lagi, Ridho langsung berhambur dan memeluk erat tubuh adiknya. Ridho menangis sejadi-jadinya mengingat betapa menderitanya hidup adiknya itu.
Apalagi mengingat waktu Mama mereka mengatakan bahwa adiknya adalah pembawa sial dan penyebab mereka kecelakaan.
"Julia huuuu... Hiks hiks.. Julia Abang rindu sekali denganmu dek... hiks.. sebegitu marahnya kamu sama abang sampai-sampai tak memberikan kabar sedikitpun kepada kami. Hiks.. hiks.. maafkan Abang dek.. maafkan Abang.. Abang sayang sama kamu.. Abang sangat menyayangimu.. maafkan kesalahan Abang dulu ya.. " ujar Ridho di sela-sela tangisnya.
Ia juga tak melepas pelukannya kepada sang adik. Sementara Julia sendiri yang mendengar ungkapan hati Sang Kakak juga ikut menangis dan membalas pelukannya. Seketika rasa benci untuk keluarganya itu langsung menguap begitu saja ke permukaan. Rasa rindunya lebih besar ketimbang rasa marahnya terhadap mereka semua.
"Kakak... Maafkan Julia juga ya Kak.. Julia juga sayang kakak.." ujar Julia juga.
Ia juga menangis dalam pelukan itu. Hatinya yang rapuh dan penyayang, tentu saja memudahkan Julia tersentuh dan bersedih. Saat suasana peluk-pelukan itu, nyonya Salsa yang melihat mereka Langsung menegur.
"Sayang.. kalian ngapain nangis di depan pintu nak.. Ayo masuk dulu ke dalam.. lepaskan kangen-kangennya di dalam rumah.." ujar nyonya Salsa tersenyum melihat kedua keponakan kandung suaminya itu sedang melepas rindu tepat di depan pintu rumah.
Julia dan Ridho pun langsung melerai pelukan mereka dan tersenyum. Tak lupa Julia juga menghapus air mata kakaknya yang sudah membanjiri pipinya itu. Begitu juga dengan Ridho, Ia juga menghapus air mata adiknya walaupun air matanya itu tak sampai membanjiri pipinya. Dan walaupun Julia menangis sedih, tapi sepertinya Julia sudah cukup terlatih dengan hatinya yang sakit itu.
"Iya bi.." akhirnya ridho dan Julia masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
Julia belum melihat Raka dan juga tuan Sanjaya karena keduanya saat ini masih berada di dalam kamar. Raka juga sedang berusaha membantu membersihkan badan ayahnya.
"Kenapa Kakak datang..?? Terus Kakak datang sama siapa..??" Tanya Julia lagi kepada saudara kandungnya itu.
Ridho tak menjawab. Ia malah menarik tubuh adiknya dan membawanya lagi ke dalam pelukannya. Rasanya rindu itu tak cukup disalurkan hanya dengan sekali pelukan saja. Ia harus memeluk tubuh adiknya berkali-kali.
"Nanti akan kamu tahu sendiri.. pokoknya maafkan kesalahan kakak, papa dan Kak Raka ya.." ujar Ridho sambil memeluk erat tubuh adiknya. Julia tersenyum dan juga membalas pelukan itu.
"Memangnya Kakak sudah tak membenci Julia lagi..?? Julia ini masih anak yang sama loh, Yang Kakak benci beberapa tahun silam." Ujar Julia kepada kakaknya itu. Ridho pun dengan cepat menggelengkan kepalanya walau masih dalam pelukan Julia.
"Iya kakak tahu. Dan semua itu adalah masa lalu yang harus kakak jadikan sebagai pelajaran untuk hidup kakak. Sekarang kakak sadar, bahwa darah yang ada dalam diri kita tak dapat dipisahkan. Maafkan kakak dulu ya dek.. maafkan kakak yang selalu membentakmu. Tapi terserah Adik aja mau memaafkan Kakak atau tidak . Yang penting saat ini, kakak sudah bertemu dan memeluk dirimu. Melihatmu sehat dan baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup." Ujar Ridho sambil melerai pelukan mereka. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi sang Adik dan menatap lekat dalam dalam mata Julia.
"Kamu di sini sehat kan.. Kenapa kamu sampai di kota ini dek. Oh aku tahu.. kakak tidak ingin menyinggungnya lagi, tapi terima kasih ya sudah hidup dengan baik sampai sekarang." Ujar Ridho lagi kepada adiknya.