
Ia yakin, sahabat-sahabatnya juga pasti sangat terpukul mendengar berita kecelakaan tentang dirinya. Ia juga dapat membayangkan bagaimana terpukulnya mama dan papanya setelah mendengar ini. begitu juga dengan Julia, ia yakin gadis itu pasti menyalahkan dirinya akibat menunda-nunda menjawab pernyataan cintanya.
Entah kenapa, memikirkan hal itu Brian langsung menyunggingkan senyum. Ia senang karena pada akhirnya Tuhan masih memberinya kesempatan untuk bisa melihat orang-orang yang dicintainya.
"Tunggu aku pulang sayang, mama dan papa." Ujar Brian lagi.
 beruntung dirinya tidak mengalami amnesia atau hilang ingatan, sehingga ia bisa mengkondisikan hal ini.
Saat dirinya sedang melamun, tiba-tiba pejal datang dari arah belakang dengan membawa satu mangkuk bubur cair dan juga gorengan serta minuman lainnya untuk mereka berdua. bubur itu akan diberikan kepada Brian untuk dikonsumsi agar lebih mudah dicerna oleh sistem pencernaannya.
"Kamu sudah bangun mas... Mas butuh sesuatu..?? Tanya pejal kepada Bryan.
Brian yang mendengar suara penolongnya itu pun langsung mengarahkan pandangannya ke arah pejal dan tersenyum.
"Saya Brian mas..?? Kalau bisa saya ingin bangun tapi tidak bisa bangun sendiri.." ujar Brian lagi kepada pejal.
Pejal yang paham akan hal itu pun langsung tersenyum dan meletakkan nampan yang berisi sarapan pagi untuk mereka.
"Oh, Kalau begitu mari saya bantu bri.. emm nggak papa saya panggil begitu kan..??" Tanya pejal kepada Bryan.
Bryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. akhirnya pejal mendekat dan membantu Brian bangun dan duduk dengan bersandarkan bantal-bantal yang disusun oleh pejal.
"Ayo, kamu sarapan dulu biar mas suapin ya.." ujar pejal kepada Brian.
Brian tentu tidak bisa menolak, karena ia memang membutuhkan pertolongan itu. dan langsung menganggukkan kepalanya lagi. Akhirnya pejal menyuapi Brian dengan telaten.
"Oh ya mas pejal, saya kok tidak melihat orang lain di rumah ini..??" Tanya Brian kepada pejal.
Pejal yang mendengar penuturan Brian langsung tersenyum. tentu saja, tak ada orang lain selain dirinya dan Brian saat ini. karena dirinya yatim-piatu, sejak kecil.
"Iya. saya tidak punya orang tua atau sanak keluarga. saya anak yatim piatu dan sebatang kara. saya juga belum menikah karena belum siap untuk mengajak susah anak orang hehehe.." ujar pejal dengan ramah menjelaskan Bagaimana kehidupannya. Brian yang mendengar cerita itu langsung merasa bersalah.
"Emm.. maaf mas, saya tidak bermaksud.." ujar Brian lagi dengan suara lemah pejal pun tersenyum dan langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak apa-apa Bri. Mas senang kamu bertanya dan tinggal di sini. Tapi mas juga tidak akan melarang mu pergi ketika kamu sudah sembuh. Yang penting kamu sehat dulu." Ujar pejal dengan serius disertai senyum bersahaja. Brian sendiri ikut tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sama-sama itu sudah menjadi tugas dan kewajiban kita sesama manusia." Jawab pejal lagi.
"Oh iya. kamu tidak hilang ingatan kan ?? berarti kamu bisa memberitahu mas Siapa yang harus mas hubungi untuk memberitahukan keberadaanmu. Tapi kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi denganmu sampai akhirnya kamu pingsan di tepi pantai." Tanya pejal yang sebenarnya, ia juga merasa kepo dengan kejadian sebenarnya. Brian yang mendengar pertanyaan itu merasa tidak keberatan untuk menceritakannya.
"Iya mas. aku mengalami kecelakaan pesawat dari bandara Minangkabau menuju bandara Soekarno Hatta. Entah Bagaimana kejadiannya, untung waktu itu terjadi retakan pesawat sehingga saya yang pas berada pada patahan itu langsung terhempas ke lautan. saya juga berusaha untuk membebaskan belitan seatbelt kursi. Namun karena kehabisan nafas, akhirnya saya pingsan dan mungkin terombang-ambing sampai ke sini." Jelas Brian kepada pejal. pejal yang mengetahui cerita sebenarnya langsung terkejut.
"Syukurlah... beruntung sekali kamu selamat dalam kecelakaan itu. Kabarnya setiap pesawat yang mengalami kecelakaan pasti tidak ada yang selamat dan kalaupun ada itu sangat mustahil. Tapi tidak apa-apa. lain kali lebih berhati-hati. namun jika memang kita hati-hati tetap saja kita hanya bisa pasrah kepada takdir Tuhan saja." Ujar pejal lagi memberi nasehat.
Brian pun tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya menyetujui apa yang disampaikan oleh pejal.
"Setelah ini, kamu minum obat terlebih dahulu. Setelah itu mas tinggal kamu sebentar ya. mas ingin mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan." Ujar pejal kepada Brian. Brian sendiri menganggukkan kepalanya.
"Iya mas. tidak apa-apa. maaf ya mas, Bryan merepotkan mas."
"Ia nggak papa. Santai saja. justru saya merasa senang. dengan keberadaan kamu disini. jadi, saya tidak terlalu merasa kesepian." ujar pejal lagi.
"Oh iya mas, saat ini saya di mana ya ?? dan Sudah berapa lama saya di sini..??" Tanya Bryan kepada Pejal.
"Kamu berada di Desa nelayan yang ada di kota Cilegon. (Maaf ya, Jika tidak ada nama desa nelayan di sana). Dan kamu sudah tidur selama 2 bulan." Ujar pejal lagi langsung membuat Brian terkejut. karena ternyata dirinya telah tertidur dan menghilang selama 2 bulan tanpa kabar.
"Ternyata aku sudah sangat lama tertidur ya mas. terima kasih banyak sudah menjaga dan merawatku. Oh ya, mas aku bisa minta tolong pada mas tidak untuk menghubungi nomor seseorang." Ujar Brian kepada pejal.
Brian ini menghubungi Julia untuk mengabarkan kepada gadis itu bahwa dirinya saat ini selamat dan baik-baik saja, agar Julia tidak merasa sedih. namun untuk memastikan hal itu Brian juga harus tahu Apakah Julia sedih atas musibah yang menimpa dirinya atau tidak.
Namun pemikiran itu dihempaskan jauh-jauh oleh Brian. karena dia tahu, Julia orangnya penuh dengan kasih sayang dan kelembutan. walaupun nyatanya dirinya tak pernah mendapatkan balasan kasih sayang dari orang-orang terdekatnya termasuk dirinya. Jadi sudah pasti, Julia akan memikirkannya dan juga merasa sedih atas kehilangannya. apalagi sebelum terjadinya kecelakaan, hubungan mereka sudah dibilang sudah dekat dan sudah mulai membaik.
"Baiklah bri. gunakan saja handphone mas. Beberapa hari yang lalu, mas juga selalu mengisi pulsanya. walaupun nyatanya tidak ada yang menelpon mas. tetapi mas berpikir mungkin butuh di suatu saat. makanya pulsanya harus ada. jadi tenang saja, hubungi saja keluargamu dek." Ujar pejal dengan penuh perhatian.
Brian yang mendengar dan melihat perhatian pejal merasa sangat tersentuh. seolah-olah dia merasakan kasih sayang seorang kakak kepadanya. apalagi berhubung dirinya saat ini hanyalah seorang anak tunggal yang dimanja oleh kedua orang tuanya.
"Terima kasih mas, sudah mau membantuku. Sungguh tak ada yang bisa saya lakukan untuk membalas semua kebaikan mas." Ujar Brian lagi dengan penuh rasa haru.