JULIA

JULIA
63. suram



Sementara Julia sendiri sudah tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Ia bener-bener sudah cukup menyerah dengan semuanya. Dan ternyata, begitu sakit untuk melepaskan rasa ini selama-lamanya.


"Ajak Julia masuk ke dalam ma." Ujar Tuan Antonio.


Nyonya Salsa yang mengerti dengan penuturan sang suami langsung bergegas mengajak sang keponakan. Julia hanya menurut saja, bagaimana dan ke mana nyonya Salsa membawanya.


Sementara Tuan Antonio dan yang lainnya mengeluarkan barang-barang bawaan mereka dari dalam mobil. Niat hati ingin berlibur dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarga, tapi ternyata malah terjadi hal yang seperti ini. Nyonya Salsa pun mengajak Julia duduk di sofa ruang tamu sambil meminta air putih dari di Ami.


"Bi Ami, tolong bawakan air putih segelas ke sini." Ujarnya Salsa kepada asistennya itu.


Dengan segera bi ami langsung mengambil segala air dan memberikannya kepada sang nyonya. Bi Ami sendiri merasa bingung melihat bahwa majikannya pulang tidak sesuai dengan rencana yang mereka susun.


(Sepertinya terjadi sesuatu..) batin bi Ami. Bi Ani tidak berani bertanya karena ya tentu harus mengetahui batasannya.


Tidak mungkin bi Ami ikut campur dalam urusan keluarga Tuan Antonio. Setelah meletakkan minuman itu di atas meja, bi ami langsung meninggalkan nyonya Salsa dan Julia dan kembali ke dapur menyelesaikan pekerjaannya.


"Minum dulu sayang. Setelah itu,. tenangkan hati dan pikiranmu." Ujar nyonya Salsa.


Tapi sebelum Julia meminum air putih itu. Entah kenapa tangis Julia kembali pecah, Julia kembali mengingat kata-kata yang dilontarkan oleh sang Mama kepadanya yang telah mengatakan bahwa dirinya adalah anak pembawa sial.


 tanpa aba-aba, Julia memeluk tubuh nyonya Salsa. Nyonya Salsa yang mengerti dengan kondisi hati Julia langsung meletakkan minuman itu kembali ke meja dan ikut membalas pelukan dunia sambil mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya. hatinya juga ikut sakit, andai posisi Julia saat ini ada padanya, pasti nyonya Salsa juga akan merasa sakit hati.


"Keluarkan semua tangismu nak. Setelah itu berjanjilah pada Tante, kalau di masa depan Julia tidak akan menangis lagi. Jadilah wanita yang kuat, dan jadikan wanita-wanita di luar sana cemburu dengan dirimu. Ingat, kamu tidak sendiri sayang.. Masih ada Om Antonio yang sangat menyayangimu, masih ada tante yang selalu mendukungmu dan selalu menyediakan pelukan untukmu. Masih ada 4 saudaramu yang lain yang begitu sangat menyayangimu. Jangan pernah merasa sendiri nak.. karena kami adalah keluargamu sekarang." Ujar nyonya Salsa dengan hati yang begitu sakit.


Apalagi dirinya tengah mendengar tangisan pilu yang keluar dari bibir mungil Julia. Rasanya nyonya Salsa ingin sekali menghajar nyonya Ratih yang telah menyakiti hati Putri kandungnya sendiri.


(Sungguh mereka sangat tega menelantarkanmu seperti ini. Bahkan sampai menghinamu dan menyakiti hatimu. Tante sungguh tidak sanggup membayangkan kehidupanmu nak, tapi Tante akan selalu berdoa supaya kamu selalu kuat dan menjadi wanita yang tangguh.) Batin nyonya Salsa.


Ia terus mendekap Julia dalam pelukan hangatnya, serta memberikan usaha-usapan lembut di punggung Julia.


Dapat mereka bayangkan begitu sakit hatinya seorang anak, ketika di umur seperti ini yang masih sangat mengandalkan perlindungan orang tua. Tapi, orang tua yang dianggap sebagai pelindung itu malah menggoreskan luka yang begitu dalam di hati anak-anak mereka.


Bahkan dengan teganya nyonya Ratih mengatakan bahwa Putri yang ia lahirkan sendiri dengan darah dan air matanya, disebut anak pembawa sial. mereka semua duduk termenung, menunggu Julia selesai mengeluarkan sakit hatinya.


Setelah sekian lama Julia menangis dan sudah merasa tenang. ia kembali melepaskan pelukannya dari tubuh nyonya Salsa. Ia mengusap air matanya yang sudah membanjiri pipinya itu. Matanya bengkak akibat air mata yang keluar tiada henti. Sementara nyonya Salsa kembali mengambil air putih itu dan menyodorkannya kepada Julia.


"Minum dulu sayang.." ujar nyonya Julia dengan pelan lemah lembut dan penuh perhatian. Julia mengambil gelas yang berisi air putih itu dengan tangan yang bergetar, dan langsung meneguknya sampai habis.


"Terima kasih Tante... Terima kasih Tante sudah menjadi sandaran Julia. Terima kasih juga kepada Om dan kakak-kakak Julia... Julia sungguh tidak tahu harus bagaimana lagi jika seandainya tak ada paman dan tante di samping Julia. Sekarang Julia hidup sebatang kara di dunia ini Tante... Kedua orang tua Julia dengan terang-terangan membuang Julia dari keluarga mereka. Mereka jahat tante... Mereka sangat jahat. Hiks.. Kenapa mereka mau melahirkan aku di dunia ini, jika ujung-ujungnya mereka malah mencampakkanku begitu saja." Ujar Julia dengan lirih.


Semua yang mendengar penuturan Julia ikut merasa sedih, bahkan keempat saudara sepupu Julia lebih memejamkan mata mereka untuk sekedar menanamkan hati mereka yang bergejolak. Arvin yang tidak suka mendengar ucapan adiknya itu langsung bersuara.


"Dek... Kamu tidak sendirian di dunia ini. Jika memang kamu sendirian, maka abang siap untuk menemanimu sampai nanti kamu membangun keluarga sendiri. Ingat, ada Mama papa. Dan kami semua sangat menyayangimu. Kejadian yang terjadi di rumah sakit ini cukup membuktikan bahwa mereka memang tidak menginginkan dirimu. Tapi ketahuilah dek, kami dengan senang hati menerimamu dalam keluarga kami. Kalaupun kamu sudah bukan jadi bagian dari keluarga Kusuma, tapi kami adalah keluargamu." Ujar Arvin. Ia langsung bergegas merangkul tubuh kecil Julia dan membawanya dalam pelukannya.


"Hiks.. jangan tinggalkan abang dek... Abang sudah sangat menyayangimu seperti adik kandung abang sendiri.. Abang bahkan rela melakukan apapun hanya untuk dirimu. Tolong jangan tinggalkan Abang ya..." Ujar Arvin dengan tangis yang tak tertahan.


Seolah dirinya merasakan bahwa Julia pasti akan pergi meninggalkan mereka tanpa sepengetahuan mereka. Julia ikut membalas pelukan sang kakak sepupu. Sungguh, kasih sayang dari keluarga kandung yang ia inginkan tidak ia dapatkan melainkan cacian dan hinaan. Tetapi lihatlah, mereka yang hanya berhubungan dari silsilah keluarga saja mampu memberikan perhatian dan kasih sayang kepadanya.


"Julia janji. Selama kakak tidak menyuruh Julia pergi, Julia akan tetap berada di samping kakak dan yang lainnya." Ujar Julia.


Mereka melepaskan pelukan itu, kemudian Julian menatap keluarga pamannya satu persatu. Ada sesuatu yang ingin dia utarakan. Menangkap sorot mata Julia yang seperti itu, Tuan Antonio langsung bersuara.


"Katakan sayang. Katakan apa yang ingin kamu sampaikan... Biar paman tahu.." ujar Tuan Antonio kepada keponakannya itu.


Julia sekilas menundukkan kepalanya dan menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memulai mengutarakan keinginannya. Setelah itu ia menegakkan wajahnya kembali. Semua yang ada di sana terdiam menunggu apa yang akan disampaikan oleh Julia.


"Paman, bibi, kakak. Julia sebenarnya berat mengatakan hal ini. tapi, Karena Julia sudah memutuskan untuk pergi dari rumah paman dan bibi, Julia minta tolong kepada Paman untuk menguruskan surat pindah sekolah Julia. Julia ingin pergi dari kota ini. Menjauh dari keluarga kandung Julia dan semua kenangan-kenangan pahit yang diciptakan oleh kota ini untuk Julia." Ujar Julia dengan ragu-ragu.