JULIA

JULIA
boncap 1



pagi hari pun tiba. Julia membuka matanya dan bangun dari tidurnya. Julia duduk dan mulai menyadari kalau semalam mereka baru sampai di desa nelayan untuk bertemu dengan Brian. menyadari hal itu Julia langsung mengedarkan pandangannya mencari orang yang ingin mereka temui.


dan benar saja. Julia langsung mendapati keberadaan Brian yang sudah terbangun di atas tempat tidur dan sedang menatapnya sambil tersenyum.


"kamu sudah bangun...?" tanya Brian dengan penuh pengertian.


Julia tersenyum tatkala mendapati keberadaan Brian di sana Ternyata apa yang dialaminya kemarin bukanlah sekedar mimpi. Julia pun langsung bangun beranjak dari sana dan berjalan ke arah Brian dan kemudian memeluk tubuh itu.


"syukurlah Kak aku pikir aku sedang bermimpi bertemu denganmu. tapi ternyata mimpi itu adalah sebuah kenyataan." ujar Julian sambil meletakkan kepalanya di atas dada Bryan sementara Brian sendiri mengangkat tangannya dan mengelus pelan rambut Julia dengan penuh kasih sayang.


"aku Tentu saja tidak akan tenang jika meninggalkanmu tanpa kepastian. tapi ternyata kejadian itu benar-benar merupakan sebuah berkah kepadaku sayang." jawab Brian berusaha menghibur perasaan Julia karena sepertinya Julia masih merasa ini adalah mimpi.


Julia yang sudah merasa puas memeluk tubuh itu pun langsung kembali mengangkat kepalanya. kemudian ia mengedarkan pandangannya tapi tak menemukan keberadaan pejal di sana.


"oh ya Kak, dimana Kak pejal.??" tanya Julia kepada Bryan. Brian pun tersenyum mendengar penuturan itu.


"tolong Kakak dulu. Kakak mau bangun dan duduk rasanya punggung kakak sudah sangat sakit berbaring terus." ujar Brian lagi.


"oh iya kak." jawab Julia dan langsung bersiap membantu Brian untuk bangun dan menyusun bantal sebagai sandaran Brian.


Astra dan Dea yang merasa terganggu mendengar obrolan kedua orang itu pun juga ikut terbangun.


"ugh... ini sudah pagi ya.. cepat sekali paginya. aku harus bersiap jangan-jangan aku udah telat lagi.." ujar Dea dengan suara khas bangun tidur.


Julia yang mendengar penuturan Dea Yang sepertinya masih belum menyadari kejadian yang terjadi langsung tersenyum. tapi kejadian itu tak berlangsung lama karena Setelah Dea mendapati Julia sedang bersama dengan Brian di sana langsung mengembalikan ingatannya.


"oh astaga...!! hehehe aku lupa..." gumam Dea sambil tersenyum lucu. Saat itu pula dia langsung menyadari satu tangan menyentil keningnya.


tak


"auch..." ujar Dea mengusap-usahakannya.


"aduh... sakit Kak sembarangan aja nyentil kepala orang.." ujar Dea memprotes Astra karena dialah pelaku nya.


"makanya, Jangan mimpi. Kakak cuma membantu membangunkanmu saja." jawab Astra dengan santai. sementara dea tak lagi menyauti pengaturan Astra. ia mengerucutkan bibirnya dan bangsa pusakanya yang barusan kena sentil tadi.


tapi berbeda dengan Astra setelah bangun ia sudah tidak mendapati pejal di sampingnya.


"oh ya mana mas pejal..??" tanya astra kepada Bryan dan Julia. Julia sendiri yang duduk di samping Brayen langsung mengarahkan pandangannya ke arah Brian.


"oh ya Kak. kami ke sini sekalian nanti mau membawa Kakak pulang kembali ke Jakarta. gimana Kakak udah kuat kan duduknya..??" tanya Julia lagi mengutarakan niatnya untuk segera memulangkan Brian kepada kedua orang tuanya agar Brian juga segera mendapatkan pertolongan medis di kota. Brian yang mengerti maksud dan tujuan Julia langsung menganggukkan kepala.


"boleh. Tapi Kakak berencana untuk mengajak Kak pejal ke kota. di sini dia sendirian kadang dia akan bekerja ke laut untuk mendapatkan uang. aku tidak tega meninggalkannya dirinya sudah ku anggap seperti kakak sendiri." ujar Brian mengutarakan niatnya untuk mengajak pejal kepada Julia.


Julia yang mendengar niat baik Brian itu pun langsung tersenyum. apalagi mereka juga sudah mendengar cerita Brian saat dirinya diselamatkan oleh pejal dan para warga yang ada di sini.


"Julia juga mikirnya seperti itu Kak. daripada dia sendirian di sini tak memiliki keluarga, lebih baik Kakak anggap saja dia sebagai saudara Kakak." jawab Julia membenarkan.


sementara beberapa saat yang lalu, Astra dan Dea memutuskan untuk keluar dan mencari sesuatu di kediaman itu berharap menemukan keberadaan pejal. tapi nyatanya mereka tak menemukannya di kediaman itu.


"kami tak menemukan keberadaan mas pejal.." ujar Astra kepada Julia. tapi sebelum Julia menjawab Astra tiba-tiba ada yang masuk melalui pintu depan kediaman dan itu adalah pejal.


krak


"eh kalian semua sudah pada bangun. maaf ya tadi kakak keluar sebentar dan sekaligus membeli sarapan untuk kita." ujar pejal sambil memperlihatkan kantong kresek yang sepertinya berisi itu. mereka semua yang melihat keberadaan pejal langsung bernafas lega. sementara Vega yang melihat aksi mereka itu pun menjadi bingung.


"Kenapa ?? Apakah ada sesuatu yang kalian butuhkan..??" tanya pejal kepada anak-anak kota itu.


"tidak mas, tadi kami mencari keberadaan mas. makanya kami lega ketika mendapati mas di sini." jawab dea sambil tersenyum ke arah pejal. mendengar penuturan itu pejal sendiri pun langsung tersenyum.


"maaf ya,.. Ya sudah ayo sarapan dulu. biar nanti Brian bisa langsung minum obat." ujar Rizal sambil mempersiapkan sarapan untuk Bryan. sementara Dea dan Astra langsung mengambil alih bungkusan kresek yang berisi beberapa lontong untuk mereka. Julia yang melihat betapa perhatiannya pejal terhadap Brian membuat Julia tersenyum. pantas saja Bryan menyayangi lelaki dewasa ini.


"oh ya Kakak minta tolong suapin Bryan ya dek." ujar pejal sambil menyodorkan bubur yang sudah tidak terlalu lembek lagi Tidak seperti biasanya.


"oh iya Kak pasti.. Kakak juga ikut sarapan aja." ujar Julia kepada pejal namun pejal sendiri malah menggelengkan kepalanya.


"Kakak sudah sarapan. dan kakak juga masih harus keluar untuk bekerja. jadi kalian di rumah saja ya.." ujar pejal dengan lembut kepada mereka semua. sementara Brian terdiam sambil menatap wajah pejal. Ia yakin pasti pejal yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri masih belum sarapan. begitupun dengan Julia. Ia dapat melihat kepura-puraan di wajah pejal.


"Kakak sarapan saja dulu. saya tahu kakak pasti belum makan karena mengutamakan kami. Kakak tenang saja, kami juga bisa mengurus diri sendiri." ujar Julia dengan pelan kepada pejal.


"Iya mas. mas makan saja. Karena setelah ini pada beberapa hal yang harus Brian sampaikan kepada kakak. dan Bryan harap kakak tidak menolak keinginan Brian, dan juga Brian tidak menginginkan ada penolakan. ayo Kak makan dulu.." ujar Bryan lagi kepada pejal.


pejal pun merasa tidak enak dengan itu semua. karena kondisinya yang seperti ini ia tak dapat memberikan makan kepada tamu-tamu yaitu.


"ta-" ucapan langsung terpotong oleh Julia.