
Kadang juga, Julia menjadi takut sendiri melihat tatapan sang ayah, bukan takut dilecehkan. Tapi Julia takut jikalau tingkah laku Tuan Sanjaya ini dilakukan karena mungkin hidupnya sebentar lagi. Tapi pemikiran itu hanya ada dalam kepala Julia saja. Tuan Sanjaya pun mendekat dan duduk di sebelah putrinya dengan senyum bersahaja di bibirnya. Semenjak bertemu dengan Julia, Tuan Sanjaya tidak pernah melepas senyum dari bibirnya itu.
"Ayo pah, sini makan dulu biar Julia suapin ya.." ujar Julia kepada Tuan Sanjaya.
Tuan Sanjaya pun mengganggukan kepalanya. Dengan pelan tapi pasti, Julia menyuapi makanan ke dalam mulut Tuan Sanjaya dengan telaten dan penuh dengan perhatian.
Tuan Antonio yang melihat kemesraan ayah dan anak itu tiba-tiba meringis, entah kenapa ia merasa cemburu apalagi melihat semua anak-anaknya laki-laki.
"Khem... Kok papa ngerasa cemburu ya melihat kemesraan ayah dan anak itu.." ujar Tuan Antonio kepada istrinya.
Namun walaupun Tuan Antonio berbicara dengan istrinya, semua yang ada di meja makan itu pun mendengarkan, karena tuan Antonio mengatakan hal itu dengan suara yang memang cukup terdengar jelas. Mereka semua pun langsung mengarahkan pandangan ke arah Tuan Antonio tak terkecuali Julia.
"Hah !! papa mau disuapin juga..?? Kalau begitu sini, biar abi saja yang suapin papa.." ujar Abi kepada tuan Antonio.
Tuan Antonio pun langsung melotot kepada anak bungsunya itu. sementara yang lain terkekeh mendengar penuturan Abi.
"Tidak. enak saja papa masih bisa makan sendiri.." ujar Tuan Antonia seolah-olah merajuk kepada anak-anaknya. Mereka yang ada di sana pun kembali tergelak. Bahkan Tuan Antonio sendiri melayangkan tatapannya ke arah Tuan Sanjaya dan putrinya sembari tersenyum-senang.
"Sanjaya, mas harap ini adalah yang terakhir kalinya kamu menyakiti putrimu. Setelah kamu sembuh, perbaiki tingkah laku mu dan bahagiakan anak-anakmu." Ujar Tuan Antonio dengan kontan di depan adik bungsu nya itu.
Beruntung kedai makan itu sepi dan hanya diisi oleh keluarga mereka saja. jadi, tuan Antonio bisa sedikit menasehati adiknya. ya, walaupun kalimat nya hanya sepenggal. Tuan Sanjaya yang mengerti langsung menganggukkan kepalanya dengan patah-patah. Bukan karena ragu, tetapi ia masih belum memiliki tenaga penuh dan otaknya juga kesadarannya masih belum stabil.
"Jangan ngomong seperti itu. Nanti kalau kita udah pulang baru ngomong lagi. Sebaiknya papa dan yang lainnya habiskan makanan saja. Julia juga jangan lupa makan nak.." ujar nyonya Salsa memperingati suaminya. karena, memang mereka Masi diluar, dan tidak etis rasanya suaminya mengatakan hal itu. walaupun tidak salah.
Sementara Sanjaya yang mendapat teguran itu tersenyum. sekaligus karena merasa senang melihat kakaknya begitu memperhatikan anak-anaknya. Apalagi Julia, di saat Julia tidak memiliki sandaran, Tuan Antonio muncul dan dengan senang hati merentangkan tangannya untuk merangkul Putri ini itu.
"Pokoknya sekarang papa harus fokus untuk sembuh ya. Kan papa sudah bertemu dengan Julia.. oke.." ujar Julia lagi kepada tuan Sanjaya. Lagi-lagi Tuan Sanjaya tersenyum dan mengganggu anggukkan kepalanya seperti orang yang kurang fasih berbicara.
Setelah makan siang mereka berakhir, kini mulailah mereka semua beranjak dari posisi duduk mereka. Tujuan pertama mereka saat ini adalah mencari penginapan untuk mereka malam ini. Mereka berubah pikiran, aturannya mereka akan menghabiskan waktu 2 malam di tempat ini, tapi karena mempertimbangkan segala sesuatu, akhirnya mereka hanya akan menginap semalam dan ke esok harinya mereka akan melanjutkan perjalanan mereka untuk menjelajahi keindahan alam yang ada di Sumatera barat ini.
Setelah mencari dan menemukan penginapan yang cocok dan aman, kini mereka beralih ke tempat tujuan di mana, konon kabarnya di situ ada sawah yang terbentang luas yang ada di lereng bukit.
"Papa, lihatlah ciptaan tuhan begitu indah dan bersahaja. Ia menitipkan keindahan ini untuk dinikmati oleh manusia di muka bumi ini. Jadi papa harus sembuh, harus hidup dengan semangat. Biar papa bisa menikmati keindahan-keindahan alam lainnya lebih lama." Ujar Julia kepada tuan Sanjaya.
Julia menggandeng lengan Tuan Sanjaya dan begitu pula dengan tuan Sanjaya. ia menggenggam erat jemari putrinya seolah takut putrinya akan melompat kabur dari sampingnya.
"Iya nak... Maafkan papa putriku.." ujar Tuan Sanjaya yang sadari tadi ia hanya mengatakan kalimat itu saja. Namun Julia paham Karena rasa depresi yang dialami oleh sang papa membuat Tuan Sanjaya hanya mampu mengatakan kata-kata itu saja.
"Tentu saja, Julia sangat menyayangi papa." Ujar Julia sambil menyandarkan kepalanya di bahu Tuan Sanjaya.
Seperti fakta yang mengatakan, bahwa cinta pertama seorang anak perempuan adalah ayahnya. Julia sangat menghormati dan menyayangi ayahnya serta kakak-kakaknya. Begitu juga dengan nyonya Ratih dan kedua saudara perempuannya.
Tapi mungkin karena Julia memiliki banyak kekurangan, sehingga ia tak di akui oleh keluarga kakeknya dari pihak papanya dan yang membuat keluarga intinya juga ikut menyudutkan dirinya. Namun rasanya semua ini perlahan-lahan mulai berakhir, walaupun ada masa lalu yang begitu pahit, namun masa depan harus dijunjung Dan disambut dengan baik. Diam-diam, Ridho yang berada di belakang papa dan adiknya langsung mengabadikan momen tersebut. Ia tersenyum, akhirnya dirinya dapat merasakan momen-momen seperti ini walaupun keluarga mereka masih kurang lengkap.
(Pelan-pelan kita akan membuat kondisi keluarga kita pulih kembali dek. Ya.. walaupun butuh waktu untuk mengembalikan semuanya. Yang penting kita semua baik dan juga sehat-sehat saja.) Batin Ridho saat dirinya sedang fokus mengambil video dan sekali-sekali ia akan mengabadikan momennya di sana.
Sementara Tuan Antonio dan nyonya Salsa juga bergandengan tangan untuk menikmati udara di sana. Apalagi di sore hari suasananya sudah sangat sejuk dan angin sepoi-sepoi nya juga begitu memabukkan yang mungkin saja akan membuat orang tertidur seketika di sana.
"Pemandangannya sangat indah ya Pa. Kita tidak akan pernah menemukan pemandangan indah sejuk dan menyegarkan di kota. Pemandangan-pemandangan seperti ini hanya akan didapatkan di desa-desa saja. Pa, bagaimana kalau kita beli sebuah tanah di pedesaan. Nanti di hari tua kita bisa tinggal di sana dan menunggu ajal memisahkan kita." Ujar nyonya Salsa kepada tuan Antonio.
Anak-anak nyonya Salsa yang masih berada di samping mereka Langsung menimpali. Tentu saja mereka tidak ingin kedua orang tua mereka tinggal sendirian di desa apalagi tidak ada yang mengurus di hari tua.
"Nggak boleh mah..!! Arvin akan menghalangi mama dan papa jika ingin membeli tanah di desa. Bahkan jika di hari tua, niat mama sama papa untuk tinggal di desa tidak akan Arvin setujui." Jawab jawab Arvin dengan ekspresi serius.