JULIA

JULIA
90. meta meminta uang



Setelah itu, ia berusaha menormalkan emosinya agar bisa berpikir dengan jernih. Baru Ridho beranjak dari sana dan mulai mengemasi barang-barangnya dan juga barang-barang ayahnya. Ridho tidak membawa barang banyak, baik barangnya maupun barang ayahnya.


Sementara Raka, Ia langsung membujuk ayahnya untuk segera membersihkan diri. Karena hari ini juga mereka harus segera berangkat ke tempat itu. Tak lupa Raka juga mengisi daya handphonenya agar sesampainya mereka di sana, Raka dapat menghubungi adiknya.


***


Sementara di kediaman Tuan Sanjaya, nyonya Ratih juga tidak tenang memikirkan sikap dan perilaku suaminya akhir-akhir ini. Apalagi mereka juga sudah sering adu mulut untuk memperdebatkan hal-hal yang tidak penting. saat nyonya Ratih sedang duduk melamun memikirkan sikap suaminya, dan juga sikap keras kepalanya yang selalu membantah apa yang dikatakan suaminya, tiba-tiba Meta datang dan langsung meminta uang.


"Mah, mah minta uang dong. Meta mau jalan sama teman-teman Meta.." ujar Meta sambil menyodorkan tangan kanannya meminta uang kepada ibunya.


Nyonya Ratih yang melihat perilaku Meta sepertinya sangat boros dan tidak pandai menghemat langsung mengomeli dirinya. lagian nyonya Ratih baru saja kemarin memberikan uang kepada putrinya itu. masak hanya selang beberapa waktu saja uang itu sudah tidak ada di tangannya.


"Meta, bukannya kemarin Mama sudah memberikan kamu uang.?? Terus kenapa hari ini minta uang lagi.?? Kamu ke mana kan uang-uang itu sampai habis dalam waktu yang singkat." Ucap nyonya ratih kepada putrinya itu.


Meta yang mendengar omelan dari nyonya Ratih langsung memutar bola matanya dengan malas. Sepertinya efek hancurnya keharmonisan rumah tangga Tuan Sanjaya ini mampu membuat Meta menjadi perempuan yang sepertinya agak membangkang, tapi sepertinya ini bukan efek sih, melainkan salah didik yang dilakukan oleh nyonya Ratih.


"Mah !! kebutuhan perempuan itu banyak. Belum lagi beli skin care, beli baju, beli tas, beli sepatu, Jajan, hangout bareng teman-teman. Semuanya butuh uang mah..!! Lagi pula Mama kan banyak uang. Udah ah !! bagi uangnya untuk Meta.." ujar Meta lagi tidak mau tahu.


meta tidak peduli apapun. yang penting ia mendapatkan uang. mau keharmonisan rumah tangga kedua orangnya sedang tidak baik-baik saja, ia tidak peduli sama sekali. padahal, nyonya Ratih sendiri adalah perempuan. tentu ia lebih tau, seberapa banyak kebutuhan perempuan, dari yang dibutuhkan maupun keperluan yang tidak di butuhkan. Menyadari tingkah Meta Yang sepertinya menjadi anak manja dan sewenang-wenang terhadap orang tua membuat nyonya Sanjaya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Nyonya Ratih juga tidak bisa menyalahkan putrinya itu, karena ini semua adalah hasil didikannya. Bahkan sang suami kerap kali mengatakan jangan terlalu menuruti kemauan anak-anak. Namun nyonya Ratih tak pernah mengindahkan apa yang dikatakan oleh sang suami, akhirnya beginilah hasil didikan itu.


"Mama tidak punya uang. Kalaupun Mama ada uang, mama tidak akan memberikannya. Mulai sekarang kamu harus belajar menghemat. Mama hanya akan memberikan kalian uang seminggu sekali, itu pun dengan nominal yang sama dan tidak ada penambahan." Ujar nyonya Ratih dengan tegas dan juga dingin.


Tanpa memperdulikan putrinya, nyonya Ratih langsung meninggalkan Meta di ruang tamu dan memasuki kamarnya. Meta yang mendengar penuturan nyonya Ratih tentu saja tidak terima.


"Mah !! Mama nggak bisa gitu dong.!! Masak meta tadi suruh berhemat.." ujar Meta sambil mengejar langkah nyonya Ratih yang sudah berlalu memasuki kamarnya. Mendapati perlakuan nyonya Ratih seperti itu membuat Meta kembali menjadi kesal.


Meta pun langsung beralih mengambil gawainya dan menghubungi kedua kakaknya. Namun nyatanya panggilan itu abai dan tak satupun di antara keduanya mengangkat panggilan tersebut.


"Ih !! pada ke mana sih. Kenapa kompak sekali tidak mengangkat panggilanku. CK.. lagian, sudah punya papa yang kaya raya, malah jadi gila gara-gara Julia. CK. Bodo amat lah." Ujar Meta mengumpati tuan Sanjaya. ia benar-benar tak memiliki rasa simpati sedikit pun.


Akhirnya Meta meninggalkan rumah, walau tidak mendapatkan uang dari mamanya. Sementara di tempat lain, di sana ada Mita yang melihat perdebatan kakaknya dengan sang mama. Ia sendiri merasa miris melihat keadaan keluarganya seperti ini.


"Kenapa keluargaku jadi seperti ini... semenjak kepergian Kak Julia,.. Papa, Kak Ridho dan Kak Raka juga tidak mau tinggal di rumah seperti biasanya. Kak Julia, Kakak di mana... Maafkan mama sama papa ya, maafkan Mita juga. Kakak pulanglah kasihan papa, walaupun aku belum melihat kondisi papa saat ini, tapi aku yakin papa pasti terpukul dan juga sangat sedih." Monolog Mita kepada dirinya sendiri.


Ia merasa sedih melihat keluarganya yang berpecah belah seperti ini. Ia juga berandai-andai. andai saja dulu dirinya tidak ikut-ikutan mengasingkan sang kakak, pasti sang kakak tidak akan pergi meninggalkan mereka yang akhirnya membuat papanya menjadi stres untuk mencari dan menemukan keberadaan anak gadisnya. Mita juga tidak bisa berbuat banyak, Ia hanya berusaha melakukan apa yang ia bisa saja.


Sementara nyonya Ratih yang Memasuki kamarnya terduduk di samping tempat tidur dengan perasaan sedih. Ia juga memegang gawainya dan menghubungi kedua anak laki-lakinya serta suaminya. Ia ingin berbicara dan meminta maaf kepada sang suami karena akhir-akhir ini dirinya menjadi istri yang keras kepala. Namun nyatanya satupun panggilannya tidak dijawab oleh mereka.


"Ke mana mereka..?? Kenapa satupun panggilanku tidak dijawab." Ujar nyonya Ratih Yang sepertinya mulai khawatir. Ia khawatir suaminya benar-benar akan pergi meninggalkannya dan anak-anak lelakinya juga ikut melakukan hal itu. walaupun ia keras kepala, namun ia sangat mencintai suaminya itu.


"Tidak biasanya mereka mengabaikan panggilanku, walau ada masalah apapun. sebaiknya, Aku segera ke apartemen Raka untuk bertemu dengan mereka." Ujar nyonya ratih bertekad. ia menjadi tidak tenang memikirkan hal itu.


Akhirnya ia beranjak dari tempat duduknya dan menyambar tas yang sering ia bawa-bawa. tujuannya sekarang adalah pergi menuju apartemen Raka. Namun sesampainya nyonya Ratih di dalam mobil, handphonenya berbunyi. Itu adalah panggilan dari sekretarisnya yang ikut membantu di butik.


"Halo Sari ada apa..??" Tanya nyonya Ratih kepada Sari.


"Halo Bu, maaf mengganggu, ini ada beberapa masalah terjadi di butik kita. Apakah ibu bisa ke butik hari ini..?? Masalahnya harus segera diselesaikan Bu.." ujar Sari dari dalam telepon.


Nyonya Ratih yang mendengarkan aduan Sari langsung memijit kepalanya yang tiba-tiba menjadi pusing. Masalah keluarga yang terjadi akhir-akhir ini, ternyata berdampak besar juga bagi usaha butiknya.


"Baiklah, saya akan segera ke sana." Ujar nyonya Ratih.