
Sebelumnya, Tuan Herman sudah pulang terlebih dahulu ke rumah tanpa memberitahu istrinya. di rumah juga ya sedang gelisah mondar-mandir ke sana kemari seolah tidak tahu apa yang harus dilakukannya. sementara Nyonya Sofia yang masih belum mengetahui apa-apa menjadi bingung melihat tingkah sang suami.
"pah, papah kenapa sih ?? dari tadi bolak-balik seperti setrika aja.. mama pusing ini lihat papa bolak-balik seperti itu.." protes Nyonya Sofia.
"oh maaf mah. papa sedang menunggu seseorang." ujar Tuan Herman ambigu. Nyonya Sofia yang mendengarkan penuturan suaminya itu pun langsung mengerutkan keningnya.
"maksudnya pa .??" tanya Nyonya Sofia. tapi Tuan Herman tidak menjawab ia terlihat begitu cemas dan juga sekaligus deg-degan. dan benar saja, Tak butuh waktu lama bel pun berbunyi.
ting tong ting tong
Tuan Herman yang mendengar suara bel pun langsung bangkit dengan tergesa-gesa. Begitu juga dengan Nyonya Sofia yang melihat laga dan tingkah suaminya yang benar-benar membuatnya penasaran.
ceklek
" papa.." ujar Brian ketika melihat Tuan Herman berdiri di ambang pintu.
Tuan Herman sendiri Langsung membeku mendapati kenyataan bahwa Putra yang beberapa bulan yang lalu mengalami kecelakaan pesawat ini tepat berada di depannya. Begitu juga dengan Nyonya Sofia yang terkejut melihat keberadaan anaknya.
"Brian..." lirih Nyonya Sofia. Brian tersenyum melihat kedua orang tuanya dan ikut berkaca-kaca.
"Iya Mama ini Brian..."ujar Brian lagi menahan Isak tangisnya.
"Brian..!!!" Nyonya Sofia pun langsung berlari berhambur memeluk Putra semata wayangnya itu. sementara Tuan Herman langsung tersadar ketika mendengar teriakan istrinya. Ia langsung melihat sang istri yang saat ini sudah memeluk erat tubuh Putra mereka.
"Brian...." akhirnya Tuan Herman juga ikut gabung dan memeluk keduanya.
"astaga nak.. syukurlah kamu selamat... mama sama papa benar-benar sangat bahagia... terima kasih sudah kembali.. terima kasih sudah kembali sayang... hiks.." ujarnya Sofia sambil menangis.
mereka yang melihat aksi keluarga kecil itu pun juga ikut meneteskan air mata mereka. mereka sama-sama ikut terharu ketika menyaksikan keluarga kecil itu berkumpul kembali. Bryan dan kedua orang tuanya pun melerai pelukan mereka. kemudian Brian langsung menggandeng tangan pejal dan memperkenalkannya kepada kedua orang tuanya.
"ma, pa. perkenalkan ini mas pejal. mas pejal inilah yang sudah menolong dan merawat Brian selama 2 bulan tak sadarkan diri pasca kecelakaan pesawat. mas pejal ini sudah Brian anggap sebagai kakak sendiri. dan karena itu pula Brian mengajaknya ikut bersama Brian di sini. mas pejal sudah ku anggap sebagai kakak angkat Bryan dan bagian dari hidup Brian. mas pejal sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain Bryan. karena itu, Bryan ingin mas pejal tetap berada di sisi Bryan menjadi keluarganya satu-satunya di dunia ini..." ujar Brian kepada kedua orang tuanya sementara pejal hanya menundukkan kepalanya Tentu saja tidak berani melihat kedua orang itu.
Nyonya Sofia dan Tuan Herman yang melihat pejal menunduk langsung berjalan mendekatinya.
"angkat kepalamu nak. lihatlah kami. anggaplah kami juga sebagai kedua orang tuamu nak. terima kasih banyak.. terima kasih sudah merawat anak kami dengan baik... terima kasih banyak." hujannya Sofia langsung memeluk erat tubuh pejal yang tiba-tiba langsung memegang itu.
namun tak dapat dipungkiri, hatinya begitu sangat bahagia ketika pertama kali merasakan pelukan seorang ibu. hatinya menghangat dan air matanya pun ikut menetes. setelah itu Nyonya Sofia melerai pelukan mereka dan menghapus air mata pejal.
"terima kasih Pa. terima kasih ma. sebenarnya tidak perlu seperti ini saya juga menolong Brian ikhlas dan nyaman menganggap dia seperti adik sendiri." ujar pejal lagi.
"kami tahu nak. karena itu, jadilah kalian berdua menjadi anak-anak yang baik dan penuh dengan kasih sayang." ujar Tuan Herman lagi pelan pundak pejal. setelah itu tatapan Tuan Herman langsung mengarah ke arah Brian kembali.
"kalau begitu, katakan Yang mana calon menantu papa.." ujar Tuan Herman lagi ternyata masih mengingat apa yang disampaikan oleh Bryan pagi tadi ketika menghubunginya.
Julia yang saat itu sedang berdiri sejajar bersama dengan kakak-kakaknya langsung merasa tersipu malu. apalagi Brian langsung memperkenalkannya begitu saja kepada kedua orang tuanya.
Bryan sendiri yang mendengar penuturan sang papa, langsung mengambil tangan Julia dan membawanya ke hadapan kedua orang tuanya.
"ini dia calon menantu mama dan papa.. Mama papa setuju kan..? tapi kalaupun mama papa Tidak setuju Tidak masalah, Bryan cukup menikahinya saja secara diam-diam hehehe.." ujar Brian langsung mendapatkan sikutan dari Julia.
"oh ternyata ini calon menantu mama.. cantik.. terima kasih sayang sudah menerima anak mama yang bandel ini. dan salam kenal dari mana dan papanya Brian untuk Restu tidak usah diragukan lagi Mama dan papa merestui kalian." ujar Nyonya Sofia langsung memeluk tubuh Julia begitupun dengan Julia. Ia juga ikut memeluk tubuhnya Sofia.
"uuu... so sweet banget mau dong kayak gitu juga.." ujar dea merasa gemas. sementara kedua Kakak Julia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. karena sepertinya kedua orang tua Brian juga menerima baik Adik mereka.
"oh ya sudah ayo masuk dulu maaf ya.. Mama lupa mengajak kalian masuk ke dalam.." ujar Nyonya Sofia lagi kepada anak-anak muda itu. mereka semua tidak bisa menolak, rasanya tidak sopan ketika baru berkenalan mereka tidak singgah dulu di rumah Brian.
akhirnya mereka semua pun masuk ke dalam begitupun dengan kedua Kakak Julia. di sana mereka disuguhkan minuman dan cemilan oleh pemilik rumah.
"oh iya, kita makan siang di sini dulu ya anak-anak.. sekaligus merayakan datangnya anggota keluarga baru di keluarga kita.." ujar Nyonya Sofia kepada anak-anak muda itu. lagi-lagi mereka tidak bisa menolak, akhirnya mereka semua pun makan siang di rumah Bryan. tak lupa Tuan Herman juga menelpon seorang dokter kepercayaan keluarga mereka untuk memeriksa kondisi Brian. setelah makan siang selesai, Raka pun mencoba berbicara untuk berpamitan mengajak adiknya serta teman-temannya untuk kembali ke kediaman mereka.
"oh ya Tante. maaf Tante kamu tidak bisa lama-lama. kami harus segera pulang ke rumah dan mengajak Julia bersama teman-temannya. biar nanti di Brian dan pejal bisa beristirahat." ujar Raka kepada kedua orang tua Brian untuk meminta izin.
"oh tidak nginap di sini.. Mama pikir kalian semua menginap.." ujar Nyonya Sofia. Raka pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"tidak tante. lagi pula rumah kita juga tidak terlalu jauh.." ujar Raka Lagi.
"oh ya sudah kalau begitu nak. tapi jangan lupa kasih tahu kepada kedua orang tuamu ya, nanti kami akan langsung datang meminang Julia untuk Brian. biar pertunangan mereka segera dilaksanakan nak.. tapi kalian setuju kan..??"tanya Nyonya Sofia lagi kepada kedua Kakak Julia. Raka dan Ridho pun langsung menganggukkan kepala mereka.
"tentu saja tante. lagi pula keduanya sudah saling mengenal satu sama lain. jadi tidak ada alasan bagi kami untuk menolak. nanti hal ini akan kami sampaikan juga kepada papa." ujar Raka lagi Nyonya Sofia pun tersenyum-senang Mendengar hal itu.
"Ya sudah tante. kami pamit pulang ya nanti kami main ke sini lagi.. om, kami pamit dulu.."ujar Raka lagi kepada tuan Herman.