
"Memangnya ada urusan apa kamu ingin mendapatkan informasi tentang Julia. Dia sudah pindah seminggu yang lalu, bahkan di hari Minggu pamannya datang mendesak saya untuk segera mengeluarkan surat pernyataan pindah dari sekolah ini. Memangnya kenapa Bryan..??" Tanya kepala sekolah itu. Ternyata penuturan kepala sekolah mampu membuat Brian terkejut dan seketika dunianya menjadi runtuh.
"Ap..paa.. pak... Julia sudah pindah. Nggak mungkin bisa pindah lah Pak..!! Bapak pasti bohong kan..??" Ujar Brian lagi. ia mencoba meyakinkan bahwa hal yang ia dengar tadi bukanlah sesuatu yang benar. Julia tidak mungkin pindah. Kepala sekolah itu menggelengkan kepalanya.
"Saya berbicara fakta Bryan. Lagian kalau kamu bukan cucu dari pemilik sekolah ini, bapak juga tidak akan membocorkan informasi ini begitu saja. Sebaiknya kamu kembali masuk ke kelas dan mengikuti pelajaran."ujar kepala sekolah itu lagi kepada Brian.
Kepala sekolah itu fokus pada pekerjaannya, sementara Brian tidak tahu harus melakukan apalagi. Mendengar bahwa Julia memutuskan untuk pindah dari sekolah ini saja sudah membuat jantungnya berdetak tak karuan. Mendengar informasi tersebut, seolah meruntuhkan dunia Brian saat ini. Dengan langkah gontai, ya keluar dari ruang kepala sekolah.
Flashback off.
Dengan perasaan yang tak menentu, Brian melangkahkan kakinya tanpa arah dan tujuan. Tatapan matanya kosong seolah sayu dan melamun. Karena merasa kemarahan dalam hatinya, Brian melampiaskan amarahnya pada sebuah tembok. Ia memukul tembok itu dengan keras sampai tangan kanannya berdarah. Teman-teman Brayan yang tidak sengaja ingin masuk ke dalam ruang kelas melihat aksi Brian langsung menghentikannya.
"Bray ada apa..!! Hentikan tanganmu bisa terluka..!!" Teriak Galang dengan panik. Galang dan yang lainnya baru melihat sisi Brian seperti ini. Mereka semua pun mencoba menghentikan aksinya sampai akhirnya Brian menyerah.
"Ada apa sih Bray...!! Kamu kok jadi aneh seperti ini." ulang Galang lagi. Sementara Brian entah kenapa, ia malah menangis tersedu-sedu. saat ini, Hatinya sakit, ia mungkin terlambat menyadari perasaannya pada Julia. Dan akhirnya sekarang Julia pergi dari jangkauannya dan tak tahu di mana ia sekarang.
"Sudah, sebaiknya bawa Brian ke UKS dulu. Biar tangannya segera diobati." Usul Charles.
Mereka berempat pun langsung memapah Brian membawanya ke UKS. Seolah Brian Tak memiliki tenaga lagi untuk berdiri. Sesampainya di UKS, unit kesehatan yang bertanggung jawab di tempat itu langsung mengambil tindakan dan mengobati tangan Brian yang terluka.
"Sudah sebaiknya dalam waktu 3 hari jangan sampai kena air ya..." Ujar perawat itu.
"baik sus terima kasih..." ujar teman-teman Brayen. suster itu pun langsung menganggukkan kepalanya.
Setelah itu perawat langsung meninggalkan kelima sahabat itu di ruang UKS. Sepeninggalan sang perawat, teman-teman Brian mulai melayangkan pertanyaan karena penasaran apa yang terjadi dengannya.
"Kamu kenapa sih Bray. Balik-balik dari ruangan kepala sekolah langsung seperti ini.." ujar mereka dengan penuh penasaran.
Bukannya menjawab pertanyaan teman-temannya Brian malah melamun. Mereka melihat sorot mata Brian sangat sendu seolah tak ada semangat yang menggebu seperti biasanya. Mereka semua saling memandang satu sama lain dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengannya.
"Aku rasa ini ada hubungannya dengan Julia. Bukankah Brian menemui kepala sekolah untuk menanyakan keberadaan Julia..??" Ujar Ariel kepada teman-temannya. Mendengar penuturan Ariel semua langsung menganggukkan kepala mereka setuju.
"Bisa jadi seperti itu. Ya sudah Bray, kamu istirahat saja dulu kami kembali ke kelas. Ingat jangan lakukan hal yang bodoh." Setelah mengatakan hal itu teman-teman Brian pun langsung beranjak keluar dari ruang UKS dan beralih masuk ke dalam kelas mereka.
Sementara Brian sama sekali tak mengubris apa yang dikatakan oleh teman-temannya, seolah kesadaran Brian sedang teralihkan. Bahkan tatapannya masih sama seperti baru keluar dari ruang kepala sekolah kosong melompong.
Akhirnya tak butuh waktu yang lama, waktu proses belajar mengajar hari ini pun berakhir. Dengan segera teman-teman Brian langsung berlari menuju UKS. Yang ternyata Bryan masih duduk melamun di atas ranjang kecil itu. Sebelum mereka masuk, keempat pemuda remaja itu langsung saling memandang satu sama lain. Seolah mereka sedang mendapatkan persetujuan dari yang lainnya. Akhirnya mereka pun sama-sama memasuki ruangan itu.
"Bray Ayo pulang. Biar kami antar." Ujar mereka dengan hati-hati.
Melihat tampilan Brian yang seperti orang bingung, membuat mereka berempat berbicara cukup pelan agar tak mengagetkan dirinya. Bahkan mereka Langsung berinisiatif untuk menggandeng lengan Brian dan menuntunnya jalan keluar dari sekolah mereka. Mereka pun langsung dan dengan segera mengajak Brian pulang ke rumahnya.
***
Besok harinya seperti biasa, Julia bangun pagi dan sudah mulai rutin melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Biasanya ia akan sedikit telat bahkan bermalas-malasan. Tapi karena mungkin ia merasa sendirian di dunia ini dan hanya ada Tuhan yang menyertainya, sehingga memberikan motivasi tersendiri untuknya.
Dan lagi-lagi memang seperti itulah sifat lumrah manusia. Setelah Julia selesai melaksanakan kewajibannya, ia mulai melanjutkan mengedit beberapa video yang ia sempat tinggalkan kemarin. Ia melakukan hal itu sambil menunggu jam keberangkatan sekolahnya. Setelah waktunya tiba, dengan segera Julia langsung mematikan komputernya dan bergegas berangkat sekolah beruntung ia telah bersiap-siap terlebih dahulu.
Ruang Sekolah
Setibanya Julia di ruang kelasnya, ternyata sudah ada beberapa teman-teman mereka yang sudah lebih dulu sampai di sekolah.
"Selamat pagi teman-teman..!!" Seru Julia menyapa teman-teman sekelasnya. aksi menyapa ini tentu saja tidak pernah ia lakukan semasa berada di sekolah internasional yang terkenal itu. Dengan serentak Mereka pun menjawab salam dari Julia.
"Selamat pagi juga Lia...!!" Jawab yang lain dengan serentak.
Julia pun tersenyum, sungguh ini adalah dunia baru untuknya. Kemudian dengan cepat ia langsung bergegas menuju tempat duduknya. Saat Julia baru saja menempelkan pantatnya di kursinya, berhubung waktu proses belajar mengajar sudah dimulai, tiba-tiba segerombolan ketua OSIS dan rekan-rekannya memasuki ruangan mereka.
Tentu saja hal yang biasa didapat ketua OSIS dan jajarannya itu adalah orang-orang yang dianggap paling keren di sekolah sehingga keberadaan mereka di ruang kelas Julia mengundang keributan dari para siswa perempuan akibat melihat kedatangan dan ketampanan para pengurus OSIS itu.
Julia yang melihat kelakuan teman-temannya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Baginya ini belum seberapa, namun yang menjadi heran segini saja standarnya mereka sudah dibuat kepicut dan klepek-klepek, bagaimana nanti jika mereka bertemu dengan saudara sepupunya dan juga Brian serta teman-temannya yang memang kegantengan mereka di luar nalar.