JULIA

JULIA
84. niat main ke Sumbar lagi



Sesampainya Tuan Sanjaya di kediamannya, Ia langsung berjalan dan menyelonong masuk begitu saja, tanpa menyapa istri dan anak-anaknya yang sedang duduk dan mengobrol di ruang tamu. Hatinya gundah gulana saat ini memikirkan Di mana keberadaan sang anak.


Tuan Sanjaya juga berkali-kali menyalakan dirinya. andai saja waktu itu, ia bisa menasehati dan mencegah sang istri untuk tidak mengatakan dan melakukan tindakan seperti itu kepada anak mereka, pasti Julia masih berada di sekeliling mereka. Nyonya Ratih yang melihat kepulangan suami tak seperti biasanya langsung menatap dengan heran.


"Ada apa dengan papa kalian.. tak seperti biasanya menyelonong masuk begitu saja. Sebentar ya, Mama mau melihat kondisi papa kalian dulu." Ujar nyonya Ratih kepada kedua anaknya si kembar Meta dan Mita.


Meta dan Mita pun tak mengubris apa yang diucapkan oleh sang ibu. Sementara nyonya ratih sendiri langsung bergegas masuk ke dalam kamar untuk menemui sang suami. Nyonya ratih melihat Tuan Sanjaya sedang duduk termenung di pinggiran spring bed, dari raut wajahnya, seperti ada yang mengganggu pikirannya.


Nyonya Ratih pun berjalan mendekat ke arah sang suami. Jika dikatakan bahwa dirinya merindukan anak tangannya itu, tentu saja iya. nyonya Ratih juga merasa menyesal karena mengeluarkan kata-kata pedas seperti itu sampai menyakiti hati anaknya. Jujur waktu itu dia ke lewat emosi sampai mengeluarkan kata-kata tersebut. namun nyonya Ratih terlampau gengsi untuk mengatakan hal itu.


"Suamiku.. ada apa ?? Kenapa papa pulang Tidak seperti biasanya..??" Tanya nyonya Ratih dengan pelan dan penuh perhatian.


Tuan Sanjaya yang mendengarkan suara istrinya, entah kenapa mendadak menjadi benci. apalagi ketika mengingat sang istri memarahi Putri tengahnya beberapa bulan yang lalu. agar emosi dalam hatinya tidak meledak, Tuan Sanjaya berusaha menahan diri dan menghela nafasnya.


"huft.... Aku tidak apa-apa. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku." Ujar Tuan Sanjaya dengan dingin dan kemudian beranjak dari sana.


Ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan dirinya agar pikiran-pikiran jelek menyingkir dari kotaknya. Dan setidaknya bisa sedikit menenangkan perasaannya yang tak karuan akibat memikirkan keberadaan putrinya saat ini. Nyonya Ratih lagi-lagi dibuat bingung dan sekaligus tidak percaya melihat tingkah suaminya itu.


"Papa kenapa sih ?? jangan-jangan ada yang disembunyikan. Sebaiknya tunggu papa tenang dulu baru tanyakan kembali, kalau tidak pasti papa akan mengamuk.."; monolog nyonya Ratih pada dirinya sendiri.


pikirannya sempat terganggu akibat melihat perubahan sikap suaminya itu. namun nyonya Ratih masih berusaha untuk berpositif thinking, karena yang suaminya tidak akan melakukan hal-hal di luar batas kemampuannya.


Karena tidak berhasil berunding dengan suami, akhirnya nyonya Ratih memilih untuk mengalah terlebih dahulu. Nyonya Ratih juga merasakan akhir-akhir ini suaminya seperti menjaga jarak dengannya, namun tetap perhatian.


***


Kini bulan-bulan telah berlalu, tahun-tahun baru pun silih berganti. Tak terasa 3 tahun sudah julia meninggalkan keluarganya dan keluarga pamannya, serta memilih untuk menetap tinggal di Sumatera barat. Julia juga sudah memiliki penghasilan sendiri dan berkuliah mengambil bisnis, kemudian Ia juga mengambil jurusan tata boga. dengan pengaturan waktu yang maksimal, sehingga tidak membuat kedua jurusan yang dia ambil kececeran.


di sana, di rumah makan yang dibangun oleh Julia, Tak hanya orang-orang tertentu yang bisa menikmati masakan dari restorannya, Namun semua kalangan dapat menikmatinya. Hari ini, Julia sedang melakukan magang di rumah makan sendiri. Untuk memenuhi mata kuliah jurusan tata boga yang ia ambil.


Untuk jam masuk magang, bisa ia sesuaikan dengan jadwal kuliahnya di jurusan bisnis. Jika dirinya ada kegiatan kuliah pagi, maka untuk magang, dia akan masuk setelah kuliah berakhir. Walaupun terlihat sangat kerepotan dan kelelahan, namun Julia tak berani mengeluh, ia harus menata hidupnya dengan baik, karena masa depan yang cerah telah ada di depan matanya. tinggal Bagaimana cara ia harus mendapatkan seutuhnya.


Hari ini, Julia sedang free kampus, namun berada di rumah makannya, tiba-tiba nada dering handphonenya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Julia mengambil handphonenya dan melihat Siapa yang tengah melakukan panggilan terhadap dirinya. Setelah melihat, seulas senyum terbit di bibirnya ternyata yang menghubunginya adalah sang paman. Dengan cepat Julia langsung mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum pamanku yang tampan..." Sapa Julia dalam panggilan teleponnya. Di dalam seberang sana terdengar kekehan kecil dari sang paman.


"Waalaikumsalam juga keponakan kecil paman yang cantik dan imut.. apa kabar di sana sayang..?? Akhir-akhir ini paman selalu sulit menghubungimu..?? Kamu tidak apa-apa kan..??" Tanya Tuan Antonio kepada keponakannya itu.


Julia tersenyum mendengar pertanyaan sang paman. seperti biasa, pamannya pasti tidak akan telat menanyakan kabar dirinya.


"Aku tidak apa-apa paman, aku sehat dan baik-baik saja. Hanya saja, memang beberapa bulan ini, Julia sedang sibuk kuliah. Jadi rasanya tidak sempat untuk menghubungi Paman ataupun bibi.. maaf ya paman. Tapi paman dan bibi serta abang-abang Julia di sana sehat kan..?? Kapan mau main ke Sumatera lagi.." ujar Julia memberondong pamannya dengan berbagai macam pertanyaan.


"Alhamdulillah. paman dan bibi serta saudara-saudaramu di sini baik-baik saja.. paman dan bibi juga berencana akan datang dalam Minggu ini ke sana, untuk bertemu denganmu. Bibi mu berkali-kali merengek pada Paman seperti anak kecil. Makanya Paman menelpon hari ini, kemungkinan besar besok paman dan kakak-kakakmu akan meluncur." Ucap Tuan Antonio lagi.


Tuan Antonio di sana tidak menceritakan bahwa Tuan Sanjaya sang papa sedang ketar ketir mencari dirinya. Ia tak ingin Julia merasa sedih karena kepergiannya membuat sang papa kesulitan untuk menemukan dirinya. Kenapa Tuan Antonio bisa sampai memikirkan ke sana..?? Karena ia tahu, bahwa keponakan kecilnya ini begitu sangat perasa. Karena memiliki hati yang lembut dan juga baik hati.


"Oh.. baguslah kalau begitu Paman. nanti Julia jemput ya.. yang penting, saat sudah mau masuk ke dalam pesawat, hubungi Julia segera. Jangan nyelonong pergi begitu saja ke alamat 3 tahun yang lalu nanti paman dan bibi nyasar.." ujar Julia memberikan sedikit nasihat kepada pamannya.


Takutnya nanti paman dan keluarganya malah nyelonong pergi begitu saja ke alamat yang ia tempati dulu, tanpa memberikan informasi apapun kepadanya. nanti yang ada paman dan kakak-kakaknya malah malu sendiri hehehe.


"Loh..?? memangnya kenapa sayang..?? Kamu sudah tidak tinggal di kontrakan itu lagi..?? Terus kamu tinggal di mana sekarang..??" Tanya Tuan Antonio dengan cepat.