JULIA

JULIA
82. pulang kembali ke kota Padang



Sementara para laki-laki sedang pergi untuk mengambil air.


"Nggak ada lagi wit. Gimana Julia.. ?? Apa obat kakinya sudah dioleskan..??" Tanya Anin kepada Juwita. Juwita mengganggu kan kepalanya.


"Udah. sekarang dia lagi istirahat.." jawab Juwita lagi.


Akhirnya, dengan gotong royong dan kerjasama yang baik, masakan mereka untuk makan malam akhirnya selesai. Setelah selesai, mereka semua bergantian untuk membersihkan diri. Dan hari ini juga, merupakan hari terakhir bagi anak-anak SMA 10 berada di tempat ini.


Karena besok adalah hari keberangkatan mereka kembali ke tempat masing-masing. Setelah makan malam berakhir, mereka mengadakan acara perkumpulan lagi untuk mengakhiri kegiatan sekolah ini secara resmi. Bahkan untuk mengakhiri acara tersebut kegiatan ini dihadiri oleh para wali nagari beserta staf-stafnya.


***


ke esok harinya


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu bagi para siswa dan siswi tiba juga. Yaitu hari di mana mereka semua akan kembali ke kota Padang dan kembali ke tempat masing-masing. Kini mereka semua telah berada di atas bus-bus yang sudah datang untuk menjemput mereka.


"Akhirnya, kegiatan perkemahan Kamis Jumat Sabtu Minggu ini selesai juga. Aku sudah sangat merindukan kasur spring bed ku..." Ujar Larasati saat mendudukkan tubuhnya di kursi bus itu. yang lain juga duduk sesuai dengan formasi sebelum mereka tiba di tempat ini.


"Itu sih sudah pasti. Tapi kenapa Nindy wajahnya malah ditekuk seperti itu ya, kayak nggak merasa bahagia mau kembali..??" Tanya Anin dengan polosnya. Julia dan teman-temannya langsung mengarahkan pandangan ke arah Nindy yang memang beraut wajah tak bersemangat seperti itu.


"Hahaha.. nggak rela kali si Nindi ninggalin lembah Harau ini.. karena kan ada momen yang tidak bisa dilupakan hahaha..." Ujar Juwita membuat Nindy cemberut dan memanyunkan bibirnya. Sekaligus merasa malu mendengar penuturan Juwita yang memang benar adanya. Mereka semua terkekeh mendengar penuturan Juwita.


"Hehehe.. benar seperti itu nin..?? Tenang aja kan Di sekolah masih bisa bertemu.. nanti bikin momen lagi di taplau, atau di gunung Padang kan sama-sama bagus dan indah.. hehehe.." timpal Julia sambil melayangkan senyum komedi ke arahnya. Nindy menepuk pundak Julia karena merasa malu mendengar godaan teman-temannya.


"Ih !! kalian apaan sih.. orang aku cuma berekspresi kayak gitu aja kok.. kalian itu mikirnya terlalu berlebihan.. ck.." ujar Nindy berusaha menyembunyikan ekspresi wajahnya dan perasaannya. Ya, dia memang saat ini merasa tidak rela meninggalkan tempat tersebut. Apalagi tempat ini sangat bersejarah untuknya.


"Ya udahlah nin, Bener apa yang dikatakan oleh Julia.. lagian dia waktu libur kalian bisa kok datang ke sini pacaran bersama yayang hahaha.. tapi gini aja deh, daripada nanti kamu sedih, nanti kita jadwalkan datang untuk nanjak lagi ke puncak Pela, biar bisa mengenang momen di sana.. hehehe.." jawab Juwita lagi.


Sementara Larasati, Ia tak mau bersuara lagi karena dirinya yang pemabuk di dalam bus. Julia yang tak mendengar suara Larasati langsung melihat dan memutar tubuhnya melihat Larasati yang duduk di belakangnya.


"Ras, kamu nggak papa kan..?? Udah minum Antimo..?? Ini aku masih ada permen yang kemarin sama salonpas. biar nggak terlalu pusing.." ujar Julia lagi langsung menyerahkan itu kepada Larasati. Larasati yang memang sangat membutuhkannya tak menolak dan langsung mengambilnya.


"Makasih Li. Aku benar-benar sangat membutuhkannya. entah sampai kapan aku selalu seperti ini. Kalau begini terus bisa-bisa aku nggak akan bisa kaya karena nggak bisa naik mobil.." Garutu Larasati. Mereka yang mendengar ucapan dari Larasati langsung terkekeh.


"Ya nggak papa lah ras. Bilang aja sama Satria, nggak usah beli mobil, mending beli motor aja banyak-banyak. Kan kalau mengendarai motor lebih romantis ketimbang mengendarai mobil. Biar bisa pelukan gitu hahaha.." timpal Nindy menjawab ucapan Larasati. Sementara yang lain hanya terkekeh mendengar itu. Seperti biasa mereka akan se bus dengan Para pengurus OSIS.


Nindy pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya seolah sudah tak merasa tertarik lagi dengan ketua OSIS itu. Putra pun tersenyum dan matanya beralih ke arah Julia Yang sepertinya sedang fokus mengotak-atik handphonenya.


"Lia, Bagaimana dengan kondisi kakimu..?? Apakah masih sakit..??" Tanya Putra kepada Julia.


Nindy yang memang berada di tengah-tengah mereka hanya bisa menjadi pendengar saja. Julia yang disapa oleh sang ketua OSIS langsung menegakkan kepalanya dan melihat ke arah Putra.


"Oh.. syukur alhamdulillah Kak, ini sudah tidak sakit lagi.." ujar Julia sambil memutar pergelangan kakinya ke kanan dan ke kiri. Putra yang melihat itu pun juga ikut senang.


"Syukurlah kalau begitu." Akhirnya bus yang mereka tumpangi diberangkatkan menuju Padang.


Putra yang duduk tidak jauh dari Julia selalu mencari topik pembicaraan hangat, agar acara ngobrol dengan Julia tidak terhenti. Julia yang memang tidak menyambut baik hal itu hanya menjawab seadanya tanpa berusaha mempertahankan obrolan tersebut.


Namun ia tak berlaku dingin, dia tetap mendengarkan apa yang dikatakan oleh sang ketua OSIS itu, walaupun responnya dan jawabannya sangat singkat. Julia berusaha untuk tidak terlalu dingin terhadap orang lain, karena ia pernah merasakan bagaimana orang-orang yang ingin dia dekati sikap seperti itu kepadanya.


Karena Putra merasa Julia sepertinya tidak terlalu merespon, akhirnya Ia memutuskan untuk berhenti memulai dan mencari topik pembicaraan. Mereka berdua kembali menyandarkan kepala kesandaran kursi dan memejamkan mata.


***


Di tempat lain,


selama beberapa bulan ini, Tuan Sanjaya selalu dibuat uring-uringan dan tidak fokus. Semenjak kedua putranya sembuh total dan beraktivitas seperti semula, Tuan Sanjaya berusaha menghubungi sang kakak untuk menanyakan kabar putrinya. Namun seperti biasa, Tuan Antonio selalu mengatakan bahwa Julia baik-baik saja. Dan ketika tuan Sanjaya meminta untuk bertemu dengan sang anak, Tuan Antonio pasti akan mencari alasan lain agar Tuan Sanjaya tak bertemu dengannya.


"Aku tidak bisa tenang.. sudah hampir 5 bulan aku tidak bertemu dan mendapat kabar baik dari putriku. Apalagi mas Antonio selalu memberikan alasan untukku tidak bertemu dengan Julia. Sebaiknya setelah ini aku langsung ke rumah mas Antonio saja." Ujar Tuan Sanjaya pada dirinya sendiri.


"Ya seperti itu saja, kalau nanti memberikan kabar dan menghubungi mas Antonio, takutnya mas Antonio memberikan alasan lain lagi." Ujar Tuan Sanjaya lagi.


Akhirnya Tuan Sanjaya kembali fokus bekerja dan menyelesaikan urusan kantornya hari ini. Setelah itu, sesuai dengan yang ia rencanakan, Tuan Antonio langsung tancap gas pergi menuju kediaman sang kakak. Sesampainya Tuan Sanjaya di sana, dirinya langsung disambut baik oleh para satpam yang berjaga di pintu gerbang.


"Maaf Pak Toto. Apakah mas Antonio ada di dalam..??" Tanya Tuan Sanjaya kepada salah satu satpam yang ada di sana.


"Iya tuan, Tuan Antonio baru saja kembali." Jawab satpam itu.


Tuan Sanjaya pun menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Toto. Setelah itu, ia langsung bergegas meninggalkan Pak Toto dan masuk ke dalam kediaman sang kakak.