JULIA

JULIA
93. akhirnya bertemu papa



Julia pun tersenyum mendengar kakaknya yang bertanya, namun dijawab sendiri. Kemudian Julia langsung memeluk kembali tubuh kakak keduanya itu. Sementara nyonya Salsa menyaksikan temu Rama sepasang adik kakak itu juga ikut terharu. Ia juga salut kepada Julia, Setelah sekian lama menutup diri, akhirnya ia bisa menerima semua kejadian di masa lalu.


Julia dengan besar hati mampu memaafkan keluarganya yang telah menggoreskan begitu banyak luka untuknya. Sementara Tuan Antonio dan yang lainnya masih berada di dalam kamar dan sepertinya sedang membersihkan diri. setelah aksi peluk memeluk itu selesai, Julia kini beralih kepada nyonya Salsa yang juga ikut duduk bersama dengan mereka di ruang tamu.


"Oh iya bi, apa bibi masak ..?? Soalnya Julia sudah memesan makanan di rumah makan. Jadi untuk hari ini tidak perlu masak dulu ya bi. Besok baru kita akan pergi ke pasar untuk belanja..."ujar Julia kepada nyonya Salsa. Nyonya Salsa yang memang sudah diberitahu oleh Julia sebelumnya, tentu saja tidak repot-repot untuk memasarkan makan malam untuk mereka.


"Iya nak. Bibi tidak masak kok.." ujar nyonya Salsa lagi dengan senyum mengembang.


Tiba-tiba, dari arah tangga terdengar suara langkah kaki yang sepertinya sedang menuruni anak tangga. Ternyata itu adalah saudara-saudara sepupu Julia.


"halo dek, sudah pulang. kapan pulang nya..??" tanya Abi kepada Julia. Julia pun tersenyum.


"Iya Kak baru saja." ujar julia kepada Abi.


"terus langsung reunian gitu ya.." ujar Melvin dengan senyum mengembang. ia mengelus atau sayang kepala adiknya itu.


kemudian, Mereka semua berjalan dan bergabung duduk bersama dengan yang lainnya. Dan tak lama setelah itu, beberapa langkah kaki juga ikut menyusul.


Julia yang mendengar langkah kaki tersebut langsung mengarahkan pandangannya ke sana dan alangkah terkejutnya dirinya. Ia melihat Raka sedang menuntun Tuan Sanjaya berjalan menuju sofa, sementara Tuan Sanjaya yang dahulunya berbadan kekar kini terlihat loyo dan dengan masih setia dengan tatapan kosongnya. Julia yang melihat kondisi ayahnya seperti itu langsung menjatuhkan air matanya. Ia pun langsung berjalan mendekat ke arah Kakak dan Tuan Sanjaya yang masih belum memperhatikan keberadaannya.


"Kakak, papa..!!" Ujar Julia sedikit meninggikan suaranya.


Jujur saja, Julia sangat prihatin dan bersedih melihat kondisi Tuan Sanjaya seperti itu. Ia tak dapat memaafkan dirinya sendiri karena melihat kondisi papanya seperti itu. Raka dan Tuan Sanjaya yang mendengar suara orang yang sangat dirindukan, langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah Julia. Seketika air mata mereka langsung lurus dan membanjiri pipi mereka. Begitu juga dengan Tuan Sanjaya. Ia yang sudah 3 tahun mencari keberadaan putrinya bahkan mati-matian mencari keberadaannya Langsung menangis tersedu-sedu seperti anak kecil.


"Julia putriku... Julia putriku.." ujar Tuan Sanjaya sambil merentangkan kedua tangannya dan berjalan terseok-seok untuk menuju ke arah sang putri. Julia yang melihat kondisi ayahnya sangat memprihatinkan langsung berlari dan memeluk tubuh lesu Tuan Sanjaya itu.


"Papa hiks hiks.. papa kenapa jadi seperti ini..!!" Ujar Julia sambil memeluk erat tubuh Tuan Sanjaya. Tuan Sanjaya juga ikut memeluk tubuh putrinya sambil masih terbengong-bengong, namun air matanya sudah membanjiri pipinya.


Mereka berdua lurus ke lantai akibat kaki Julia tak kuat menopang tubuh sang ayah. Namun posisi mereka masih tetap memeluk satu sama lain. Tuan Sanjaya juga memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat, seolah tidak mau melepaskan karena takut putrinya akan pergi meninggalkannya lagi.


"Julia putriku.... Julia putriku..." gumam Tuan Sanjaya yang semakin membuat isak tangis Julia semakin menjadi. Ia benar-benar merasa bersalah dengan semua ini. namun jalan yang ia ambil juga tidak salah.


Raka yang menyaksikan hal itu juga tak mau ketinggalan, Melihat adik yang sangat ia rindukan sudah berada tepat di depan matanya langsung membuatnya menubruk pelukan itu. Mereka berpelukan bertiga. Sambil isakan tangis terdengar di mulut mereka.


" dek, syukurlah kamu baik-baik saja... hiks. maafkan kami ya dek.. hiks.. maafkan kami." ujar kakak sambil memeluk tubuh papa dan adiknya itu.


"Iya Kak, Julia juga minta maaf karena pergi tanpa kabar." jawab Julia masih dalam posisi berpelukan.


"Julia putriku... Apakah benar ini kamu nak... Julia putriku.." ujar Tuan Sanjaya dengan ekspresi yang benar-benar bisa dikatakan orang yang tidak waras. Julia menangis lagi mendengar suara ayahnya yang seperti orang sedang mengigau.


"Papa kenapa jadi seperti ini pah.. bukannya papa dan mama seharusnya bahagia melihat Julia pergi meninggalkan kalian.. tetapi kenapa malah menjadi seperti ini.. Kenapa papa jadi seperti ini pah... Hiks.. hiks.." ujar Julia lagi. Tuan Sanjaya benar-benar memeluk erat tubuh putrinya itu.


"Papa merindukanmu nak.... Papa sangat merindukanmu.. semarah itu kamu terhadap papa, sampai tidak menghubungi papa selama ini. Maafkan papa nak.. maafkan kesalahan papa.. Jangan tinggalkan papa lagi.." ujar Tuan Sanjaya dengan suara yang begitu pelan dan penuh dengan kesedihan.


Sekrtika suasana di rumah Julia itu benar-benar Hening dan sangat mencekam. Semua orang yang ada di rumah itu berwajah murung dan sedih. Namun di sisi lain, mereka juga bahagia karena akhirnya Tuan Sanjaya menyesali perbuatannya, dan sekaligus bertemu dengan putrinya itu.


Sementara Julia tak menaruh dendam sedikitpun untuk kedua orang tuanya. Tapi barangkali, dia memang marah kepada mereka. tapi karena mungkin Julia adalah orang yang memiliki hati yang besar dan tulus, Ia dengan mudah memaafkan Tuan Sanjaya dan kedua kakaknya. Tapi satu hal yang mungkin Julia tidak akan bisa lakukan, yaitu kembali ke kota kelahirannya.


"Maafkan Julia juga pa. Maafkan Julia telah menjadi anak durhaka.." ujar Julia lagi. Ketika sudah merasa agak sedikit tenang, Julia melerai pelukannya kepada tuan Sanjaya.


Begitu juga dengan Tuan Sanjaya, Ia melerai pelukannya dan langsung menatap mata kedua putrinya itu. Kini Julia beralih menatap Kakak pertamanya. Ia pun langsung menanyakan kabar kakaknya itu.


"Kak Raka.. Kak Raka sudah sembuh.. maafkan Julia ya Kak. Di saat Kak Raka dan Kak Ridho sakit, Julia tak ada di samping kalian. Bukan tidak ingin tapi Julia.-" ucapan Julia terpotong oleh Raka.


"Sssttt.. tidak usah diteruskan lagi dek, Kakak sudah tahu cerita yang sebenarnya. Papa sudah menceritakan semuanya. Maafkan kami ya dek, kalau seandainya 3 tahun yang lalu kami tidak kecelakaan Mama pasti tidak akan menyalahkan mu." Ujar Raka meminta maaf kepada adik perempuannya itu.


Julia pun menggelengkan kepalanya. Tentu saja di sini tidak ada yang salah, yang salah hanyalah ego masing-masing. semua yang ada di sana memilih diam dan menyaksikan temu Rama keluarga yang terpisah itu. Ridho sendiri sudah menjatuhkan air matanya melihat senyum di wajah Tuan Sanjaya.


"Kakak tidak salah, Mama papa juga tidak salah. Walaupun Julia marah, tapi Julia tidak dendam.. Julia juga bersyukur karena Kak Ridho dan Kak Raka baik-baik saja tanpa kekurangan suatu apapun. Lalu kenapa Kakak membawa papa ke sini, sementara kondisi papa tidak baik-baik saja.??" Tanya Julia lagi yang sekarang telah beralih melihat Tuan Sanjaya. Raka menggelengkan kepalanya.