
"Selamat pagi adik-adik semuanya. Berhubung Ibu gurunya Belum memasuki ruangan, Kami ingin menyampaikan beberapa informasi untuk kita semua. Bahwa sekolah kita nanti akan mengadakan perkemahan Kamis, Jumat Sabtu dan Minggu di lembah Harau kabupaten Lima puluh kota. Seperti yang sudah disampaikan sebelum-sebelumnya, jadi nanti selesai pulang sekolah, diharapkan untuk adik-adik semuanya berkumpul di lapangan sesuai dengan kelompok atau sangga masing-masing yang sudah kita bagi sebelumnya. Dan bagi yang belum mendapatkan kelompok atau sangga, silakan nanti bergabung dengan teman-temannya yang sudah memiliki kelompok. Hanya itu informasi hari ini nanti informasi lanjutan akan disampaikan setelah pulang sekolah. Terima kasih atas perhatian dari tadi sampai jumpa di lapangan." Setelah ketua OSIS menyampaikan hal itu, Mereka pun langsung meninggalkan ruang kelas di mana Julia berada.
"Wah kakak osisnya ganteng banget..!!! Pengen deh jadi pacar dia..!!" Teriak salah satu siswi yang memang telah menjadi penggemar ketua OSIS yang dikenal dengan nama putra itu.
"Iya, kak putra ganteng banget ya, apalagi Kak Leo, paling membuat jantung tidak bisa dikondisikan." Ujar yang lain. Sementara Julia dan teman-teman sebangku yang dekat dengannya malah bersikap biasa saja.
Menurut mereka, lebih gantengan teman-teman cowok mereka.
"Bagaimana menurutmu Lia..?? Apakah Kak Putra ketua OSIS itu ganteng..???" Tanya Nindy kepada Julia Yang sepertinya diam saja dari tadi. Julia pun langsung menegakkan kepalanya yang awalnya sedang fokus mempersiapkan dan mengeluarkan buku-buku yang diperlukan hari ini.
"Iya, menurut aku biasa-biasa aja sih... Mungkin karena belum kenal kali ya.." ujar Julia menjawab pertanyaan Nindy. Julia itu bukannya tidak tertarik, tapi Ia masih berusaha menjaga hatinya agar tidak kembali melakukan hal-hal yang konyol seperti yang pernah ia lakukan dulu.
"Betul itu. Aku pun melihat Kak Putra itu biasa-biasa saja..." Jawab Nindy lagi. Sementara Larasati menyambar penuturan Nindy.
"Iya menurutmu Kak Putra itu tidak ganteng di mata kamu.. tapi tidak sama kan di mata orang lain.. apalagi kita sudah sama-sama tahu para siswa perempuan yang ada di sekolah ini benar-benar dibuat tergila-gila oleh Kak Putra dan teman-temannya. Apalagi kan dia glowing.. hahaha..." Ujar Larasati. Julia yang mendengar penuturan Larasati langsung tersenyum simpul sementara Nindy hanya memutar bola matanya dengan malas.
"Suka hati kamu lah Laras.." ujar Nindy lagi.
Tak lama guru mata pelajaran pun memasuki ruangan mereka. Kali ini mereka belajar matematika yang berlangsung begitu menegangkan. Karena ternyata guru matematikanya sangat killer menurut anak-anak itu.
Sementara Julia yang memang Minggu kemarin belum sempat bertemu dengan guru matematika ini juga dibuat terkejut. Waktu yang biasanya sebentar bagi para siswa dan siswi untuk belajar, namun untuk guru matematika ini terasa sangat lama. Namun walaupun begitu lama akhirnya selesai juga. Setelah guru killer itu keluar, semua siswa dan siswi yang ada di ruangan itu langsung menarik nafas mereka merasa lega Begitu juga dengan Julia.
"Hah !! akhirnya ibu guru killer itu meninggalkan kelas kita juga..!!! Aku benar-benar tertekan belajar sama ibu itu. Bukannya mengerti malah tambah bodoh." Gumam Nindy di samping Julia. Julia langsung menghadap ke arah Nindy.
"Memangnya Bu aventa seperti itu ya...?? Aku nggak tahu karena minggu kemarin belum bertemu dengan ibu ini." Ujar Julia kepada Nindya. Langsung melihat ke arah Julia kemudian memperbaiki posisi duduknya.
Saat anak-anak itu sedang menata perasaan mereka kembali, guru mata pelajaran kedua pun segera memasuki ruangan. Tapi kali ini Mereka semua belajar dengan tenang dan nyaman. Karena gurunya memang humble dan bisa menguasai suasana dan juga menciptakan proses belajar mengajar yang diminati para siswa sehingga mereka tak merasa bosan dan tertekan belajar dengannya. Namun tak lama proses belajar ini mengajar itu pun segera berakhir. Dengan cepat mereka semua langsung pergi menuju kantin.
Di kantin sekolah
Kini Julia, Larasati dan Nindy telah duduk di sebuah bangku yang kosong, dan mereka juga telah memesan makanan untuk mereka. Saat mereka sedang fokus menyantap hidangan yang telah mereka pesan, teman-teman cowok mereka datang menyusul ke sana sehingga meja yang mereka duduki terlihat ramai.
"Wih !! kalian diam-diam bae... Nggak ngajak-ngajak.." ujar Bayu sambil mengambil posisi di samping Nindy. Begitu juga dengan Yudi, Satria dan Angga. Untuk sekarang inilah teman-teman yang dimiliki oleh Julia di sekolah barunya.
"Lagian ya, kalau kita nunggu kalian pada, bisa-bisa kita itu kelaparan dan waktu istirahat pun tinggal sedikit. Lagian kalian kan sudah menyusul ngapain juga Masih pada ngomel." Jawab Larasati yang memang saat ini tengah memiliki hubungan dengan Satria.
"Iya bebebku sayang.. udah nggak usah ngomel lagi, habiskan aja baksonya.." ujar Satria sambil membelai lembut rambut Larasati membuat teman-teman mereka yang lain menjadi memasang wajah ennek melihat keduanya.
"Kalian ya, mesra-mesraan nggak tahu tempat. Kalian nggak lihat kalau kita yang ada di sini itu adalah para jomblo.."ujar Bayu dengan sarkas kepada Satria namun tetap saja itu hanyalah sebuah candaan. Satria pun memutar bola matanya dengan malas.
"Nggak usah cemburu... Lagian, ada Nindy, kenapa ngak diajak jadian.." ujar Satria yang langsung membuat nindi tersedak. Dengan segera nindi melotot ke arah Satria.
"Maksud lo apa ngomong kayak gitu..!! Berani lo sama gue.." ujar Nindy dengan mata melotot. Mereka semua pun terkekeh. Julia yang berada disana sangat senang. Tapi, tiba-tiba ada yang datang berjalan menuju meja mereka.
"Permisi... Kita boleh gabung ngak..??" Ujar orang itu yang tak lain adalah pengurus OSIS dan temannya Leo. Mereka yang ada disana langsung mengarahkan pandangan mereka ke arah ketos ganteng itu. Nindy yang memang sedikit ngefans sama sang ketua OSIS di buat salah Tingkah sendiri.
"Eh.. boleh kak. Silahkan.." ujar Nindy dengan malu-malu. Ia juga menyelipkan rambutnya di belakang telinga nya. Satria, Bayu dan Yudi menatap tingkah Nindy dengan ekspresi mengejek. Putra dan Leo pun segera mengambil tempat duduk. Di samping Nindy dan juga Julia.
"Terima kasih..." Keduanya pun meletakkan nampan yang berisi semangkuk bakso dan segelas minuman. Dengan segera mereka melahap makanan itu.