
Mendengarkan penuturan Ridho, Nyonya Ratih dan Mita seketika terdiam. apalagi Nyonya Ratih juga mengingat Bagaimana cara ia mendidik kedua putrinya itu. Mita sendiri mengingat Bagaimana kakek mereka dapat mengabulkan semua permintaan yang mereka inginkan tanpa memandang Apakah itu bermanfaat atau tidak.
"Iya Kak, untung mita masih berpikir logis. kalau tidak, mungkin Mita juga akan sama seperti Kak meta." Ujar Mita lagi membenarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
"Ya sudah. Lanjutkan saja makannya, nanti meta biar kakak yang urus. Mulai sekarang dia harus dibuat jerah dengan kelakuannya seperti ini. Dan raka harap mama tidak perlu ikut campur lagi."ujar Raka.
Mereka semua pun setuju dan langsung melanjutkan makan malam mereka dengan Hening. tak ada lagi makan malam yang hangat, di mana keluarga itu akan saling bercanda satu sama lain. Yang ada sekarang, setiap hari, suasana suram tercipta di meja makan. Kadang juga mereka akan jarang makan bersama seperti ini.
****
Satu bulan kemudian
Saat ini, tuan Sanjaya sudah sebulan tinggal bersama dengan anak tengahnya. Dan Kini kondisinya sudah pulih total. Bahkan, tuan Sanjaya tidak segan-segan mengajarkan anaknya tentang bisnis. Walaupun Julia telah mengambil jurusan bisnis, Tapi tetap saja belajar dengan orang yang berpengalaman itu lebih baik. Saat ini, Tuan Sanjaya dengan Julia sedang mengobrol di ruang tamu, sambil Julia mengerjakan beberapa tugas kuliahnya dan ditemani oleh papa tercintanya itu.
" Nak.. papa mau ngomong nak." Ujar Tuan Sanjaya kepada putrinya. Julia yang masih fokus mengerjakan pekerjaan kuliahnya langsung mengarahkan pandangannya ke arah Tuan Sanjaya.
"Iya pah, papa mau ngomong apa. Ngomong aja nggak papa kok.." ujar Julia kepada ayahnya. setelah mengatakan hal itu, Julia kembali fokus pada laptop nya.
sementara, Tuan Sanjaya sendiri agak sedikit ragu mengutarakan keinginannya itu kepada sang anak. Namun ia tidak bisa berlama-lama meninggalkan istri dan pekerjaannya lagi.
"Nak, papa berencana untuk pulang kembali ke Jakarta.. Apakah tidak apa-apa papa meninggalkanmu sendirian di sini..??" Tanya Tuan Sanjaya kepada Julia.
Julia yang memang sedari awal telah berbesar hati, dan Bagaimana kedepannya nanti, ia hanya mampu tersenyum dan tidak kecewa sama sekali.
"Boleh pah. Lagi pula sekarang kan papa sudah sehat. Kasihan juga mama dan adik-adik, mereka pasti merindukan papa. apalagi papa nggak pernah memberikan kabar kepada Mama." Ujar Julia lagi sambil tangannya fokus mengetik sesuatu di laptopnya.
Tuan Sanjaya yang mendengar penuturan putrinya langsung menghala nafas. Sebenarnya ia tidak rela meninggalkan putrinya sendirian di kota orang tanpa satupun sanak saudara di sampingnya. Tapi, Tuan Sanjaya juga tidak bisa egois dengan memaksa putrinya untuk ikut bersamanya kembali ke Jakarta.
"Kamu yakin, tidak apa-apa kalau papa tinggal nak. Papa khawatir.." ujar Tuan Sanjaya lagi.
"Papa tenang saja.. Julia Tidak apa-apa kok. Julia sudah besar dan sudah tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Julia juga sudah bisa mengurus diri sendiri pah. Jadi papa tidak perlu khawatir lagi.." ujar Julia lagi kepada tuan Sanjaya. Tuan Sanjaya yang mendengar penuturan putrinya itu pun langsung memeluk tubuh putrinya itu.
"Papa tahu sayang. Papa tahu, kamu anak yang kuat dan hebat. Buktinya kamu bisa hidup sendiri dengan kerja keras kamu sendiri. Papa tidak menyesal ketika kamu meninggalkan rumah dan akhirnya menjadi sukses. hanya saja, yang papa sesali yaitu hilangnya waktu papa untuk menciptakan momen-momen manis untukmu sayang dan untuk keluarga kita. Papa menyesal, papa pernah mengabaikanmu dan kamu tumbuh tanpa kasih sayang dari papa dan Mama." Ujar Tuan Sanjaya dengan suara yang pelan dan lirih.
Tuan Sanjaya mengenang waktu-waktu di mana, saat itu Julia masih sangat membutuhkan dukungan dan rangkulan dari kedua orang tuanya. tetapi kedua orang tuanya malah berpaling dan membiarkannya begitu saja.
Namun di sisi lain, Tuan Sanjaya juga bersyukur karena nyatanya, Putri yang ia abaikan sedari kecil itu, kini tumbuh menjadi gadis yang cantik, baik dan mandiri juga pengertian. Ia tak banyak menuntut apapun, selain kesehatan dan keharmonisan keluarga Tuan Sanjaya.
Namun hal itu pula yang membuat Tuan Sanjaya menjadi sedih. Semasa kecil Julia, ia tidak pernah dimanja oleh mereka, tetapi jika sekarang ingin memanjakan Julia, tentu saja sudah tidak ada, waktu karena Julia sendiri sudah sangat mandiri dalam segi apapun.
"Andai saja waktu bisa diulang kembali nak. Papa janji, papa akan menghabiskan waktu bersama dengan dirimu dan memperhatikan serta memberikan kasih sayang untukmu sayang. Tapi papa juga bersyukur, kamu tumbuh menjadi gadis yang baik, lapang dada dan juga pengertian. Tidak seperti kedua saudara kembar mu itu nak. Papa benar-benar sangat menyesal telah memanjakan mereka berdua. Apalagi adikmu Meta, sekarang dia sudah tidak terkontrol lagi, setelah papa memilih menjauh dari rumah untuk sementara." Ujar Tuan Sanjaya yang masih setia memeluk tubuh putrinya itu.
Tapi kemudian, Tuan Sanjaya langsung melerai pelukan mereka. Julia yang mendengar cerita Tuan Sanjaya pun ikut bersedih. tapi ia juga ikut bersyukur dengan semua yang terjadi, hanya satu yang ada dalam pikiran Julia, yaitu mengambil hikmah dari semua peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya yang akan ia jadikan sebagai pelajaran hidup.
"Papa jangan sedih... Yang penting sekarang papa pulang dan kembalikan kembali keluarga kita seperti semula walau tanpa Julia." Ujar Julia lagi kepada tuan Sanjaya. Tuan Sanjaya kembali menjadi sedih ketika mengingat sampai saat ini putrinya belum mau kembali ke kota kelahirannya.
"Papa tahu nak, dan papa akan melakukannya serta mengembalikan keluarga kita seperti semula." Ujar Tuan Sanjaya sambil mengecup sayang kening putrinya itu.
"Jadi.. papa akan berangkat besok atau bagaimana..?? Biar nanti Julia langsung pesankan tiket untuk papa." Julia lagi kepada tuan Sanjaya.
Tuan Sanjaya pun langsung menganggukkan kepalanya. Jujur saja Tuan Sanjaya merasakan perasaan tidak enak saat memikirkan kondisi keluarganya di sana. Ia takut terjadi apa-apa dengan istri dan anak-anaknya. Begitu juga dengan Julia, walaupun Julia sedih melepas kepergian papanya kembali, namun ia tidak menunjukkan raut wajah sedih dan malah berekspresi biasa saja.
"Ya nak. Papa akan berangkat besok.. rasanya, perasaan papa tidak tenang.." ujar Tuan Sanjaya lagi.
Julia pun langsung menganggukkan kepalanya kemudian langsung beralih mengambil gawainya dan langsung memesan tiket secara online. Tak butuh waktu lama pemesanan yang dilakukan Julia pun selesai.
"Sudah pa. Julia sudah pesan tiket papa, nanti papa akan berangkat jam 10.00 pagi. Dan Julia nanti akan antar papa ke bandara. lagipula besok Julia tidak ada kegiatan kuliah, palingan Julia akan ke rumah makan saja." Ujar Julia lagi kepada tuan Sanjaya.