
Pejal sendiri menepuk pelan pundak Brayan untuk menenangkan anak itu.
"Aku tidak butuh balasan apapun bri. Apa yang aku lakukan ini tulus dari hati dan jika memang ingin ada balasan. biarlah Tuhan yang maha kuasa yang membalas semuanya yang penting kamu sehat dan baik-baik saja dan juga segera berkumpul dengan keluargamu. Mereka pasti sudah sangat mengkhawatirkan dirimu dan juga pasti merasa sedih kehilanganmu. apalagi mereka juga belum mengetahui kabar keberadaanmu saat ini.. sudahlah jangan haru-haruan seperti itu, nanti mas juga ikut mewek hehehe.. Ya udah, mas keluar sebentar ya. mas tidak akan lama kok."ujar pejal lagi kepada Bryan sambil menyerahkan satu buah handphone tombol dan kecil itu kepada Brian.
"Iya mas. terima kasih banyak..." Setelah itu pejal pun langsung keluar meninggalkan Brian sendirian. untuk sementara, ia harus mengerjakan pekerjaannya agar ia bisa menghasilkan uang untuk membeli beras mereka. Selepas kepergian pejal, Brian mulai mengotak-atik dan mengetik beberapa angka dan segera menghubunginya. Beruntung panggilannya langsung disambut.
Tut
"Halo..." mendengar suara itu, Bryan memejamkan matanya sejenak ketika mendengar suara lembut dari seberang sana. Jantungnya berdetak tak karuan. rasa rindu langsung menyeruak begitu saja hingga membuat dirinya tak kuasa menahan air matanya.
"Halo.. mohon maaf ini siapa..??" Ujar Julia lagi yang langsung menyadarkan Brayan.
"Halo Lia"
Deg
Julia yang ada di seberang telepon langsung terkejut ketika mendengar suara yang menghubunginya. Suara itu tidak asing dan suara itu juga adalah suara yang selalu dirindukan olehnya. Julia diam dan menunggu Apa yang akan terjadi selanjutnya ia tidak ingin bermimpi dan berandai-andai yang nyatanya hanya akan membuat kita semakin rindu terhadap sosok itu.
"Halo Lia ini kakak. Ini aku Bryan.. " ujar Brian menahan Isak tangisnya.
Hal itu menyebabkan suaranya bergetar jumlah yang tidak percaya pun kembali terkejut namun kali ini ia langsung bereaksi.
"Be-benarkah... Benarkah ini kakak... Kamu nggak nge-prank saya kan.." ujar Julia dengan suara yang meninggi bukan karena marah tetapi karena terkejut.
"Tidak dia ini kakak. Alhamdulillah Kakak selamat dari tragedi kecelakaan pesawat dan sekarang saat ini kakak berada di Desa nelayan yang baru bangun hari ini akibat tertidur selama 2 bulan. Bagaimana kabarmu sayang Kakak merindukanmu." Ujar Brian lagi tak tertahankan. Julia tidak peduli dengan pertanyaan itu Julia sendiri yang merasa bahwa harus memastikan hal ini langsung kembali bersuara.
"Sekarang kakak katakan Kakak berada di mana Julia akan langsung ke sana Kak aku mohon.." ujar Julia dengan penuh semangat dan juga permohonan Brian yang juga merasa merindukan Brian langsung menyebutkan alamatnya sebenarnya.
Brian tidak ingin Julia datang menghampirinya dan melihat kondisinya yang seperti ini. tetapi seperti yang dia rasakan dirinya sudah sangat merindukan gadis yang pernah disakitinya itu dan ingin melihat wajahnya. Sementara di sana setelah Julia mendapatkan informasi keberadaan Brian dan juga menyimpan nomor telepon tersebut ia langsung bergegas memesan tiketnya untuk menuju tempat itu dan ia langsung meminta tolong kepada Astra dan dea untuk menemaninya ke kota Cilegon.
Julia pun langsung bergerak cepat untuk menghubungi Astra dan dea.
Tut
"Assalamualaikum Kak. Kak hari ini tolong temani Julia pergi ke kota Cilegon dan ajak juga dia bersama kakak. Kakak pulang bawa baju beberapa saja karena kita akan langsung terbang hari ini jam 12.00 siang." Ujar Julia mengabari Astra. Astra yang mendengar penuturan atasannya dengan nada suara yang tergesa-gesa langsung mengerutkan keningnya namun ia tak berani untuk bertanya.
"Baik Bu nanti saya akan memberitahu dea." Ujar Astra menjawab hal tersebut.
"Iya Kak, katakan juga pada Kak Dito Untuk mengantarkan kita nanti ke bandara. Kalau begitu Julia tutup dulu ya kak Julia mau packing mau siap-siap dulu. Kakak sama dea Jangan lupa pulang juga untuk mempersiapkan diri." Ujar Julia lagi kepada astra.
akhirnya setelah mengucapkan salam Julia mengakhiri panggilannya. Sementara Astra yang menyadari suara ketergesa-gesaan sang atasan langsung kembali menjadi heran dan bertanya-tanya.
"Si bos kenapa ya..?? Kok tiba-tiba minta ditemani pergi ke kota Cilegon. Ah sudahlah nanti juga akan tahu sebaiknya aku segera kasih tahu dea dan Dito."ujar Astra lagi berlalu memberitahu kepada kedua teman-temannya yang lain.
Setelah itu dia dan Astra langsung Kembali ke tempat masing-masing untuk mengepak beberapa barang bawaan mereka. Sesuai dengan yang dikatakan oleh Julia untuk tidak membawa baju banyak jadi mereka hanya membawa tiga pasang baju di dalam tas ransel mereka dan juga uang hal yang paling utama.
Sementara itu, Julia langsung memesan tiga tiket untuk mereka. ia memesan tiket penerbangan tercepat hari ini. akhirnya tak lama Dito, Astra dan Dea pun sampai di kediaman Julia. Terlihat atasan mereka itu juga sudah berada di luar untuk menunggu kedatangan mereka bertiga. Julia yang melihat kedatangan mobil jemputan langsung menyelonong masuk ke dalam.
Bugh
"Ayo Kak jalan.." ujar Julia sambil memasang sabuk pengamannya.
Di perjalanan dalam hati Julia merasa deg-degan. Karena ia tidak percaya kejadian seperti ini bisa terjadi namun di saat deg-degan juga Ia juga bahagia ketika mendapati kenyataan orang yang beberapa bulan ini meluluh lantahkan kehidupannya ternyata masih bernafas.
(Aku mohon jantungku tenanglah.. kita pasti akan bertemu dengannya.) Batin Julia berusaha untuk menenangkan jantungnya yang deg-degan.
Sementara Dea dan yang lainnya yang berada satu mobil dengan Julia lagi-lagi dibuat menjadi heran ditambah lagi mereka disuruh packing dadakan oleh sang atas.
"Em, Bu maaf kalau boleh tahu kita ngapain ya ke kota Cilegon.. ibu di sana mau merintis dan buka cabang restoran Bu..??" Tanya dia memberanikan diri.
Semua karyawannya memiliki teguran yang masing-masing dan juga tidak berani membantah karena menurut mereka tanpa Julia Mereka pun tidak tahu harus bersimpuh kepada siapa. Julia yang mendengar pertanyaan itu pun seketika menarik nafasnya. Ia baru tahu kalau dirinya masih berhutang penjelasan kepada karyawan-karyawannya ini.
"Maafkan Julia ya Kak. Saya ini pasti mendadak bagi Kakak berdua. Aku ingin ke kota Cilegon untuk bertemu dengan Kak Brian. Tadi dia menghubungiku dan memberikan alamatnya." Ujar Julia dengan senyum dan juga sepertinya agak sedikit ragu.
Sementara dea, Dito dan Astra yang sudah mengenal siapa Brian itu dan juga sudah tahu apa yang terjadi dengan pemuda ini langsung membulatkan mata mereka.
"Loh Bu. Bukannya pak Bryan sudah innalillahi ya... Terus kenapa tiba-tiba berada di kota Cilegon.??" Tanya mereka dengan penuh keheranan.
Julia tahu pasti mereka juga masih belum percaya begitu juga dirinya tapi Julia yakin bahwa itu adalah Brian karena Julia sendiri tidak akan salah mengenali suara pemuda itu. Apalagi Brian sudah menjadi incarannya semasa di SMA jadi itu pasti Brian orang yang sama.
"Jika memang orang itu beneran Brian. Maka kita akan menanyakan hal itu langsung kepadanya Kak. Karena itu aku mengajak ke Astra dan Kak dia untuk menemaniku Aku tidak berani pergi sendiri." Jawab Julia lagi yang ternyata masih berpikiran logis.
Dia tidak berani pergi dan terbang sendiri ke kota Cilegon untuk bertemu dengan Brian karena mustahil orang yang mengalami kecelakaan pesawat itu selamat. Tapi Julia diyakinkan kembali karena mendengar suara itu beneran milik Brian.
"Maaf ya kak Julia harus merepotkan Kakak bertiga Untuk masalah ini Tapi ini juga sangat penting bagi Julia." Ujar Julia merasa tidak enak kepada ketiga karyawannya ia tahu ketika karyawannya ini pasti memiliki kesibukan masing-masing setelah bekerja di tempatnya.
"Oh tidak apa-apa Bu. Ibu tidak perlu khawatir lagi pula kami masih belum memiliki keluarga yang harus kami urus jadi masih bebas. Ibu tidak perlu khawatir apapun kamu pasti akan senang mendampingi Ibu kemanapun Ibu pergi." Jawab Astra menenangkan Julia yang sepertinya merasa tidak enak merepotkan mereka tetapi mereka juga ikhlas jika Julia sendiri meminta tolong seperti ini.
"Iya Bu. lagian kita juga ikhlas kok nolongin dan temenin ibu. Kami juga tidak merasa berat justru kami bersyukur ternyata keberadaan kami cukup berarti bagi ibu." Jawab dia lagi ikut menenangkan perasaan tidak enak Julia.
Julia pun tersenyum mendengar penuturan mereka sementara itu sendiri tidak mengatakan apa-apa karena sudah terwakilkan dan juga dirinya sedang fokus menyetir agar konsentrasinya itu tidak teralihkan. Akhirnya 45 menit perjalanan Mereka pun tiba di bandara Minangkabau. Setelah berpamitan kepada Dito mereka bertiga pun langsung masuk bertepatan pemberitahuan keberangkatan pesawat di umumkan sehingga Julia dan kedua karyawannya tidak perlu menunggu lama lagi.
***
Sementara di tempat lain, setelah Brian menyebutkan lokasi keberadaannya saat ini ia langsung mendapati panggilannya diputus secara sepihak oleh Julia.
"Aduh kenapa Julia tiba-tiba memutuskan panggilannya.. jangan sampai dia nekat datang ke sini." Ujar Brian mencoba menebak apa yang akan dilakukan oleh Julia.
Setelah ia mengatakan hal itu entah kenapa jantungnya merasa deg-degan membuat Brian kembali meringis. Karena itu Brian kembali mencoba untuk menghubungi nomor Julia tetapi kini panggilannya sudah tidak tersambung lagi.
"Apa Julia marah padaku.. maafin Kakak Lia Kakak juga tidak bermaksud menghilang selama 2 bulan ini." Ujar Brian yang kini mulai berburuk sangka.
Karena tidak ingin memikirkan masalah itu dan sekaligus menenangkan perasaannya yang deg-degan itu akhirnya Brian memilih untuk mengistirahatkan dirinya terlebih dahulu sambil menunggu pejal kembali. Apalagi kondisinya juga masih belum stabil. Akhirnya dengan susah payah Brian bisa memberikan tubuhnya kembali dan mulai memejamkan matanya.
"Aku harap setelah ini, nomor Julia bisa kembali dihubungi. Aku ingin beristirahat sebentar untuk menormalkan kondisi dan detak jantungku saat ini." Ujar Brian lagi.
Dan benar saja karena kondisinya masih sangat lemah tak butuh waktu lama Brian pun langsung terlelap dan menuju alam mimpi. Cukup lama Brayan terlelap dan akhirnya begal juga kembali selesai dari pekerjaannya. pejal masuk ke dalam rumah dan melihat Brian sudah terbaring. pejal yang merasa panik melihat Brian tertidur langsung mendekat dan memeriksa denyut nadinya dan alhamdulillah ternyata masih berdenyut.
"Alhamdulillah ternyata masih berdenyut. Maaf sudah pikir yang macam-macam aku cuma khawatir saja." Ujar pejal lagi. pejal pun kemudian memperbaiki selimut Brian dan kemudian berlalu dari sana. Ia kembali ingin memasak untuk makan siang mereka.
****