JULIA

JULIA
52. kepolosan Julia



Sementara Abi menutup mulutnya agar tawanya tidak pecah di permukaan.


"Aduh sayang.. bukan begitu maksudnya... Aduh... bagaimana ngejelasinnya ya..." Ujar Melvin menimpali ucapan Julia itu.


"Itulah. Kalian itu kalau ngomong tidak pernah lihat situasi.." omel nyonya salsa kepada anak-anaknya.


Sementara, tuan Antonio yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan anak-anaknya, hanya mampu menahan tawa melihat keluguan keponakannya itu. Tuan Antonio juga berpikir, apakah sebegitu polosnya sang keponakan, sampai hal hal, atau kata-kata istilah seperti itu, tidak di ketahuinya.


seharusnya hal-hal seperti ini sudah diajarkan kepadanya untuk menghindari terjadinya kehamilan anak di usia dini. menurut Tuan Antonio, hal yang seperti ini memang harus disosialisasikan. dan yang menjadi pertanyaan Apakah di sekolah internasional itu tidak pernah mensosialisasikan masalah yang seperti ini ?


Biasanya, anak zaman sekarang akan mengetahui dengan mudah mengenai hal-hal seperti itu. Karena sekarang, semua orang dapat belajar dari internet.


"Dengar ya. Papa tidak ingin, pikiran Julia jadi terkontaminasi oleh hal-hal yang kotor karena pembicaraan kalian." Ujar tuan Antonio kepada ke empat putra nya. Peringatan tuan Antonio itu membuat ke empatnya mendesah.


"Hah.. kan, kita lagi yang salah.." ujar mereka dengan serentak.


Karena mereka berbicara secara bersamaan dengan kalimat yang sama. Mereka semua menjadi saling pandang memandang. Setelah itu, mereka semua tertawa.


Beginilah adanya keluarga inti milik tuan Antonio. Tak ada batasan diantar mereka, kecuali hal-hal yang bersifat privasi. Akhirnya, setelah itu, mereka semua pun membubarkan diri dan kembali kehabitat masing-masing.


sementara Arvin yang memutuskan kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya, karena keesokan harinya ia berharap pekerjaannya tinggal sedikit. tentu saja, hal ini terjadi karena dirinya akan berangkat liburan bersama dengan keluarganya. agar keinginan itu bisa terwujud, maka Arvin sendiri harus lembur di kantor.


tak lupa juga dirinya meneruskan mencari informasi mengenai Karina Puspita. iya harus menandai orang-orang yang berurusan dan yang cari masalah dengan adik sepupunya. setelah mendapatkan hal itu, Iya juga ikut-ikutan mau posting satu foto yang memperlihatkan diri seorang Karina Puspita berjalan bersama dengan om-om. Bahkan mereka berjalan sangat mesra dan bergandengan tangan.


"pantas saja ia memfitnah adikku seperti itu. ternyata semua itu ia lakukan untuk menutupi tabiat buruknya. jangan sampai adik perempuanku dekat dengan wanita sundal ini. Bisa-bisa pergaulannya jadi salah arah." gumam Arvin. di sana Arvin menggunakan akun fake.


"kita lihat saja. sedikit saja kalian menyentuh adikku maka kalian akan membalaskan balasannya berkali-kali lipat. selamat menikmati." ujar Arvin sambil tersenyum sinis. setelah itu ia kembali meneruskan pekerjaannya. iya harus menyelesaikannya sesegera mungkin.


***


Di tempat lain. Seolah lelaki remaja sedang uring-uringan di kamarnya. Ia selama beberapa hari ini selalu memantau hpnya. Berharap, ada sebuah pesan masuk dari seseorang yang pernah mengusik ketenangan dirinya dengan berbagai tingkah lakunya. Tapi, sekarang notifikasi hpnya terasa sepi.


"Ah... Aku tidak tau. Ternyata aku akan seperti ini, setelah ia memutuskan untuk tidak mengganggu ku lagi. Kalau tau seperti ini jadinya, lebih baik aku merespon baik rasa sukanya padaku." Ujar remaja itu dengan penuh penyesalan.


Siapa lagi kalau bukan Brian. Selama berhari-hari, setiap pulang sekolah, ia tidak lagi mood berkumpul dengan teman-teman nya, itu terjadi setelah Julia memutuskan untuk tidak mengganggunya lagi dan melepaskan dirinya.


"Tidak." Ucapnya.


"Tidak !! Aku tidak boleh seperti ini. Kemarin dia. Yang mengejar-ngejar diriku. Sekarang aku yang akan mengejarnya." Tekad Brian.


Kali ini, ia akan memulai dan menyusun rencana untuk mengejar Julia kembali. Ia juga berjanji akan mendapatkan Julia hanya untuk dirinya. Tidak tahukah dirinya saat ini bahwa Julia telah memiliki empat pawang yang mungkin akan sangat sulit ia taklukkan dan luluhkan. Apalagi ke-4 bodyguard Julia tersebut begitu posesif terhadap dirinya.


"Sayang, tunggu aku. Aku akan datang menjemput mu, dan kita akan hidup bahagia." Ucapnya.


Ia langsung memikirkan bagaimana hubungan nya dengan Julia akan berakhir dengan bahagia. Padahal, ia tidak tau saja, bahwa kebahagiaan yang ingin ia dapatkan, pasti akan Sangat Sulit ia gapai.


Apalagi, saat ini, perjalanan untuk menuju bahagia, sudah banyak jebakan dan juga cobaan. Kita doakan saja, mudah-mudahan Brian bisa melaluinya. Setelah cukup untuk berhayal, Brian pun memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat pada Julia. Ia ingin menchek, apakah Julia masih menggunakan nomor yang sama atau sudah diganti. Dan ternyata, setelah ia mengirimkan pesan itu, ternyata nomornya masih aktif.


"Yes, masih aktif. Kalau begitu, selamat berjuang besok Brian. Semangat." Ujar Brian memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Ia pun langsung memperbaiki posisi tidurnya, apalagi sekarang sudah malam dan juga sudah waktunya untuk tidur. Ia juga harus tidur, agar ke esok harinya memiliki tenaga untuk memulai misi.


Di tempat lain, Julia merasa bahwa hp-nya tadi bergetar menandakan ada pesan masuk. Ia mengambil handphonenya dan membuka aplikasi hijau itu. Seketika Julia langsung mengerutkan keningnya. Ia bertanya-tanya kenapa tiba-tiba Brian mengirimkan pesan padanya walaupun hanya sebatas huruf p. Namun Julia tidak menanggapinya, ia memilih untuk mematikan data internetnya dan kemudian bersilaturahmi dengan tempat tidurnya.


***


Esok hari menjelang. Seperti biasa Julia akan bangun pagi membersihkan dirinya, bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Ia mencoba melupakan masalah yang terjadi waktu kemarin. lagi Pula, berita itu adalah berita hoax.


Julia tidak ingin merusak masa depannya hanya dengan sebuah berita yang tidak benar. Di hari-hari sebelumnya juga, Julia telah menanamkan dalam hatinya bahwa apapun yang terjadi dirinya tidak boleh putus sekolah karena ada masa depan yang sedang menantinya. Setelah selesai bersiap, Julia pun langsung turun bergabung bersama dengan keluarga sang paman yang ternyata semuanya sudah pada berkumpul di meja makan.


"Selamat pagi bang Arvin, Bang Al, Bang Melvin dan Bang Abi. Selamat pagi juga untuk mama papa yang cantik dan ganteng.." ujar Julia dengan wajah ceria. Mereka semua membalas sapaan Julia tak kalah sumringai dan riang gembira.


"Pagi juga anak papa dan Mama yang cantik..." Ujar Tuan Antonio dan nyonya salsa.


"Pagi juga sayang.." jawab Melvin sambil menepuk satu kursi kosong yang ada di sebelahnya. Mereka semua juga tak kalah menyambut sapaan Julia.


"Pagi juga adik Abang yang cantik jelita..." Ucap ketiganya dengan serentak.


Sementara Julia sendiri sudah berjalan mendekati kursi kosong yang disiapkan oleh Melvin untuk dirinya. Nyonya salsa pun langsung mengambilkan sarapan untuk Julia.


"Ini sayang. sarapan yang banyak ya.. karena sekolah dan berpikir itu butuh tenaga.." ujar nyonya salsa dengan senyum hangat di wajahnya. Ia meletakkan sepiring nasi goreng dengan toping telur dadar dan juga ditambah dengan bawang goreng di atasnya.


"Terima kasih mama..." Ujar Julia dengan senyuman.