
Sementara di tempat lain. Keluarga Tuan Antonio yang sudah berada di pangkal pendakian gunung Merapi. Arvin sesekali memeriksa handphonenya melihat kemajuan yang ia buat.
Ternyata cukup banyak yang mengenal Karina dan rata-rata semua yang mengomentari foto tersebut adalah orang-orang yang mengenal dirinya. Ada yang mengatakan bahwa karina adalah orang kaya dan ternyata penghasilannya dari sana. Yaitu menjual diri pada om om. Arvin yang membaca komentar-komentar tersebut langsung tersenyum sinis.
"Makanya.. jangan main-main sama saya, dan jangan menyakiti adikku. Karena aku akan membalasnya berkali-kali lipat. Dan ini baru sebagian kecil saja. Hehehe.." Ujar Arvin dengan pelan dan langsung menutup handphonenya lagi.
Setelah itu, ia kembali bergabung kepada keluarganya yang sudah melakukan registrasi terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian.
"Bagaimana pah, sudah siap semuanya..??" Tanya Arvin kepada kedua orang tuanya.
Untuk pendakian ke gunung Merapi, mereka tak perlu menyewa pemandu di sana. Karena tuan Antonio dan nyonya salsa sudah sangat akrab dengan gunung merapi tersebut. Jadi mereka sudah memiliki pemandu sendiri.
"Bagaimana semuanya sudah siap..?? Ada yang lupa.?" Tanya Tuhan Antonio mengkonfirmasi kepada anak-anaknya dan juga istrinya.
Mereka semua langsung menggelengkan kepala mereka bahwa sudah tidak ada yang tertinggal lagi alias sudah lengkap.
"Baiklah, sebelum kita memulai pendakian kita alangkah baiknya kita berdoa terlebih dahulu menyerahkan kepada yang maha kuasa agar menyertai kita di perjalanan dan kembali pulang dengan selamat. Mari kita mulai dengan surat al-fatihah." Setelah tuan Antonio mengucapkan hal itu, mereka semua Langsung melakukan dan mengambil posisi berdoa sambil melafazkan surat al-fatihah di dalam hati mereka. Setelah selesai berdoa, Mereka pun memulai pendakian dengan membaca bismillah.
Waktu itu sudah menunjukkan sore hari. Dan biasanya mereka mendaki gunung yang tidak terlalu tinggi, namun ketika berada di ketinggian itu, mereka dapat disuguhkan dengan pemandangan atau view yang begitu indah dari alam. Bahkan gunung tersebut dilalui oleh banyak orang pendaki baik itu di sore hari, malam hari, ataupun siang hari. Ibaratnya gunung tersebut tidak pernah sepi dari para pendaki.
Julia yang baru pertama kali melakukan tracking di gunung berapi benar-benar dibuat takjub. Apalagi mereka harus menyimpan tenaga ekstra untuk mendaki gunung tersebut. Mereka memerlukan sekitar 4 sampai 5 jam untuk melakukan pendakian sampai di puncak gunung merapi. Julia yang konon katanya masih berjiwa muda itu ternyata kalah pada kedua paruh baya yang sudah berpengalaman itu.
"Hah !! kupikir belajar dan menuntut ilmu sangat melelahkan. Ternyata ada yang lebih melelahkan ketimbang itu." Gumam Julia saat mereka beristirahat di posko ketiga.
Posko pertama dan kedua mereka memutuskan untuk tidak beristirahat karena menurut mereka kedua posko itu terlalu dekat. Akhirnya sesampai mereka di posko 3 Mereka memilih untuk rehat sejenak. Sementara matahari sudah mulai miring ke arah barat.
"Gimana Lia. Apakah sudah terasa..??" Tanya sang Paman kepada keponakannya itu. Julia tidak menjawab karena masih sibuk mengatur nafasnya Ia hanya memperlihatkan kedua jempolnya saja ke arah sang paman.
"Makanya, sering-sering melakukan petualangan nak. Biar terbiasa dan mengetahui apa saja yang harus dilindungi dan dilestarikan." Ujar Tuan Antonio kepada keponakannya itu.
"Ya Paman, nanti kalau Julia ada rezeki dan melanjutkan sekolah di jenjang yang lebih tinggi, Julia akan ikut organisasi pencinta alam biar nanti tiap minggu Julia bisa mendaki gunung hehehe." Ujarnya sambil bergurau ke arah sang paman. Tuan Antonio pun tersenyum mendengar gurauan sang keponakan.
"Tentu saja ada rezeki lebih untukmu melanjutkan kuliah. Apalagi saat ini kan kamu sudah berbisnis dan juga mendapatkan penghasilan. Paman dan tante juga akan mendukungmu dan membiayai sekolahmu. Dan kamu hanya perlu melakukan kewajiban mu, bersekolah dengan baik dan tetap semangat." Ujar Tuan Antonio memberikan semangat kepada keponakannya itu. Julia pun langsung menganggukkan kepalanya dengan pasti.
Sepertinya sampai kapanpun Julia tidak akan bisa memanggil Tuan Antonio sebagai papa dan juga nyonya salsa sebagai mama. Baginya, tak ada yang bisa menggantikan posisi kedua orang tuanya dalam hatinya sendiri. Walaupun kedua orang tuanya tak pernah menganggap dirinya sebagai anak mereka.
"Ya sudah, ayo kita lanjutkan perjalanan kita lagi, karena matahari mulai tenggelam." Ujar Tuan Antonio lagi.
Mereka semua pun langsung bangkit kembali dan melanjutkan pendakian sampai di tempat yang biasanya digunakan untuk membangun tenda.
"Hah !! akhirnya kita sampai juga. Sebaiknya kita langsung mendirikan tenda saja.." ujar Tuan Antonio kepada anak-anaknya.
Mereka semua pun langsung bergerak cepat untuk membangun tenda. Mereka membuat 3 tenda, sementara Julia dan nyonya salsa membuat makanan untuk mereka. Karena mereka melakukan pekerjaan mereka secara gotong royong, akhirnya pekerjaan mereka pun selesai.
"Ayo makan malam dulu pa. Mama dan Julia sudah selesai masak." Ujar nyonya salsa.
Nyonya salsa dan Julia juga sudah menggelar alas pembungkus nasi diatas tikar. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman, dan terbiasa, mereka tak lagi merasa risih dengan kesederhanaan itu.
"Weh!! Keknya enak ni." Ujar Abi ketika melihat nugget ayam yang telah dicampur dengan sambal pedas.
Mereka semuanya pun langsung mengambil posisi tempat duduk masing-masing. Sementara di depan mereka telah tersungguh sebuah pemandangan yang begitu indah dan langka. Terlihat di sana pemandangan kota yang dipenuhi dengan tamaran lampu-lampu di setiap rumah. Sehingga bentuknya seperti bintang di permukaan bumi.
"Paman pemandangan di sini sangat indah dan juga sejuk. Apalagi dari arah sini kita bisa melihat pemandangan kota yang begitu indah yang tidak pernah Julia lihat sebelumnya." Ujar Julia di sela-sela mereka makan bersama. Semuanya pun langsung mengarahkan pandangan mereka mengikuti arah pandangan Julia. Semuanya pun langsung mengukir senyum di bibir mereka.
"Tentu saja nak. Pemandangan saat kita berada di atas ketinggian sangatlah indah. Mengingatkan paman di mana momen-momen pertama Paman melakukan bulan madu bersama dengan istri paman. Kami tidak melakukan bulan madu di negara-negara maju, tetapi kami melakukan momen bulan madu mendaki gunung selama dua minggu dengan tempat yang berbeda-beda. Dan itu sungguh sangat menyenangkan." Ujar Tuan Antonio. Julia yang baru pertama kali mendengar kisah sang Paman itu langsung mengerahkan pandangannya ke arah sang paman dengan ekspresi terkejut.
"Wah !! benarkah seperti itu Paman..!! Ternyata paman dan bibi nggak kaleng-kaleng ya hahaha.." ujar Julia.
Baginya selama hidup 17 tahun ini ia baru mendengar bahwa ada orang yang melakukan bulan madu tanpa pergi ke tempat-tempat mewah atau menghabiskan uang yang banyak. Malahan, paman dan bibinya pergi melakukan tracking dari bukit ke bukit dan menikmati suasana keindahan alam yang tersuguh alami di hadapan mereka.
"Julia juga pengen seperti itu Paman... Hehehe. nanti abang Abi yang mengajak Julia ke sini ya.. tapi pada saat Bang Abi kalau sudah mau bulan madu.." ujar Julia dengan polosnya.