JULIA

JULIA
41. Malu dan ingin pulang



Dadanya bergetar akibat mendengar tangisan Julia yang begitu pilu dan menyayat hati. abi Tak habis pikir bahwa dirinya akan mendapati Julia dalam titik ini.


Memang, dirinya pernah mendengar cerita bahwa Julia hidup bagaikan anak tiri di keluarganya, tapi Abi sendiri nggak tahu perlakuan seperti apa yang dialami Julia. Setelah Abi merasa bahwa Julia sedikit tenang, dia pun langsung mengendurkan pelukannya dan menatap adiknya sepupunya.


"Julia.. lihat abang..." Ujar Abi yang begitu lembut dan penuh perhatian.


Abi meranangkupkan kedua telapak tangannya di kedua pipi adik sepupunya itu. Dengan mata merah dan sedikit bengkak, Julia menuruti perkataan kakaknya. Ia mendongak dan menetap kedua bola mata Abi.


"Lihat Kakak dek. Apapun yang terjadi datanglah kepada kakak. Kakak sangat menyayangimu, begitu mencintaimu sebagai adikku dan tidak ingin terjadi apa-apa denganmu. Dan kamu tidak perlu khawatir mengenai postingan foto yang dipasang di grup sekolah itu. Abang sudah memarahi orang yang melakukannya. Mungkin bukan mereka yang memposting tapi mereka juga tahu siapa pelakunya, tapi mereka tak ada niat untuk menghentikannya. Jadi Abang mohon jangan bersedih lagi ya. Abang Arvin, Bang Aliando dan Melvin, juga kedua orang tua Abang sangat menyayangimu. Jangan terpuruk hanya karena masalah itu. Mereka melakukan semua itu karena merasa iri dengan dirimu. Jadi Abang mohon, jika ada sesuatu katakan dan berceritalah pada Abang.." ujar Abi panjang lebar. Seolah ia tak merasa puas mengungkapkan isi hatinya kepada Julia. Jika saja ia bukan laki-laki sejati, Abi akan memastikan bahwa orang-orang yang menyakiti adik sepupunya ini babak belur dan sampai di rumah sakit.


"Terima kasih Abang... Tapi Bang, Julia malu masuk ke sekolah lagi. Julia mau pulang saja. Julia ingin menenangkan diri dulu." Ujar Julia lagi kepada Abimanyu.


Abi yang mengerti kondisi mental Julia saat ini menyetujui permintaan Julia. Dengan segera, Abi langsung menghubungi pak mamang untuk datang ke sekolah menjemput mereka. Karena dalam kondisi seperti ini, Abi tidak mungkin membawa adiknya dengan motor.


Sebelum mereka pergi meninggalkan sekolah, Abi menyuruh Julia untuk tetap di sana dan menunggu dirinya. Ia akan terlebih dahulu meminta izin ke sekolah untuk mereka balik lebih cepat dari biasanya. Setelah itu, Abi akan ke kelas Julia untuk mengambil tas Julia dan kemudian pergi pulang ke rumah.


***


Di sisi lain. Meta dan Mita merasa tidak terima ketika mendapat teguran dari Abi yang mengatakan bahwa mereka tega terhadap saudara mereka sendiri. Bahkan mereka berdua tak melarang teman-teman mereka untuk mempermalukan Julia di grup sekolah.


Penuturan Abi benar-benar membuat mereka merasa muak kepada Julia, rasa benci yang awalnya tak ada dalam hati mereka hanya sekedar rasa jahil itu, kini mulai tumbuh benih-benih tak sehat tersebut.


"Gara-gara Julia !! kita dipermalukan sebegitunya oleh Kak Abi.! Lihat saja aku akan membuat anak itu menyesal karena dilahirkan di dunia ini." Ujar mita tidak terima dan merasa malu atas penuturan Abi. Banyak juga cacian-cacian yang mereka terima setelah mengetahui kenyataan bahwa Julia ternyata adalah saudara kandung mereka.


"Bener itu, pasti kepalanya sudah besar banget tuh dibelah sama Kak Abi. Lihat saja aku akan aduh ini sama mama papa." Timpal Mita yang memang anak mama dan papa itu. Tapi meta tiba-tiba mengingatkan kepada Mita saudara kembarnya untuk tidak melaporkan hal ini kepada kedua orang tua mereka.


"Jangan gegabah bisa nggak.!! Jangan sampai kamu melaporkan hal ini kepada mama dan papa. Kita harus menyusun rencana dulu untuk memberi pelajaran anak itu. Jangan sampai aduan mu itu malah membuat kita babak belur. Kamu itu nggak ngerti apa ? kalau Kak Raka sama Kak Ridho sepertinya sudah mulai bersimpati kepada Julia.!!" Ujar Mita merasa geram akibat pemikiran sang adik yang begitu dangkal. Mita yang mendengar penuturan meta pun akhirnya mengerti.


" Iya iya maaf. Lagian kan aku nggak tahu. Nggak usah marah-marah kayak gitu juga kalik.." Mita yang merasa tidak terima di pojokkan oleh Kakak kembarnya.


Ia juga memutar bola matanya dengan malas, kenapa sih harus jadi adik ? kenapa nggak jadi kakak saja agar bisa berkuasa.? Begitu pikiran mita. Saat mereka sedang duduk berdua. Tiba-tiba teman-teman mereka datang menghampiri mereka di rooftop sekolah.


"Tau tuh !! capek tau nggak jalan ke sini mana kita telepon kalian nggak ngangkat lagi..!!" Timpal Ara.


Mita merasa teman-temannya seolah menyudutkan mereka menjadi tidak terima dan emosi sendiri. mereka semua seolah hilang respek kepada kedua saudara kembar itu. dan juga merasa bersalah pada Julia.


"Eh !! kita itu kan nggak nyuruh kalian nyariin kita.!! Ngapain sih !! datang-datang malah marah-marah !! nggak jelas banget kalian." Jawab meta dengan ketus. Mereka semua seolah-olah sedang diliputi rasa emosi setelah memposting foto Julia bersama kakak sepupunya di grup sekolah mereka.


"Ya udah sih, nggak usah bertengkar kayak gitu. Lagian siapa juga yang salah, kita kan nggak tahu kalau Julia itu kakak kandung kalian. Dan kalian juga nggak pernah ngasih tahu kita mengenai hubungan kalian dengan Julia. Ya alhasil keadaannya jadi seperti ini deh." Ujar Ara bersikap acuh tak acuh.


" Ya udah sih.. nggak usah dibahas lagi. Bacot lu semua." Jawab meta dengan dingin.


Setelah itu, ia langsung pergi dari sana meninggalkan Mita dan teman-temannya yang sudah berbaik hati menyusul mereka di rooftop sekolah. Melihat meta bersikap seperti itu kepada mereka, membuat yang lainnya pun menjadi kesal.


"Ya sudahlah ayo pergi." Ujar lili mengajak teman-temannya pergi dari sana.


Mereka semua pun meninggalkan rooftop sekolah dan diikuti oleh Mita di belakang mereka. Sedari tadi Mita hanya melihat perdebatan Kakak kembarnya dengan teman-teman mereka.


Mereka semua berjalan dengan Hening dan juga cepat, tak seperti biasanya jika mereka sedang berkumpul seperti ini mereka akan menggunjing teman-teman mereka yang lain atau sekedar bercanda.


Tapi karena masalah yang ditimbulkan oleh mereka sendiri, membuat mereka tidak mood untuk hanya sekedar melemparkan senyuman sesama mereka.


Akhirnya tak lama bel tanda masuk pun berbunyi, sementara Julia dan Abi telah izin kepada guru yang mengajar sekaligus guru piket untuk pulang lebih dulu dengan alasan memiliki urusan keluarga.


Karena Abi memberikan alasan yang pasti kepada guru-guru yang bertugas berjaga, akhirnya Abi dan Julia meninggalkan sekolah mereka dan pulang ke rumah.


***


Sesampainya mereka di kediaman Tuan Antonio. Nyonya salsa yang melihat kepulangan anak-anaknya yang tidak seperti biasanya, langsung menjadi heran dan bertanya kepada keduanya. Apalagi ketika melihat mata Julia yang membengkak seperti menangis.


"Abi, Julia. Kalian sudah pulang nak.." ujar nyonya salsa dengan lembut. Julia dan Abi yang merasa terpanggil pun langsung mengarahkan pandangan mereka ke sofa di mana sang nyonya rumah duduk santai di sana.