JULIA

JULIA
95. karinduan Brian



Menu-menu makanan yang diberikan oleh Julia benar-benar sangat cocok di lidah mereka. Tapi kali ini, Aliando selaku kakak sepupu kedua bagi Julia hanya diam dan menikmati makanannya saja. Ia nanti akan membahas soal peresepan makanan, Tapi itu akan ia lakukan nanti. Sekarang waktunya untuk menikmati saja dulu menu makanan ini. Julia pun tersenyum menanggapi penuturan kakaknya itu. Kemudian Julia langsung beralih kepada tuan Sanjaya.


"Papa makan ya, biar Julia suapi papa.." ujar Julia kepada Tuan Sanjaya.


Julia pun langsung mengambil sendok dan menyendok makanan serta mengarahkannya ke dalam mulut ayahnya. Dan terlihat tidak sulit bagi Julia untuk membujuk ayahnya makan.


Berbeda ketika Raka dan Ridho yang menyuruhnya makan, pasti akan banyak drama. walaupun anak-anaknya menyuapi dirinya. Di mana Tuan Sanjaya pasti akan menolak dan hanya ingin menemukan putri kecilnya itu.


"Syukurlah kalau papa mau makan dengan baik. Selama merawat papa, ketika dikasih makan papa selalu menolak dan selalu menanyakan di mana putriku. Tapi sekarang syukur alhamdulillah papa sudah bisa dibujuk dan bahkan sangat anteng." Gumam Raka dengan suara pelan. Julia yang mendengar guMaman sang kakak langsung mengarahkan pandangannya ke arah Raka.


"Apakah papa sesusah itu untuk dibujuk makan Kak..??" Tanya Julia kepada kakak pertamanya.


Ridho pun langsung menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan sang kakak pertama. Mengetahui bahwa Tuan Sanjaya ayahnya benar-benar terpukul atas kepergian dirinya, lagi-lagi merasa bersalah walaupun ia tak meneteskan air matanya.


"Sekarang tidak perlu khawatir lagi. Di sini sudah ada Julia, jika Kakak berdua berkenan nanti biarkan papa tinggal di sini bersama Julia dulu. Nanti kalau papa sudah sembuh, papa pasti akan kembali ke rumah kok. Dan juga Kakak tolong jangan katakan apa-apa pada mama. takutnya nanti mama membenci Julia lagi." Ujar Julia lagi kepada kakaknya.


Tak hanya kedua kakak kandung Julia yang menganggukkan kepala. tapi mereka semua juga menganggukkan kepala mereka. Akhirnya, mereka semua fokus untuk menghabiskan makan malam. sementara Julia akan menyuapi ayahnya sesekali juga menyuapi dirinya sendiri.


Setelah acara makan malam selesai, berhubung mereka semua masih lelah dalam perjalanan. akhirnya mereka memilih langsung beristirahat saja. begitu juga dengan Tuan Sanjaya. Sementara Julia, Ia kembali ke ruang kerjanya untuk melihat dan memeriksa laporan bulanan maupun laporan harian rumah makannya.


***


Sementara di sisi lain. Tiga tahun tidak mendengar kabar tentang Julia, Brian yang saat ini sudah menempuh pendidikan di sebuah universitas ternama dan sekaligus menjadi CEO di perusahaan keluarganya itu. dan selama itu pula, Brian Telah berubah menjadi pria dingin tak tersentuh.


Semenjak mendapat kabar, bahwa Julia telah pindah dari sekolah kakeknya, saat itu pula Brian selalu merenung dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tapi walaupun begitu ia masih tidak menyerah untuk menemukan dan mencari keberadaan Julia. Apalagi jejaknya memang sengaja dihilangkan oleh Tuan Antonio.


"CK.. sampai kapan aku harus begini. Semua informasi mengenai kepergian Julia benar-benar tak ditemukan sama sekali. Jujur saja, aku merindukan makhluk halus itu. Aku pikir, sudah selama 3 tahun ini dapat melupakannya seiring berjalannya waktu ternyata tidak. Seiring berjalannya waktu, rasa rinduku malah semakin berat untuknya." Monolog Brian yang sambil berdiri memandangi pemandangan kota di atas gedung perusahaan keluarganya itu. Brian juga sudah merancang dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, tapi kedua orang tua atau keluarganya belum mengetahui hal itu.


Saat Brian sedang melamun, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya. Brian langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu, kemudian Di sana ia menemukan Galang sang sahabat.


Galang datang berkunjung, karena merasa bosan setiap pulang kuliah ia harus ke markas mereka. Sesekali Ia datang ke kantor sahabatnya untuk bertemu.


"Eh Lang, lo Di sini.?? Kok lo nggak ngabarin kalau lo mau ke sini..??" Katanya Brian dengan ekspresi dingin dan juga suara yang datar. Bukan marah ataupun kesal, melainkan selama 3 tahun ini memang seperti inilah Brian yang berubah.


"Iya bro, nggak sempat ngabarin, soalnya aku udah bosan banget berada di markas. Di mana sekarang anak-anak pada sibuk dengan tugas kuliah dan juga kesibukan lainnya. jadi jarang ketemu. Seperti kamu sekarang ini." Ujar Galang sambil berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Brian. Sementara Brian sendiri sudah duduk di sofa itu. Galang yang melihat raut wajah sahabatnya yang sepertinya Masih memikirkan Julia langsung bersuara.


"Belum move on juga bro. Baru tahu ya rasanya kehilangan hehehe.. makanya, dulu ke mana aja lu.." ujar Galang kepada Brian.


Ia tidak peduli. Apakah Brian akan mengamuk atau tidak ? yang penting saat ini dirinya puas meledek sahabatnya itu.


"Kadang iya bro, terlalu sok jual mahal juga bisa merugikan diri sendiri. Seperti kamu sekarang ini, dulu katanya nggak mau, dulu katanya jangan gangguin, dulu katanya berisik, tapi sekarang menjadi terpikat dan bahkan tak bisa dilupakan. Gimana rasanya bro, ketika merasakan perasaan yang seperti lagu haji Rhoma irama itu..??" Ujar Galang lagi kepada Brian.


Galang yang sadari 3 tahun ini selalu mengungkit lagu haji Rhoma irama Yang sepertinya memang cocok keadaan Brian saat ini. Brian yang mendengar nada ledekan sahabatnya itu tidak peduli.


"Sialan lo.!! Bukannya ngebantuin sahabat untuk mencari dan menemukan keberadaan Julia, lo malah senang ngeledek gue." Ujar Brian dengan datar tanpa ekspresi.


Galang yang mendengar penuturan Brian langsung terkikik. Galang juga memperhatikan ekspresi Brian, semenjak kehilangan atau kepergian Julia, Brian menjadi jauh lebih dingin dan datar, bahkan mungkin susah bagaimana cara berekspresi.


"Lo sekarang sudah jauh berbeda ya bray !! dulu aja, lo orangnya cerewet dan ngomongnya juga ceplas-ceplos. Tapi sekarang jangankan cerewet, nanggepin perbincangan kita saja kamu nggak sudi. Apalagi sekarang kamu benar-benar merubah sikap kamu yang jadi lelaki dingin, cool, datar dan juga irit bicara." Ujar Galang lagi kepada sahabatnya itu. Mendengar penuturan Galang, Brian langsung menarik nafasnya dengan gusar dan menghembuskannya dengan pelan.


"Gue nggak tahu bro. Semenjak mendapat kabar kepergian Julia waktu itu, hati aku merasa sakit. Bahkan selama bertahun-tahun, ini rasa rindu untuknya sepertinya sudah tidak bisa dibendung lagi. Andai saja dulu aku tahu akibatnya akan menjadi seperti ini, aku pasti tidak akan melepaskan dirinya. Aku benar-benar sangat merindukannya bro. Tapi nggak tahu harus bagaimana. Aku juga sudah membayar beberapa orang untuk mencari dan menemukan keberadaan Julia, tapi sampai sekarang keberadaannya sama sekali tak ditemukan." Ujar Brian sedikit menerawang ke atas langit-langit kantornya Karena posisinya sekarang yang sedang bersandar di sandaran kursi sofa yang ada di ruangannya itu.