
Andai saja dulu ia tidak keras kepala dan menyudutkan anaknya Julia. Pasti suaminya juga tidak akan menegur caranya mendidik anak-anaknya itu. Sekarang nasi sudah menjadi bubur. ia tidak tahu ke mana suami dan anak-anaknya pergi. Atau mereka juga dengan sengaja menjauh darinya.
"Maaf kalau begitu Jaka. Kembalilah dan bekerjalah." Ujar nyonya Ratih lagi kepada Jaka dengan nada suara yang lemah dan tak berdaya.
Jaka Yang mendengar perintah itu langsung meninggalkan nyonya Ratih di sana setelah berpamitan. Ia tidak mungkin tetap di sana, takutnya nanti nyonya Ratih akan kembali melayangkan beberapa pertanyaan kepadanya lagi. Sementara nyonya Ratih, setelah ia merasa sedikit tenang, Ia pun memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka saja. Lebih baik dia merenungkan semua kejadian demi kejadian yang terjadi pada rumah tangganya serta anak-anaknya.
***
Sementara itu, Brian yang sudah mengetahui keberadaan Julia. Ia mulai menyusun rencananya untuk segera pergi ke Sumatera barat guna mencari keberadaan Julia di sana. namun, sebelum ia melancarkan niatnya tersebut, terlebih dahulu Ia mengutus dua orang anak buah dan kepercayaannya untuk mencari tahu di mana tepatnya Julia tinggal.
Setelah Bryan mengutus orang-orang itu, kini giliran ia membuka handphonenya kembali dan memutar berbagai macam video yang sudah Julia unggah di sana. Brian yang melihat video blog Julia, di buat senyum-senyum sendiri. Apalagi ada kata-kata yang terdengar lucu di telinganya.
"Aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu denganmu. Jauh sekali kamu mengasingkan diri. Tapi tenang saja sayang, aku pasti akan menemukan mu di manapun kamu berada." Ujar Brian sambil mengelus handphonenya yang menampilkan gambar Julia.
Rasanya, rasa rindu yang ia miliki benar-benar meminta untuk disalurkan. Tetapi apa boleh buat, saat ini ia hanya perlu bersabar agar bisa mendapat informasi seakurat mungkin.
"Setelah berhasil mendapatkanmu, aku berjanji tidak akan pernah melepaskan kamu lagi.* Ujar Brian lagi. Dia tidak tahu saja, bahwa saat ini di sekeliling Julia, Ia sudah memiliki banyak pawang yang cukup ganas. Yang mungkin akan sangat sulit ia lewati. tiba-tiba, Saat Brian sedang melamun, ada yang menerobos masuk ke dalam ruangannya.
Brak
"Kak Brayen...!!" Teriak orang yang menerobos masuk itu. Siapa lagi kalau bukan melodi. Brian yang melihat keberadaan melodi di sana langsung memasang wajah tidak suka. Bahkan melodi dengan terang-terangan mengganggu waktu baiknya itu.
"Ngapain kamu ke sini... Maaf ya, saya tidak mau menerima tamu yang tidak penting.." ujar Brian ke pada melodi dengan ekspresi dingin. ia tidak peduli, Apakah melodi akan sakit hati atau tidak dengan ucapannya. Ia tidak ingin memberikan harapan kepada melodi dengan bersikap baik kepadanya. tetapi, Melodi yang mendengar penuturan Brian sama sekali tidak peduli dan juga tidak merasa tersinggung.
"Kakakku ngomong gitu sih..?? Aku kan ke sini mau ketemu sama calon suami aku.." ujar melodi sambil meletakkan tasnya di atas meja Brian dan beralih duduk di atas mejanya sambil menghadap ke arah Brian. Brian yang melihat tingkah agresif melodi langsung menghempaskan tangan melodi yang tiba-tiba merayap di dadanya.
"Bisa nggak kamu berlaku sopan di hadapan saya !! Jangan mentang-mentang saya masih memperlakukan kamu dengan baik, kamu malah bertingkah seenaknya saja. Kamu pikir aku tidak bisa berlaku kasar kepadamu hah !!" Ujar Brian yang sudah mulai geram dengan tingkah laku melodi.
"Ih.. kak Brayen... Mulai sekarang kita itu harus belajar harmonis dan romantis. Karena sebentar lagi kita kan akan jadi suami istri Kak.." ujar melodi dengan tidak tahu dirinya. Melihat melodi bergeliat manja di lengannya, lagi-lagi Brian menghempaskan tangan melodi dari tubuhnya.
"Jangan mimpi kamu Mel !! Sampai kapanpun tidak akan ada yang namanya pernikahan di antara kita. Jika kamu mengotot ingin menikah denganku, maka menikah saja dengan orang yang menyetujuinya. Ingat !! jika kamu orangnya nekat, maka aku akan jauh lebih nekat. paham kan..!!" Ujar Brian menekan kata-katanya terhadap melodi.
Dia tidak ingin bertingkah halus dan memperhatikan perasaan melodi. Justru saat ini, dirinya harus bersikap tegas agar di kemudian hari tidak dikecoh lagi. Melodi yang mendengar penuturan Brian langsung memasang wajah sendu.
"Kak. melodi salah apa sih..!! Setiap saat Kakak selalu menolak keberadaan melodi. Asal kakak tau, aku sudah mengejar Kakak sedari kita kecil. Bahkan aku sudah mengklaim Kakak sebagai calon suami aku. Dan aku juga tidak akan menyerah begitu saja mendapatkan penolakanmu." Ujar melodi kembali menekankan suaranya lagi. Brian yang mendengar penuturan melodi langsung berdecak kesal.
"Dengar ya Mel, aku tidak peduli dengan prinsipmu dan bahkan kamu sudah mengklaim diriku. Aku tidak butuh itu. Dan asal kamu tahu, dan bahkan ini sudah berulang kali aku jelaskan kepadamu. Kalau aku memberikan perhatian ku kepadamu, itu hanya sebatas kakak kepada adiknya dan itu tidak lebih. Jika kamu benar mencintaiku, sebaiknya kamu lupakan saja perasaan itu. karena sampai kapanpun, kamu tidak akan ada dalam hatiku. Sekarang aku malas berdebat denganmu, aku mohon segera tinggalkan ruanganku dan keluar dari kantor ini." Ujar Brian sambil menunjuk arah pintu.
Kemudian ia langsung membelakangi melodi. Brian berharap melodi akan mengerti maksudnya. tetapi ternyata tidak sama sekali. Justru setelah Brian membelakangi melodi, melodi malah berjalan mendekat dan memeluk Brian dari arah belakang.
"Kak. aku mohon, kali ini jangan tolak diriku. Aku benar-benar sangat mencintaimu." Brian yang mendapatkan pelukan seperti itu sontak menjadi marah.
Bahkan telinganya sudah memerah. Dengan kasar dan kuat, ia langsung menghempaskan tangan melodi dari tubuhnya. Bahkan Brian Tak segan-segan menyeret melodi keluar dari ruangannya dengan tangannya sendiri. Ia tidak peduli, Apakah melodi kesakitan dan bahkan meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Sungguh kesabarannya selama ini telah habis melihat tingkah laku melodi yang semakin hari semakin kurang ajar.
Bugh
"Pergi kau dari sini !! Dan jangan pernah menampakan wajahmu lagi. Dan ingat, tidak akan pernah ada pernikahan di antara kita." Ujar Brian lagi menekankan hal itu kepada melodi.
Bahkan pertengkaran melodi dan Bryan disaksikan sendiri oleh sang sekretarisnya. Melodi yang tidak terima mendengar ucapan dari Brian langsung bangkit dan membalas perkataan Brian.
"Aku tidak peduli Kak.!! Dan aku akan mengatakan hal ini kepada tante Sofia. Aku juga akan mendesak papa dan Om Herman untuk mempercepat pertunangan kita." Ujar melodi lagi tidak mau kalah.