
Bukan tidak sanggup untuk menghadapi keluarga atau kakak-kakak Julia, hanya saja Brian harus memperbaiki sifat dan tingkah lakunya terlebih dahulu, sebelum berhadapan dengan kakak-kakaknya itu untuk mendapatkan Restu. Lagi pula, informasi yang Brian dapatkan dari orang suruhannya bahwa saat ini Julia Masih betah menjomblo. Hal itulah yang membuat Brian sangat bersemangat ingin mengejar cinta Julia kembali.
"Tunggulah sayang, aku akan segera bertemu denganmu." Ujar Brian lagi dengan senyum mengembang di bibirnya.
Brian tidak bisa pergi sekarang, karena pekerjaannya saat ini, yang sepertinya tidak bisa ditinggal. Brian akan memutuskan pergi bertemu dengan Julia setelah pekerjaannya sedikit berkurang. Kini Brian kembali meletakkan benda pipih itu dan fokus kepada laptopnya.
***
Sementara itu, dikediaman Tuan Herman. Nyonya Sofia sudah menunggu kedatangan putranya selama seminggu ini. Tapi nyatanya Brian tak kunjung datang kediaman tersebut. Bahkan, nyonya Sofia berusaha menghubungi nomor dari Brian tetapi selalu tidak aktif. Ia bahkan menjadi cemas dan mondar-mandir sendiri.
"Ini anak ke mana sih... Dari tadi dihubungi tidak pernah aktif." Ujar nyonya Sofia sambil duduk dengan gelisah.
Tak lama setelah itu, Tuan Herman kembali pulang dari kantor. Wajahnya terlihat sangat kusut dan tak bersemangat. Nyonya Sofia yang melihat kedatangan suaminya langsung menyambut dengan baik serta menyuguhkan minuman untuknya. Tapi karena nyonya Sofia melihat tampang suaminya sepertinya kusut memberanikan diri untuk bertanya.
"Papa kenapa..?? Kok wajahnya kusut gitu..??" Tanya nyonya Sofia kepada suaminya. Tuan Herman mendudukkan tubuhnya di sofa dan menghela nafasnya.
"Gimana nggak Kusut ma... Pekerjaan di kantor banyak sekali. Dan selama seminggu ini, Brian telah melepaskan pekerjaan itu dan memberatkannya kepada Rio. Bryan juga sudah tidak masuk kerja. Tentu saja, memikirkan semua itu papa jadi pusing." Ujar Tuan Herman sambil memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing itu. Nyonya Sofia yang mendengar penuturan suaminya langsung terkejut.
"Apa pah..!! Sejak kapan Brian keluar dari perusahaan..??" Tanya nyonya Sofia kepada suaminya. Tuan Herman pun hanya mengedipkan barunya saja. Jujur saja, ia sangat tidak bersemangat mendengar alasan kenapa Brian memutuskan untuk berhenti mengurus perusahaan itu.
"Kurang tahu juga sih mah... Tapi alasannya Brian meninggalkan semuanya itu, karena kita selalu memaksa Brian untuk menikah dengan melody. sementara Brian sendiri tidak menyukai itu. Brian juga sudah berkali-kali bilang sama Mama juga kan, tapi mama tetap ngotot ingin menikahkan Brian dengan melodi atau menjodohkan mereka. Pusatnya ketika kemarin melodi pergi ke perusahaan dan bertemu dengan Brian. Di sana mereka cekcokan, aduh mulut bahkan Brian dengan kasarnya mengusir melodi dari ruangannya. Tapi melodi tetap ngotot akan membujuk kamu untuk bisa mendesak papa untuk menikahkan mereka. Mungkin karena itulah alasannya Brian memutuskan untuk pergi. Untuk lebih jelasnya sih, papa kurang tahu juga. Tapi papa juga sudah ingatin mama ya, jangan terlalu memaksakan kehendak kepada anak. Bukan papa tidak ingin yang terbaik, tapi anak itu yang menjalani semuanya bukan kita. Tugas kita hanya perlu memberi nasehat saja kepada mereka. Tapi ya sudahlah, biarkan saja Bryan berada di luar kalau dia nyaman. Papa mau masuk kamar dulu mau bersih-bersih." Ujar Tuan Herman dengan santai.
"Apa yang sudah aku lakukan kepada putraku sendiri. ternyata, tanpa sadar aku telah memaksakan kehendak ku kepadanya... Aku harus segera menghubunginya." Ujar nyonya Sofia lagi.
Walaupun nyonya Sofia selalu memaksakan kehendaknya untuk menjodohkan Brian dan melodi, tetapi bukan berarti ia tidak menyayangi Brian. Kalau sudah seperti ini, lalu harus bagaimana dan siapa yang harus disalahkan. Berkali-kali nyonya Sofia mencoba menghubungi nomor Brian, tetapi masih sama seperti tadi. tidak aktif sama sekali bahkan tak ada tanda-tanda bahwa nomor itu pernah aktif. Di saat yang seperti itu pula, melodi datang berkunjung ke rumah mereka. Apalagi kalau bukan untuk mencari Brian.
"Tante.. melodi datang..!!" Teriak melodi di rumah itu.
Melodi tidak peduli Apakah mereka akan menyukai kedatangannya atau tidak. Ia juga tidak peduli Apakah suaranya akan mengganggu aktivitas orang lain atau tidak. Nyonya Sofia yang mendengar teriakan melodi seperti biasanya entah kenapa menjadi kesal. apalagi saat ini perasaannya sedang mencemaskan putranya.
"Ngapain kamu ke sini melodi..!! Ada urusan apa lagi.." ujar nyonya Sofia entah kenapa ucapannya menjadi ketus seperti itu. Melodi yang mendapatkan penuturan ketus yang tidak seperti biasanya langsung mendekat dan mengerutkan keningnya.
"Ada apa Tante.. kenapa Tante mengatakan hal seperti itu kepada melodi.?? Bukankah melodi memang biasa datang ke rumah tante seperti ini. Oh iya, tante kak Brian ada nggak..?? Soalnya kemarin melodi ke kantor Tapi Kak briannya sedang tidak ada." Ujar melodi dengan wajah sendunya yang biasa membuat nyonya Sofia akan merasa iba dan kasihan kepadanya.
Tapi sepertinya, raut wajah yang seperti itu tidak mempan lagi bagi nyonya Sofia. Nyonya Sofia dengan cepat menyadari kesalahannya karena telah memaksa Putra satu-satunya untuk menikah dengan melodi perempuan yang tidak dicintainya. Bahkan Brian dengan terang-terangan memperlihatkan penolakan itu, tapi nyonya Sofia tetap bebal dan tidak mau menanggapi perasaan anaknya itu.
"Maaf melodi. Sepertinya kamu datang di waktu yang tidak tepat dan juga, tante katakan kepada kamu untuk tidak berharap lagi kepada Brian. Karena Brian memang tidak menyukaimu. Dulu Tante pikir Brian menolak karena belum ingin menikah. Tetapi sekarang Tante paham. Dan tante juga harap kamu dapat mengerti. Tante nggak bisa memaksakan kehendak yang tidak diinginkan oleh Brian dan mengorbankan kebahagiaannya hanya untuk kebahagiaan tante yang semu. Sementara anak tante menderita dengan pilihan tante. Jadi tante harap kamu mengerti ya, Dan tolong jangan cari Brian lagi." Ujar nyonya Sofia dengan nada santai namun penuh dengan penyesalan. Melodi yang mendengarkan penuturan nyonya Sofia seperti itu tentu saja tidak terima.
"Tante ngomong apa sih.. tante nggak bisa gitu dong. Aku dan kak Brian itu adalah pasangan yang cocok dan serasi. Aku juga nggak mungkin mencari dan menemukan pria lain selain Kak Brian. Dan aku juga hanya menginginkan Kak Brian yang menjadi pendamping hidup aku bukan orang lain. Jadi melodi nggak peduli tante, Apakah tante akan setuju atau tidak yang penting melodi akan terus mendesak kedua orang tua melodi untuk bertemu dengan keluarga Kak Brian. Dan kalau Kak Brian memang tidak mau, aku bisa melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkannya. Dan aku harap tante juga dapat mengerti. Mungkin melodi datang di waktu yang tidak tepat, kalau begitu Melodi pergi dulu." Ujar melodi lagi tetap kukuh pada pendiriannya.
nyonya Sofia yang mendengar penuturan Melodi seketika tidak percaya, apa lagi ketika melodi mengatakan, akan melakukan berbagai macam cara hanya untuk mendapatkan Brian. memikirkan itu semua, Membuat kepalanya tiba-tiba menjadi pusing.